Kamis, 19 September 2019


Tujuh Jemaah Haji Meninggal di Makkah

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 63
Tujuh Jemaah Haji Meninggal di Makkah

TAWAF – Jemaah haji sedang melaksanakan tawaf atau mengelilingi Kabah saat melaksanakan ibadah haji di Makkah. Rata kanan atau kiri boleh:

PONTIANAK, SP – Tujuh jemaah haji asal Kalimantan Barat meninggal saat menjalankan ibadah di Tanah Suci Makkah. Hal ini diungkapkan Kepala Kemenag Kalbar, Ridwansyah, Rabu (21/8). Diketahui, jumlah Jemaah haji asal Kalbar 2.727 orang.

"Sampai hari ini, ada tujuh orang haji kita yang meninggal saat menjalankan ibadah haji. Kita sudah menginformasikan kepada semua keluarganya dan untuk berbagai prosesnya sudah dilakukan," kata Ridwansyah.

Adapun tujuh orang haji Kalbar yang meninggal di Tanah Suci antara lain Satari Saroji Sangid asal Kabupaten Sintang yang meninggal di Makkah pada 2 Agustus 2019, Siswo Priyono Abdul Azis asal Kota Pontianak yang meninggal di Makkah pada 12 Agustus 2019.

Selanjutnya, Kasmirin M Djamiri asal Kota Singkawang yang meninggal di Makkah pada 13 Agustus 2019, Laintang Ahmad dari asal Kota Pontianak meninggal di Makkah pada 18 Agustus 2019.

Kemudian, Rabiah Yunus Binti Sipan asal Kota Pontianak meninggal di Makkah pada Agustus 2019, Mochtar Abdul Gani asal Kabupaten Kubu Raya meninggal di Makkah pada 18 Agustus 2019 dan Marzuki Ismail Bujang asal Kabupaten Kapuas Hulu meninggal di Makkah pada 19 Agustus.

Jemaah haji yang meninggal tersebut sudah diurus pemakamannya oleh muassasah (panitia penyelenggara haji). Jenazah jemaah haji yang meninggal biasanya dimakamkan di makam umum luar kota Makkah atau Madinah.

Pengurusan jenazah seperti memandikan, mengkafani, hingga menguburkan dilakukan oleh pihak penyelenggara pemulasaran jenazah yang dilakukan oleh yayasan-yayasan swasta di Arab Saudi dan bersifat gratis.

"Saya mewakili Kemenag Kalbar dan pribadi mengucapkan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya kepada keluarga jemaah haji yang meninggal. Kita doakan bersama, semoga jenazah almarhum/almarhumah mendapatkan tempat yang layak di sisi Allah dan menjadi haji yang mambrur," kata Ridwansyah. 

Ridwansyah melanjutkan, Jemaah haji asal Kalbar dijadwalkan tiba di Pontianak mulai 28 Agustus 2019. 

"Saat ini, jemaah haji telah menyelesaikan pelaksanaan ibadah haji. Untuk jemaah haji asal Kalbar akan mulai kembali ke tanah air dan tiba di Pontianak pada tanggal 28 Agustus sampai tanggal 15 September 2019," kata Ridwansyah.

Jemaah haji yang menurut jadwal tiba kembali di Tanah Air dari Tanah Suci di Arab Saudi pada 28 Agustus terdiri atas 441 orang yang berasal dari Kabupaten Landak, Melawi, Mempawah, Sanggau, dan Landak.

Pada 29 Agustus, tiba jemaah haji yang terdiri atas 443 orang dari Kabupaten Bengkayang, Ketapang, dan Kapuas Hulu. Kemudian, 439 orang dari Kabupaten Sekadau, Kayong Utara, dan Kubu Raya menyusul pada hari berikutnya.

Selanjutnya, pada 31 Agustus tiba jemaah haji sebanyak 431 orang dari Kota Singkawang, Kota Pontianak, Sintang, Bengkayang, Ketapang, Kapuas Hulu, Melawi dan Sanggau dijadwalkan kembali ke Tanah Air.

Jemaah haji yang terdiri atas 440 orang dari Kota Pontianak menyusul pada 1 September dan 440 orang asal Kabupaten Sambas dan Kota Pontianak dijadwalkan tiba pada hari berikutnya.

Terakhir, jemaah yang meliputi 93 orang dari Kabupaten Sintang, Melawi, Sekadau, Kubu Raya, Sambas, Kota Pontianak, Kabupaten Mempawah, dan Bengkayang dijadwalkan tiba pada 15 September.

Ridwansyah berharap seluruh jemaah haji asal Kalimantan Barat pulang ke Tanah Air dalam keadaan sehat dan memeroleh haji yang mabrur.

"Untuk kondisi jemaah haji kita, semuanya dalam kondisi sehat. Kalaupun ada beberapa yang sakit ringan, namun sudah mendapatkan perawatan maksimal dari petugas kesehatan yang ada di sana," kata Ridwansyah. (ant/bah)

Batin Mesti Tercerahkan

Tokoh Masyarakat Pontianak, Ismail berharap jemaah haji mendapat pencerahan batin usai melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci Makkah. 

“Pencerahan batin itu terlihat dari peningkatan ibadah dan semakin khusyuk serta peka dengan keadaan sosial,” kata Ismail. 
Ibadah yang berhubungan secara pribadi, misal salat, kata Ismail, dapat dilakukan oleh semua orang. Namun, ibadah sosial seperti membantu orang lain yang membutuhkan uluran tangan, perlu kekukuhan iman. 

“Mereka yang keagamannya kukuh atau baik akan menilai bahwa peribadatan pribadi dan peribadatan sosial sama belaka. Dampak dari peribadatan pribadi adalah lingkungan sosial,” kata Ismail. 

Dalam ayat Alquran, lanjut Ismail, disebutkan bahwa memuliakan atau menghormati tetangga adalah tanda keimanan seseorang. Wujud dari pencerahan batin yang dimaksud adalah lebih peka pada kondisi sekitar, dalam hal ini lingkungan terdekat adalah tetangga. 

“Kewajiban untuk memuliakan tetangga sebenarnya berlaku bagi seluruh umat muslim, baik yang berhaji maupum belum berhaji. Namun, bagi mereka yang telah menunaikan ibadah haji, mesti beroleh pencerahan batin. Satu di antara tindakan dari batin yang tercerahkan itu yakni peka atau responsif atas kondisi di lingkungan sekitar,” pungkas Ismail. (ben/bah)