Rabu, 13 November 2019


YBS Kembali Terbelah Dua

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 540
YBS Kembali Terbelah Dua

Grafis Koko

PONTIANAK, SP - Pemilihan Ketua Umum Yayasan Bhakti Suci (YBS) 2019 periode XXI masa bakti 2019-2024 mulai berlangsung hangat. Dua nama berebut “takhta”. Mereka adalah Ketua Umum Yayasan Tulus Budi, Susanto Muliawan Lim atau Lo Cun Hong, dan Ketua Yayasan Makmur, Yo Nguan Cua.

Dari informasi yang berhasil dihimpun, dua nama itu didukung tokoh besar. Yo Nguan Cua mendapat dukungan dari The Iu Sia atau Asia Jaya, mantan Ketua YBS periode 2011-2014. Sementara Susanto Muliawan Lim didukung Ketua YBS 2014-2019, Tjioe Kui Sim atau Hasyim. Dua tokoh besar itu sebelumnya bersaing dalam perebutan ketua YBS periode XX.

Yo Nguan Cua (64) merupakan Ketua Yayasan Makmur. Dalam proses pemilihan, dia sudah sosialisasi ke 62 yayasan di bawah naungan YBS. Dia yakin sudah banyak dikenal pengurus yayasan lain.

"Mungkin kita (pergerakan) banyak dirahasiakan, saya modelnya bukan yang gembar-gembor," ucapnya, Selasa (13/8).

Sebelum pencalonan, dia mengatakan sudah dekat dengan semua pengurus yayasan di Kota Pontianak. Dalam setiap kegiatan sosial dan lainnya, mereka saling bertemu dan komunikasi.

Yo Nguan Cua optimistis akan terpilih sebagai ketua YBS mendatang. Dia bukan orang baru dalam kegiatan sosial berbasis yayasan. Klaim suara dari calon lawannya pun diragukan.

“Kalau mereka (Susanto Muliawan Lim) sudah booking 40 (suara), saya hanya 20 lebih, tidak akan mungkin saya maju,” katanya. 

Pengusaha ini memastikan punya program unggulan yang beda dari rivalnya. Bila pihak sebelah ingin membangun gedung yayasan yang representatif, dia menyilakan. Namun, Yo Nguan Cua memastikan punya program sederhana yang pasti terealisasi. Salah satunya, mengangkat yayasan kecil di bawah YBS untuk sama-sama tumbuh dan menjadi besar. 

"Kita yakin program kita tidak hanya ngomong, tapi tulus dari hati bekerja," ucap lelaki yang sudah 14 tahun memimpin Yayasan Makmur tersebut.

Yo Nguan Cua mendaftarkan diri pada Selasa (6/8) lalu. Sebelum menyerahkan berkas pendaftaran di Sekretariat Panitia Jalan Gajahmada Pontianak, dia menyempatkan sembahyang dan berdoa. Dua hal itu bagi Yo Nguan Cua yang pertama dan utama dalam menjalani kehidupan.

Setidaknya ada tiga program wajib yang akan dilakukan, jika ia dipercaya memimpin YBS. Ketiganya adalah membangun krematorium, menyelesaikan masalah sertifikasi tanah yang pada periode sebelumnya belum terselesaikan, dan menyelesaikan jalan YBS. 

"Saya akan mengutamakan pada penataan masalah pekuburan dan surat-surat terkait yayasan. Tidak ada kata menyerah, kita harus berjuang bersama-sama,” tutur pria kelahiran 17 Januari 1955 ini.

“Mengingat umur yang sudah tidak muda lagi, maka saya memilih aktif berorganisasi saja. Saya ingin kembali mengabdi, sehingga maju menjadi Ketum YBS periode 21,” ungkapnya.

Yo Nguan Cua pernah menjabat sebagai Ketua 1 YBS, Wakil Ketua Perkumpulan Teo Chew, dan penasihat di Yayasan Pemadam Kebakaran Panca Bhakti. Dia juga aktif sebagai penasihat Perkumpulan Marga Yo Seluruh Indonesia sejak 2007, dan pernah menjadi penasihat Asosiasi Pemadam Kebakaran Swasta Kalbar serta Yayasan Budi Pekerti.   

Dia juga Ketua Harian Perkumpulan Ai Xin sejak 2013 dan menjabat Wakil Ketua Klenteng Chiang Kun Ya periode 2017-2020.   

“Untuk menjadi orang nomor satu di yayasan-yayasan tersebut tidaklah mudah. Saya mengalaminya sendiri, memulai jenjang karier dari bawah,” pungkasnya.

Suara Pemred mengonfirmasi The Iu Sia atau Asia Jaya terkait dukungannya. Namun yang bersangkutan enggan berkomentar.

Sementara pesaingnya, Susanto Muliawan Lim mengatakan pencalonannya sebagai ketua, untuk meningkatkan peran sosial kemasyarakatan warga Tionghoa di Kota Pontianak dan Kalbar. Dia sangat optimistis bisa terpilih.

"Yang memastikan mendukung, ya tentunya sudah banyak," ucapnya.

Susanto sudah mendekati para ketua dan pengurus yayasan lain di bawah naungan Bhakti Suci. Caranya dengan mengundang mereka dalam penyampaian program.

"Sudah ada tiga kali sosialisasi yang kami lakukan yaitu untuk yayasan di wilayah Kubu Raya dua kali dan yayasan di Kota Pontianak satu kali," katanya.

Dia mempunyai visi meningkatkan peran serta masyarakat Tionghoa dalam kegiatan sosial masyarakat. Misinya, membangun gedung Yayasan Bhakti Suci enam lantai sebagai perwujudan gedung bagi masyarakat Tionghoa, membangun gedung krematorium di lokasi TPU Yayasan Bhakti Suci, Pontianak Utara, dan menyelesaikan sertifikasi tanah YBS yang belum terselesaikan pada periode XX.

"Termasuk meningkatkan jalan beton di lokasi TPU YBS di Pontianak Utara," ucapnya.

Susanto mengklaim mendapat dukungan dari sejumlah tokoh. Di antaranya budayawan Tionghoa FX Asali, mantan Ketum YBS empat periode Abu Hasan, dan Tjioe Kui Sim selaku Ketua Dewan Pembina Yayasan Tulus Budi Pontianak, yang juga Ketua YBS saat ini.

Susanto Lim merupakan perwakilan dari Yayasan Tulus Budi Pontianak dan Yayasan Gema Setia. Ketika pendaftaran, dia mengklaim didukung 14 yayasan. Yayasan itu antara lain Yayasan Nilam, Tulus Budi, Gema Setia, Karya Bersama, Sepakat Bersama, Sia Thu, Upegoro, Budi Luhur, Drama Pala, Marga Liauw, Surya Agung, Budi Mulia, Budi Agung, dan Sinar Surya.

Penyelesai Masalah

Salah satu tokoh Tionghoa, Tony Wong mengungkapkan dirinya akan memilih calon ketua yang terbaik untuk YBS. Namun, nama pastinya tak disebut. Siapa pun yang dipilih, dia berharap bisa membawa perubahan ke depan.
"Kita harapkan, ketua YBS terpilih bisa menyelesaikan berbagai  permasalahan  antarwarga maupun antara warga dengan Pemerintah Kota, seperti kasus Pasar Flamboyan dan Khatulistiwa Plaza,” ujarnya.

Menurut Tony Wong, YBS sangat penting mendapatkan calon terbaik yang bisa menyatukan semua golongan. Artinya, mampu merukunkan semua warga. Ketua terpilih, kata dia, juga harus bisa meneruskan program-program yang belum dituntaskan oleh ketua sebelumnya. Seperti merapikan jalan-jalan sepanjang pekuburan. 

"Ketua terpilih harus mampu merangkul semua pihak, sehingga tidak ada blok-blokan. Baik yang menang maupun yang kalah, bisa bersatu kembali untuk kepentingan YBS ke depan," jelasnya.

Tony menjelaskan, sudah jadi budaya bahwa pemilihan ketua bersifat kompetisi. Tak pernah aklamasi. Ketua dipilih secara demokratis lewat pemilihan suara.

"YBS sangat demokratis, satu yayasan satu suara. Ke depan juga diharapkan YBS mengarahkan program sosial kepada masyarakat-masyarakat kota Pontianak," katanya.

Sekretaris Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Kalbar, Hendri berharap organisasinya dilibatkan dalam kerja-kerja YBS mendatang. Ketika The Iu Sia atau Asia Jaya menjadi ketua, mereka diajak dalam beragam kegiatan. Namun silaturahmi itu hilang usai periode Asia.

“Kami berharap dilibatkan dalam kegiatan YBS dengan ketua baru. Kami punya cita-cita membangun masjid bermotif budaya Tionghoa di Pontianak. Misalnya di tepi Sungai Kapuas agar menjadi ikon dan pusat wisata religius di Kalbar,” harapnya.

Organisasi Bersejarah

Sekretaris II YBS, Herry Sandra bercerita, yayasan ini didirikan oleh beberapa tokoh masyarakat Kalbar dengan latar belakang sosial dalam akte pendirian tahun 1966. YBS merupakan bagian dari penataan pemakaman di Kota Pontianak yang dimotori oleh Ibrahim Saleh dan DR. Soegeng, juga beberapa Kepala Dinas Provinsi Kalbar dan tokoh Tionghoa saat itu. 

Seiring perubahan waktu dan peralihan fungsi, maka diadakan perubahan akte menjadi yayasan sosial kemasyarakatan Tionghoa. Kini di dalamnya berhimpun 62 yayasan atau perkumpulan.

"Sejak berdiri sudah banyak kegiatan yang berkaitan masyarakat Tionghoa membantu pemerintah melaksanakan pembuatan Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI) bagi orang Tionghoa," ucapnya.

Sejak periode XVI hingga sekarang, pemilihan ketua YBS dilakukan secara terbuka. Ketua dipilih oleh yayasan-yayasan yang berhimpun di dalam Bhakti Suci. Tradisi ini terus berjalan walau dalam anggaran dasar organisasi, termuat poin ketua umum dipilih oleh dewan pembina.

"Tapi karena mempertahankan tradisi sampai sekarang ketua umum Yayasan Bhakti Suci tetap dipilih oleh 62 yayasan yang berhimpun di dalamnya," ucapnya.

Sebelum diadakan pemilihan secara terbuka melalui pemilihan langsung seperti sekarang, pemilihan ketua selalu aklamasi. Periodenya bervariasi mulai dari dua tahun, tiga tahun dan empat tahun dalam satu periode.

"Sekarang berdasarkan aturan, satu periode lima tahun. Kita mengikuti yang ada di anggaran dasar," katanya.

Perkara tarik menarik politik,  dia mengatakan YBS memiliki anggaran dasar dan anggaran rumah tangga. Di dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga tersebut, ketua umum tak boleh berpolitik. Artinya boleh berpolitik praktis, tapi tidak boleh membawa politik praktis tersebut ke dalam lembaga.

"Di dalam Yayasan Bhakti Suci sekarang ini pengurus boleh masuk partai mana saja, yang tidak boleh hanya ketua umum," katanya. 

Jika hal itu terjadi, akan terjadi kerepotan bila semuanya dikaitkan dengan politik. Dia pun menyebut yayasan tak bisa secara langsung terjun ke dalam satu politik tertentu. Pasalnya, pengurus yayasan berasal dari banyak partai.
Yayasan Bhakti Suci selalu menerima sumbang saran dari berbagai kalangan tokoh politik. Yayasan pun tidak anti terhadap politik.

"Semua kita terima dengan baik, cuma kalau mau dibawa ke dalam salah satu partai atau kontestan agak repot," jelasnya.

Diakuinya, sudah ada pengurus yang terjun ke partai tertentu. Hal ini diperbolehkan lantaran yayasan bergerak di bidang sosial. Tidak hanya soal politik, beragam agama pun dipersilakan masuk. Misalnya kini, ada yayasan dari agama Protestan.

"Bhakti Suci juga bekerja sama dengan dari kalangan Kristen, Islam, Budha, Hindu, semua agama yang diakui di negara Indonesia," pungkasnya. (din/iat/bls)