Sabtu, 19 Oktober 2019


Lumpuhkan Aktivitas Sekolah

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 79
Lumpuhkan Aktivitas Sekolah

PAKAI MASKER - Sejumlah siswa memakai masker saat berjalan menuju ke sekolah mereka, di sebuah daerah. Kebakaran lahan gambut menyebabkan sejumlah wilayah diselimuti kabut asap dengan jarak pandang semakin pendek.

KUBU RAYA, SP – Bencana kabut asap yang berlangsung panjang melumpuhkan aktivitas belajar-mengajar di sekolah. Kualitas udara tak sehat karena kabut asap itu memaksa sejumlah kepala daerah mengeluarkan surat edaran berisi libur sekolah. 

Satu di antaranya yakni Pemerintah Kabupaten Kubu Raya. Bupati Kubu Raya, Muda Mahendrawan harus menerbitkan Surat Edaran dengan nomor 420/1832/DIKBUD-A/2019 tentang Libur terkait Keadaan Cuaca/Kabut Asap.

Sedihnya, surat edaran libur sekolah itu sudah kali ketiga diterbitkan. Liburan sekolah terus diperpanjang hingga Kamis, 19 September 2019. 

Perpanjangan libur sekolah bagi peserta didik mulai dari PAUD/TK/SD/SMP Negeri dan swasta ini dengan melihat kondisi kabut asap yang belum normal dan tidak sehat, yang akan sangat membahayakan kesehatan murid di sekolah.

"Sebenarnya meliburkan sekolah ini merupakan keputusan yang berat buat saya selaku Bupati, namun demi menghindari dampak yang tidak baik bagi kesehatan anak-anak yang belum dewasa, karena sangat rentan terserang penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)," kata Muda Mahendrawan, kemarin.

Selain itu, dengan diliburkannya kembali sekolah ini, Muda juga meminta seluruh orang tua/wali peserta didik agar membimbing anak-anaknya belajar secara mandiri di rumah. 

"Saya juga minta kepada orang tua murid agar dapat memperhatikan kesehatan anaknya di rumah dan di masa libur kabut asap ini, orang tua juga harus mampu memberikan pendidikan dan ilmu pengetahuan kepada anak mereka masing-masing," tuturnya.

Muda berharap  kondisi cuaca dalam kategori tidak sehat ini tidak berlanjut dan semoga Allah menurunkan hujan merata membasahi Bumi Layar Meretas ini, sehingga anak-anak didik bisa kembali bersekolah untuk mengikuti proses belajar mengajar. 

Libur sekolah juga berlaku di Kota Pontianak. Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono mengatakan, aktivitas belajar mengajar, yang sebelumnya dijadwalkan masuk pada Rabu (18/9), kembali diundur. 

Untuk tingkat PAUD/TK dan SD, dijadwalkan masuk sekolah pada Senin (23/9). Sementara tingkat SMP dijadwalkan Kamis (19/9). 

"Besok (Kamis) SMP sudah masuk menyesuaikan dengan SMA," kata Edi. 

Edi juga mengerahkan seluruh jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di bawah Pemkot Pontianak untuk menanggulangi dampak bencana asap. 

Hal itu sebagaimana tertuang dalam surat edaran Wali Kota Pontianak Nomor 360/16/Umum/2019 tanggal 17 September 2019 tentang imbauan mengatasi dampak kemarau panjang dan kondisi udara yang buruk disebabkan asap. 

Edi menyatakan, dikeluarkannya surat edaran itu sebagai upaya antisipasi dalam rangka tanggap darurat bencana asap maupun kemarau. 

Hal itu dilakukannya melihat kondisi udara dan cuaca di Kota Pontianak akhir-akhir ini. Ia pun menginstruksikan jajarannya untuk siaga pada tugas dan fungsinya masing-masing. 

"Misalnya Dinas Pekerjaan Umum menyiapkan tandon-tandon air atau sekat kanal, Dinas Kesehatan menyiapkan ruang oksigen dan tanggap darurat jika dibutuhkan ambulan, BPBD juga memantau seluruh api," ujarnya usai salat Istiqa di halaman Kantor Gubernur Kalbar, Rabu (18/9).

Demikian pula Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pontianak diminta untuk selalu memantau titik api. Edi menyebut, untuk wilayah Kota Pontianak hampir tidak ada kebakaran lahan. 

Memang sempat ada kebakaran lahan, tapi masih terbilang spot kecil di pinggiran pada lahan gambut, namun cepat ditanggulangi dan dipadamkan. 

"Kita terus memantau sebagai antisipasi kebakaran lahan. Kalau ada laporan, kita langsung menuju ke lokasi untuk memadamkannya," jelas Edi.

Tujuh Rumah Oksigen 

Pemkot Pontianak juga menyediakan ruangan oksigen bagi warga yang mengalami sesak napas. Hal ini untuk mengantisipasi dampak warga yang terpapar akibat kabut asap yang kian pekat menyelimuti Kota Pontianak.

Tujuh lokasi yang ditunjuk sebagai ruangan oksigen yakni Dinkes Kota Pontianak, Puskesmas Gang Sehat, Puskesmas Alianyang, Puskesmas Perumnas I, Puskesmas Kampung Dalam dan Puskesmas Siantan Hilir. 

Edi mengatakan penyediaan ruangan oksigen karena melihat banyaknya masyarakat yang sesak akibat kabut asap. Hal itu yang mendasari pemerintah Kota Pontianak menyiapkan ruangan bebas asap yang disertai adanya oksigen.

"Masyarakat yang merasa terganggu pernapasannya segera datang, akan dilayani untuk menghirup oksigen yang bersih," ucap Edi saat melihat kesiapan ruang oksigen di Puskesmas Alianyang di Jalan Pangeran Natakesuma Kota Pontianak pada Selasa (17/9).

Edi mengatakan kondisi indeks pencemaran udara di Kota Pontianak tidak sehat bahkan sudah sangat tidak sehat. Indeks tersebut berfluktuasi, tergantung dari kiriman asap. Berdasarkan laporan ada, masyarakat yang sesak akibat dari kabut asap.

Ia menyampaikan ruangan oksigen disediakan gratis untuk seluruh masyarakat. Di ruangan tersebut akan diberikan pelayanan pemberian oksigen serta nebulizer untuk melegakan pernapasan. 

Ruangan oksigen diperuntukkan bagi pertolongan pertama pada gangguan pernapasan masyarakat.

"Kita akan perluas titik pelayanannya dan kita harapkan rumah sakit se Kota Pontianak menyiapkan ruang oksigen," katanya.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Pontianak, Sidiq Handanu mengatakan tujuan ruangan oksigen ini adalah sebagai pertolongan pertama apabila ada warga yang mengalami sesak napas. 

Bilamana ada yang mengalami sesak napas yang diakibatkan asma dampak dari asap, silakan dibawa ke ruangan oksigen yang ada di layanan kesehatan yang ditunjuk tersebut. 

Pelayanan rumah oksigen di tujuh lokasi tersebut gratis. Setiap warga bisa datang jika membutuhkan. Semua sebagai bentuk pertolongan pertama pada masyarakat yang mengalami sesak. 

Apabila kondisi pasien semakin parah sesak napasnya, lanjut Sidiq, maka segera dibawa fasilitas kesehatan yang lebih tinggi atau rumah sakit terdekat. 

“Jika harus dirawat ke rumah sakit, maka akan dilakukan tindakan selanjutnya. Di Puskesmas juga dipersiapkan alat bantu pernapasan yakni nebulizer dan pengobatan sederhana,” katanya.

Handanu menambahkan, jika kondisi semakin memburuk, Puskesmas akan memberikan pelayanan gawat darurat selama 24 jam. Kemudian, di Dinkes Kota Pontianak stand by tenaga kesehatan layanan 118 (nomor telepon layanan ambulan)  sebanyak dua petugas. 

Menurutnya, kalau melihat kondisi udara terkini memang sudah dalam kondisi tidak sehat. Untuk itu, pihaknya mengantisipasi bilamana kondisi tersebut terus berlanjut. Sebab dikhawatirkan tidak turun hujan. Kalau kondisi ini berlangsung lama, dipastikan kesehatan masyarakat akan terdampak. 

“Dengan kabut asap yang semakin tebal, maka fasilitas kesehatan akan membantu masyarakat selama dua puluh empat jam,” tutupnya. 

Dampak Monopoli Tanah
Bencana kabut asap juga memantik simpati mahasiswa asal Kalimantan dan Sumatera yang kuliah di Yogyakarta. Dikutip di tirto.id, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Yogyakarta (AMY) menggelar demonstrasi menuntut tanggung jawab pemerintah atas maraknya karhutla yang menyebabkan terjadinya kabut asap. 

"Praktik pembakaran hutan yang ada Kalimantan dan Sumatera itu murni rentetan dari monopoli tanah itu untuk perkebunan kepala sawit," kata Koordinator Umum Aksi Taufan Dwi Pratama, di Tugu Pal Putih Yogyakarta, Rabu (18/9). 

Ekspansi perkebunan kepala sawit besar-besaran yang terjadi saat ini, kata dia, menjadi penyebab utama pembukaan lahan baru untuk perkebunan. Lahan-lahan kemudian dimonopoli untuk perkebunan kepala sawit. 

Pembukaan lahan kepala sawit baru itu menurutnya kemudian yang membuat aksi pembakaran hutan dan lahan marak terjadi oleh korporasi yang memiliki izin konsesi lahan. 

Untuk itu, kata Taufan, dalam aksi ini pihaknya menuntut agar pemerintah menindak tegas korporasi yang terbukti dengan sengaja melakukan pembakaran lahan. 

"Kami menuntut agar dicabut hak guna usaha (HGU) kepada korporasi yang terbukti membakar hutan dan batasi memberikan izin kepada korporasi terkait," kata Taufan. 

Selain itu, massa aksi juga menuntut agar korporasi yang terkait dengan pembakaran hutan dan lahan tahun 2015 juga ditindak. Pasalnya, mereka menilai ada sejumlah korporasi yang masih belum ditindaklanjuti. (din/ant/tir/bah)

Kasus ISPA Meningkat

Dinas Kesehatan Kabupaten Kubu Raya mencatat, dari 20 Puskesmas di daerah itu terdapat 983 kasus infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) selama minggu pertama September 2019.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kubu Raya, Mahyudin mengatakan, kasus penyakit gangguan pernapasan ini terus meningkat dalam tiga bulan terakhir.

"Pada minggu pertama September, total kasus ISPA di Kubu Raya sebanyak 983 kasus. Jika dibanding pada periode yang sama di bulan sebelumnya, sepanjang Agustus terdapat 2.102 kasus, di Juli ada 1911 kasus," katanya.   

Artinya, kata dia, jika dilihat dalam satu bulan ada empat minggu, pada minggu pertama September saja total kasus ISPA sudah mencapai 983, dan pada akhir September nanti tidak menutup kemungkinan bisa bertambah hingga mencapai 3.000 kasus.

Untuk mencegah bertambahnya jumlah kasus ISPA di kabupaten itu, Mahyudin mengimbau masyarakat, khususnya anak-anak dan orang tua, untuk membatasi aktivitas di luar rumah.

"Kalaupun harus beraktivitas di luar rumah, harus gunakan masker. Selain itu harus lebih banyak mengonsumsi air putih, menjaga pola hidup bersih dan sehat," katanya.

Selain terus memberikan sosialisasi bagi masyarakat untuk mengantisipasi diri agar tidak terkena ISPA, Dinas kesehatan Kubu Raya juga bekerjasama dengan sejumlah pihak membagikan tujuh ribu masker secara gratis yang tersebar di enam titik wilayah Kubu Raya.

"Untuk menekan kasus ISPA ini, kita telah membagikan ribuan masker di enam lokasi di Kecamatan Sungai Raya. Yakni di simpang empat Polda Kalbar, simpang empat Asrama Gatot, areal Tugu Dirgantara Nusantara Lanud Supadio, simpang empat Pondok Indah Lestari, simpang empat Desa Kapur, dan di Jalan Arteri Supadio," terangnya.

Bagi masyarakat yang ingin mendapatkan masker secara gratis, bisa langsung menghubungi Dinas Kesehatan Kubu Raya.

"Silakan datang saja. Kalau memang masih ada ormas dan organisasi lainnya ingin masker dan kemudian dibagikan secara gratis, nanti akan kami data dulu. Selama persediaan masih ada, Insya Allah maskernya akan kami berikan," katanya. (ant/bah)