Kamis, 19 September 2019


Deteksi Dini Tekan Angka Gizi Buruk

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 67
Deteksi Dini Tekan Angka Gizi Buruk

FOTO BERSAMA - Peserta, panitia, dan narasumber orientasi tata laksana gizi buruk foto bersama Kadis Kesehatan Kalbar dan Kabid Kesmas Dinkes Kalbar.

PONTIANAK - Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, dr. Harisson, M.Kes., mengatakan bahwa kondisi gizi buruk pada anak tidak terjadi secara tiba-tiba, ada proses yang menyebabkan kondisi itu terjadi. 

“Deteksi dini oleh teman-teman di lapangan sangat diperlukan untuk menekan gizi buruk,” ujarnya di sela kegiatan orientasi Tata Laksana Gizi Buruk bagi Puskemas di Hotel Gajahmada Pontianak, Selasa (20/8).

Jika pada wilayah kerja petugas kesehatan ada posyandu, mereka dapat menggiring para ibu untuk rutin menimbang berat badan anaknya secara berkala di sana. Petugas perlu jeli jika ada anak yang menunjukkan gejala penurunan berat badan.

“Mereka harus intervensi sesegera dan sebaik mungkin, sehingga tidak ada istilahnya gizi kurang, bahkan gizi buruk. Perlu dilihat apa penyebabnya, apakah ada penyakit yang mendasari, sehingga terjadi gizi buruk atau hanya karena pola makan yang salah. Jika terdeteksi penyakit langsung ditangani di puskesmas. Jika dokter di puskesmas tidak mampu, bisa dirujuk pada dokter spesialis anak,” jelasnya.

Selain itu, petugas dapat mengajak bapak dan ibu di sana untuk meningkatkan peran sertanya. Bagaimana pola asuh anak, bagaimana cara memasak makanan yang benar, dan makanan apa yang bergizi untuk meningkatkan berat badan. 

“Yang penting, bagaimana kepekaan dan kepedulian petugas dalam upaya peningkatan gizi anak-anak dalam wilayah kerjanya,” ujar Harisson.

Tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan gizi di puskesmas perlu memahami tentang tata laksana gizi buruk, sehingga dapat menentukan diagnosis dan intervensi gizi dengan tepat dan cepat, baik pada pelayanan gizi perseorangan maupun gizi masyarakat. 

Tenaga yang memberikan pelayanan gizi puskesmas, idealnya adalah tenaga profesional yang memberikan pelayanan fungsional teknis mengenai layanan gizi, meliputi aspek asuhan, gizi klinis, asuhan gizi masyarakat, dan penyelenggaraan makanan sebagai substansi terapi pada pasien.

Sementara itu, ketua panitia kegiatan dan Ketua Bidang Kesehatan Masyarakat, Yuslius Jualang, S.Kep., MSi., menyampaikan bahwa orientasi ditujukan agar petugas mampu dan terampil dalam melakukan tata laksana gizi buruk secara komprehensif di puskesmas.

Orientasi berlangsung lima hari, 19-23 Agustus 2019. Kegiatan diikuti 28 peserta dari puskesmas, terdiri dari dokter dan pelaksana gizi dari 14 kabupaten/kota di Kalbar.

Terdapat delapan materi yang disampaikan dalam orientasi, antara lain kebijakan tata laksana anak gizi buruk, gangguan pertumbuhan dan tindak lanjutnya, praktik antropometri, tanda dan gejala klinis anak gizi buruk, terapi gizi pada anak gizi buruk, 10 langkah tata laksana anak gizi buruk sesuai lima kondisi klinis, dan praktik lapangan, yaitu kunjungan ke TFC Puskesmas Saigon. (mde)