Sabtu, 19 Oktober 2019


Menembus Rp85 ribu-Rp100 Ribu Per Kilogram

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 84
Menembus Rp85 ribu-Rp100 Ribu Per Kilogram

CABAI – Harga cabai rawit di sejumlah pasar di Kota Pontianak terus naik. Akibatnya, omzet pedagang menurun karena daya beli masyarakat rendah.

Harga cabai rawit di sejumlah pasar di Kota Pontianak melejit tinggi. Pedagang menganggap kenaikan harga cabai itu karena musim kemarau yang panjang dan berdampak pada berkurangnya stok cabai di pasaran. 

Eli (26), satu di antara pedagang sayur di Pasar Dahlia di Jalan H Rais A Rahman mengatakan, sejak sebulan harga cabai rawit di kisaran Rp85 ribu – Rp100 ribu per kilogram. Harga itu naik Rp50 ribu dari harga normal. 

"Dari sebulan yang lalu harga cabai naik. Harga cabai naik, sayuran pun ikutan naik," kata Eli. 

Akibat kenaikan itu, omzet pedagang menurun karena konsumen mengurangi jumlah pembeliannya. 

“Hampir semua pedagang hanya mampu menyetok dalam jumlah sedikit. Kalau harus menyetok banyak, akhirnya busuk karena pelanggan saya yang biasanya beli satu kilogram, sekarang beli per ons," ungkap Eli.

Hal senada juga diungkapkan Rita (42). Dia terpaksa menaikkan harga cabai rawit untuk menyesuaikan harga yang dibelinya dari agen. 

"Kalau dari pasar Induk harga naik, kita juga naik karena menyesuaikan," kata Rita. 

Tingginya harga cabai itu dikeluhkan salah seorang konsumen, Cici (29). Cici mengatakan bahwa tak hanya cabai, harga sayuran pun turut naik. 

Cabai merupakan satu dari sepuluh komoditas yang mengalami kenaikan harga. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalbar, Pitono pada awal September lalu mengatakan, ada vsepuluh komoditas yang mengalami kenaikan. 

“10 komoditas yang naik yaitu cabai rawit, tarif rumah sakit, ikan kembung, obat dengan resep dokter, upah bukan tukang mandor, kacang panjang, uang kuliah, jeruk, emas perhiasan dan buncis," katanya.

Dari perbandingan antarkota di Kalimantan, posisi Kota Pontianak berada di posisi ke lima dari sembilan kota IHK (Indeks Harga Konsumen) di Kalimantan. Sedangkan dari 82 kota IHK, Kota Pontianak berada di peringkat ke -67.

Untuk tingkat inflasi tahun kalender Agustus 2019 sendiri sebesar 1,87 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun sebesar 2,88 persen.

Saat ini, di pasar Kota Pontianak untuk harga komoditas yang rentan terhadap kenaikan harga seperti ayam sudah normal. Harga ayam di pasaran bahkan ada di bawah Rp20.000 per kilogram. Harga ayam dikatakan stabil dan normal sekitar Rp25.000 per kilogram.

Untuk harga telur ayam ras saat ini juga stabil yakni di kisaran Rp1.300 - Rp1.600 per butir. Harga telur tidak mengalami gejolak. Begitu juga untuk aneka sayuran masih stabil.

Meski demikian, Pitono mengatakan, Kota Pontianak pada Agustus 2019 mengalami deflasi sebesar 0,35 persen, setelah bulan sebelumnya juga deflasi sebesar 0,10 persen.

"Deflasi yang ada karena ada terjadi penurunan harga dari beberapa kelompok pengeluaran atau komoditas," ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalbar, Pitono di Pontianak, Senin.

Ia merinci bahwa deflasi yang ada karena terjadi penurunan indeks pada dua kelompok pengeluaran yaitu kelompok bahan makanan sebesar 1,26 persen dan kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 1,59 persen.

"Sedangkan untuk lima kelompok lainnya mengalami kenaikan indeks namun tidak memiliki andil yang besar sehingga masih terjadi deflasi pada Agustus 2019 ini," kata dia.

Dari sisi komoditas, kata Pitono, 10 besar komoditas yang mengalami penurunan yaitu tari angkutan udara, sawi hijau, daging ayam ras, kangkung, bayam, bawang merah, sotong, bawang putih, wortel dan tomat sayur. (put/ana/ant/bah)