Selasa, 15 Oktober 2019


Pernah Dilarang di Pontianak, Kini Wakili Indonesia di Oscar 2020

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 62
Pernah Dilarang di Pontianak, Kini Wakili Indonesia di Oscar 2020

ADEGAN – Salah satu potongan adegan film Kucumbu Tubuh Indahku garapan Garin Nugroho yang akan mewaliki Indonesia di Oscar 2020. Ist

Film 'Kucumbu Tubuh Indahku' dipilih untuk mewakili Indonesia di Oscar 2020 melalui kategori International Feature Film atau dulu dikenal sebagai Best Foreign Language Film. Garapan Garin Nugroho ini sempat dilarang tayang di bioskop oleh Wali Kota Pontianak dan Bupati Kubu Raya akhir April tahun ini.  

Dua kepala daerah ini sampai mengeluarkan surat keberatan pada Komisi Penyiaran Indonesia Kalbar untuk tidak mengizinkan pemutarannya tanggal 26 April 2019. Surat itu dibuat Bupati Muda Mahendra dan ditembuskan ke pengelola bioskop Transmart di Kubu Raya. Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono bertindak serupa. Film ini pun dipastikan tak tayang di bioskop.

"Setelah dilakukan penilaian dengan seksama, berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan, Indonesian Academy Awards 2019 menetapkan film berjudul ‘Kucumbu Tubuh Indahku’ sebagai film pilihan dan berhak mewakili Indonesia ke Academy Awards ke-92 untuk kategori International Feature Film," kata Sekretaris Komite Film Indonesia, Sheila Timothy dalam konferensi pers di XXI Lounge Plasa Senayan, Jakarta, Selasa (17/9).

Oscar 2020 sendiri akan digelar di Dolby Theatre Hollywood Los Angeles, 9 Februari 2020. Dengan keputusan ini, 'Kucumbu Tubuh Indahku' akan bersaing dengan 'Parasite' dari Korea Selatan dan 'Weathering with You' dari Jepang untuk menjadi nominasi kategori tersebut.

‘Kucumbu Tubuh Indahku’ bercerita tentang Juno yang bergabung dengan sanggar tari Lengger. Tak diduga tarian itu membuatnya menapaki perjalanan hidup yang berliku. Sampai pada akhirnya, Juno bisa memahami dan menerima keindahan hidup sebagai seorang penari Lengger.

Tari Lengger sendiri merupakan budaya asli Indonesia, tepatnya berasal dari Banyumas. Tarian itu mengharuskan penarinya menampilkan sisi maskulin dan feminin dalam satu tubuh. Biasanya tarian itu dipentaskan lelaki, yang di keseharian mengubah diri jadi perempuan. Mereka berlaku, berlenggok, dengan gemulai bak wanita sungguhan.

Film ini termasuk satu dari 42 film yang diseleksi oleh komite bentukan Persatuan Produser Film Indonesia yang dikepalai Firman Bintang. Christine Hakim yang menjabat sebagai Ketua Komite Film Indonesia menambahkan bahwa film itu dipilih karena memiliki paket lengkap.

"Kami sepakat memilih film Kucumbu Tubuh Indahku karena kami melihat bahwa dari film itu sebagai sebuah karya film lengkap. Film itu bukan hanya bahasa oral dan gambar saja, tapi ada bahasa batin dan rasa," paparnya.

Lebih lanjut, dia mencontohkan bahwa adegan percintaan dalam film ini digambarkan tidak seperti biasa sebagaimana orang bercinta yang vulgar.

"Tapi justru dengan idiom-idiom dalam budaya kita itu ada penari Lengger. Sekaligus ini perkenalkan kayanya budaya kita. Jadi ini yang kita lihat lengkap di samping pesannya yang kuat bicara tentang kemunafikan," kata Christine Hakim.

"Artinya orang yang membuat hukum itu justru melakukan lebih buruk lagi. Dan menganggap dunia ini milik sekelompok kecil saja, dan orang yang dianggap tak bermoral tidak boleh ada," lanjutnya.

Garin membuat Kucumbu Tubuh Indahku berdasarkan cerita hidup seorang penari Lengger, Rianto.

"Tubuh kita ini menyimpan ingatan. Rangkaian ingatan tersebut menjadi sebuah sejarah manusia, sejarah tubuh dan trauma-traumanya tersendiri yang bukan hanya personal, tapi juga merupakan representasi sosial dan politik yang dialami seorang individu," kata Garin dalam keterangan pers.

"Seorang penari Lengger yang harus menampilkan sisi maskulin dan feminin dalam satu tubuh adalah sebuah pergolakan ingatan tubuh yang sangat menantang," lanjutnya.

Kucumbu Tubuh Indahku yang tayang di Indonesia sejak 18 April lalu itu sudah mendapat beberapa penghargaan internasional, termasuk dari Italia, Prancis, Australia, dan Meksiko. Film itu juga sudah diputar di lebih dari 30 festival film di seluruh dunia. Namun memang dalam pentasnya di dalam negeri, mendapat sejumlah penolakan. Padahal, film ini telah lulus sensor Lembaga Film Indonesia.

Film tersebut sempat diliputi kontroversi karena menampilkan tema LGBT. Bahkan, sejumlah orang membuat petisi untuk memboikot film tersebut. Terkait hal itu, Christine mengatakan bahwa keputusan Komite Seleksi Fillm tidak ada kaitan dengan protes yang terjadi ataupun politik.

"Keputusan ini murni kita lihat sebagai karya film dan seni yang kami anggap pantas dan layak untuk mewakili Indonesia," katanya.

Sebelum memilih 'Kucumbu Tubuh Indahku' jadi wakil ke Oscar, pada tahun lalu Indonesia mengirim 'Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak'. Namun film itu belum mampu menembus persaingan dari ratusan negara lain berkompetisi sampai nominasi. (antara/balasa)