Sabtu, 19 Oktober 2019


Tangkal Radikalisme, Pemuda Ahmadiyah Kalbar Gelar Focus Group Discussion

Editor:

Aep Mulyanto

    |     Pembaca: 100
Tangkal Radikalisme, Pemuda Ahmadiyah Kalbar Gelar Focus Group Discussion

Majelis Khuddamul Ahmadiyah Indonesia Kalbar, menggelar Focus Group Discussion (FGD), Kamis (19/9/2019).

PONTIANAK, SP - Majelis Khuddamul Ahmadiyah Indonesia Kalbar, menggelar Focus Group Discussion (FGD). Mengusung Tema "Merawat Kebhinekaan Guna Memperkokoh Ideologi Pancasila Dari Ancaman Radikalisme Di Wilayah Kalbar".   

Majelis Khuddamul Ahmadiyah Indonesia Kalbar, merupakan organisasi Pemuda Ahmadiyah yang ada di Kalbar. Demikian kata Rizky Rafiq Ketua Pemuda Ahmadiyah Kalbar. Saat kegiatan di Hotel 95 Jalan Imam Bonjol Pontianak, Kamis (19/9/2019), mulai pukul 08.00 WIB.   

"Kami Pemuda Ahmadiyah yang bernaung dibawah Jamaah Ahmadiyah Indonesia, ingin turut berperan aktif dalam memberikan kontribusi ditengah-tengah keberagaman daerah Kalbar khususnya. Sesuai dengan tema yang kita usung kali ini", terangnya.   

"Sesuai dengan Visi dan Masi yang kami emban, yaitu menjadi mitra strategis pemerintah, aparat serta masyarakat. Kegiatan pagi ini merupakan wujud dari misi yang kami emban. Secara kelembagaan, seutuhnya tetap berpedoman kepada Falsafah bangsa dan negara yaitu Pancasila", tegasnya.   

Keberadaan Cabang Ahmadiyah di Kalbar sudah ada sejak tahun 1983, sering juga terbentuk nya Jamaah Ahmadiyah Indonesia dan secara otomatis terbentuk juga Pemuda Ahmadiyah.   

"Saat jumlah Jamaah Ahmadiyah di Kota Pontianak kurang lebih 60 orang. Alhamdulillah dalam menjalankan segala bentuk ibadah selama ini tidak ada hambatan. Selayaknya kami melaksanakan ibadah seperti umat Muslim lainnya", katanya.   

"Kami berharap kepada seluruh masyarakat Kalbar, untuk bersama-sama saling sinergis, dalam koridor Kebangsaan. Tanpa melihat perbedaan. Mari kita bersama-sama memberikan kontribusi terhadap bangsa Indonesia", harapnya.   

Mewakili Kapolda Kalbar, AKBP DR. H. Yusuf Setyadi Wadir, Dir Intelkam Polda Kalbar, menyambut baik FGD ini, bahwa dalam kegiatan ini. Topik FGD kali ini sangat bagus yaitu merawat kebhinekaan memperkokoh idiologi pancasila dari ancaman.    Ada 3 variabel dalam tema diatas yaitu kebhinekaan, pancasila dan radikalisme.  

"Variabel pertama Kebhinekaan dimana merujuk dari etimologinya yaitu keberagaman (suku, agama) yang bisa sampai ribuan jumlahnya diseluruh indonesia. Indonesia negara besar ke 5 dunia yang mempunyai kekayaan SDA yang luar biasa. Butuh yang luar biasa untuk menciptakan negara kuat. Luasnya wilayah indonesia sampai saat ini akur dan damai warganya dimana menjadi rujukan bagi negara lain," katanya.

Variabel kedua Idiologi pancasila dalam konsepnya para pahlawan sudah memikirkan apa idiologi indonesia yaitu pancasila. Untuk negara lain idiologi banyak sehingga banyak yang membawa konsepnya ke indonesia. Kita sepakat bahwa idiologi pancasila digunakan dalam bermasyarakat.  

Variabel ketiga ancaman radikalisme. Ancaman radikal positif yaitu contohnya merobohkan pemerintahan yang otoriter. Dalam pengertian negatif yaitu menggerakkan mobilisasi massa menjatuhkan pemerintahan yang sah dengan cara anarkis. Radikalisme sering didekatkan dengan teroris.   Sedangkan Organisasi Ahmadiyah sudah terbentuk sejak lama ditandai dengan adanya ijin dari pemerintah tahun 1953 hanya diperlukan komunikasi agar tidak ada saling curiga.  

Akhir kata sambutan dirinya berpesan bahwa, sudah menjadi kesepakatan para pendiri bangsa Indonesia. Ideologi apa yang tepat, untuk keberagaman di Indonesia. Keterbukaan Indonesia, tidak menutup Ideologi lain masuk dan dianut masyarakat. Salah satunya adalah ajaran Ahmadiyah.  

Kapolda berharap, bahwa setelah kegiatan ini, supaya dapat menghasilkan Ouput berupa Program nyata yang melibatkan Pemerintah dan Kepolisian umpanya. Sehingga bermanfaat bagi masyarakat dan menumbuhkan kepercayaan masyarakat, bahwa Ahmadiyah bukan ajaran yang menyimpang .   

Hal senada juga diucapkan Kepala Kesbangpol Kota Kontianak Rizal Al Muthahar, S.Sos mengatakan, bahwa sampai saat ini Belum ada larangan dari pemerintah adanya jamaah Ahmadiyah di kalimantan barat jadi masyarakat tidak perlu takut, banyak aliran agama, suku di indonesia, dan bahwa semua dipersatukan oleh pancasila  

"Silahkan beroganisasi asalkan sesuai dengan Ad Art yang berazaskan Pancasila, pasti aman di masyarakat, apabila menyimpang pemerintah akan membekukan organisasi tersebut. Kesbangpol berharap narasumber Ahmadiyah dapat menyampaikan informasi secara menyeluruh agar masyarakat mengetahui tentang Ahmadiyah," ujarnya.  

Dirinya berharap agar Ahmadiyah tidak mengeklusifkan Diri, kecuali di dalam internal, mendekatkan diri ke pemerintah, kemasyarakat dan organisasi lainnya.  

Pengurus Pusat Ahmadiyah Indonesia, Mahmud Mubarik bercerita sekilas tentang sejarah Ahmadiyah dalam perjuangan bangsa Indonesia mencapai kemerdekaan. Seperti pada masa perjuangan, Khalifah Ahmadiyah ke- 2 Hazrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad pernah menganjurkan kepada Jamaah Ahmadiyah seluruh dunia, agar melaksanakan Puasa Senin Kamis, dan berdoa agar bangsa Indonesia diberikan kekuatan dalam mempertahankan kemerdekaan.  

Mengajak seluruh Jamaah Ahmadiyah seluruh dunia agar meng kampanyekan kemerdekaan Indonesia. Beliau juga mengatakan bahwa perjuangan Bangsa Indonesia, membawa manfaat bagi umat Muslim.   

"Ajakan Hazrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad, telah membangkitkan Inspirasi bagi Ahmadiyah Indonesia untuk bergerak bersama Ahmadiyah di dunia agar sama-sama berjuang untuk kemerdekaan Indonesia", ulasanya.   

Keberadaan Organisasi Ahmadiyah Indonesia telah diakui negara melalui Badan Hukum yang tertuang dalam Penetapan Menteri Kehakiman tanggal 23 Maret 1953 No. J. A5/23/13 serta dalam Berita Negara RI, no. 26, tgl. 31-3-1953.   

"Dalam konteks kekinian, selama ini kami melaksanakan aktivitas kemanusiaan, yaitu pendidikan, kesehatan, bencana alam. Perlu di garis bawahi, walaupun kami Khilafah, namun kami tidak berpolitik. Bukan organisasi yang mengusung khilafah, yang dilarang pemerinta dan bertentangan dengan Pancasila. Kami tidak berpolitik. Murni spiritual. Ini yang membedakan dari Ideologi Khilafah yang lain", tegasnya.   

"Ada masyarakat alergi ketika mendengar tentang Ahmadiyah, kami memaklumi ketidaktahuan sebagian orang. Dirinya mengajak masyarakat berpikir terbuka. Tidak perlu ada kekhawatiran terhadap ajaran Ahmadiyah. Karena Ahmadiyah juga bagian dari Islam. Anggapan seperti ini, yang membuat kami merasa di Eksklusifkan", ungkapnya.   

Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Kepala Kesbangpol Kalbar, Tokoh Pemuda, Tokoh Masyarakat, Organisasi Mahasiswa Cipayung Plus, serta BEM Untan. (arief)