Sabtu, 19 Oktober 2019


Pendirian 1.120 Butir Telur Pecahkan Rekor MURI

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 70
Pendirian 1.120 Butir Telur Pecahkan Rekor MURI

DIRIKAN TELUR – Sejumlah telur didirikan pada festival kulminasi di Tugu Khatulistiwa Kota Pontianak, Minggu (22/9). Ist

PONTIANAK, SP - Pendirian telur sebanyak 1.120 butir pada kegiatan kulminasi di di Tugu Khatulistiwa Kota Pontianak berhasil memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), Minggu (22/9). Rekor sebelumnya dipegang Kota Medan dengan 999 butir telur. 

 

Fenomena kulminasi inipun dikagumi sejumlah wisatawan asing. Prosesi pendirian telur di titik nol derajat bumi menjadi salah satu hal yang unik bagi mereka.

 

Wisatawan asal Amerika Serikat, Mark Raccuia mengatakan keberadaan even kulminasi sangat unik dan menarik. Keramahan masyarakat Kota Pontianak juga menjadi salah satu hal yang membuat dirinya terkesan. Kuliner Kota Pontianak juga diakuinya lezat. 


Mark menyampaikan dirinya akan kembali lagi ke Kota Pontianak pada tahun depan untuk mengikuti Pontianak International Dragon Boat. Namun, ia berharap agar pada pelaksanaan kedepannya tidak bersamaan pada kabut asap.


"Semoga tahun depan tidak ada lagi asap seperti saat ini," ucap Mark saat diwawancarai pada saat even kulminasi di Tugu Khatulistiwa Kota Pontianak pada Minggu (22/9).


Dirinya merasa senang berada di Kota Pontianak karena banya hal unik yang dia temui yang tidak ada di negaranya.

 

Pemecahan rekor mendirikan telur terbanyak dinilainya sebagai hal yang langka. Pendirian telur pada saat matahari tepat berada di atas kepala tepat pukul 11.36 WIB diakui wisatawan asing sebagai hal yang luar biasa dengan jumlah ribuan telur bisa berdiri tegak.  


Sementara Wisatawan asal Australia, Peter mengatakan even yang diselenggarakan Kota Pontianak sangat sangat fantastis, mulai dari Pontianak International Dragon Boat, Khatulistiwa Run hingga Kulminasi.

 

Dalam even kulminasi, menurutnya ada hal yang menarik yakni pemecahan rekor mendirikan telur terbanyak dengan jumlah yang fantastis mencapai seribu lebih.

 

"Saya ke sini sebagai peserta PIDB. Saya pertama kalinya ke Pontianak," ucap Peter.


Peter memastikan akan kembali datang ke Kota Pontianak. Namun dirinya berharap ke depan tidak ada lagi kabut asap seperti saat ini. Kondisi asap dinilainya sangat berpengaruh terhadap even yang diselenggarakan.


Di saat yang sama, Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono mengatakan fenomena alam kulminasi ini terus digelorakan karena Kota Pontianak merupakan satu-satunya kota yang tepat berada di titik nol derajat matahari.

 

Pihaknya akan terus mengembangkan agar menjadi wisata alam dan bisa menarik wisatawan dengan barbagai kegiatan.

 

Dirinya mengklaim penyelenggaraan festival kulminasi semakin tahun semakin menarik. Pemerintah Kota Pontianak akan terus berinovasi dengan menciptakan kreativitas untuk memanfaatkan potensi keberadaan Tugu Khatulistiwa, terutama momentum kulminasi agar menjadi even tetap Kota Pontianak. 


"Pesona kulminasi akan dijadikan sport tourism dan budaya, sehingga banyak turis asing yang datang, kunjungan warga lokal tersendiri juga meningkat," ucap Edi.


Ia mennambahkan kolaborasi dengan berbagai pihak termasuk Polda Kalbar, Kodam XII Tanjungpura, Lantamal XII Pontianak juga dilakukan dengan baik sehingga kegiatan berlangsung lancar.

 

Dikatakan, tahun ini festival kulminasi dirangkaikan dengan Pontianak Internasional Dragon Boat serta Khatulistiwa Run. Serta pemecahan rekor muri dalam mendirikan telur terbanyak.


Wisatawan asing juga lumayan banyak hadir. Pemerintah terus mencarikan kemasan menarik agar turis asing mau datang lagi. Salah satuhnya dengan sejumlah even. Anggaran yang disiapkan tidak terlalu besar, hanya 500 juta rupiah. 


"Tahun depan Pontianak Internasional Dragon Boat dan Khatulistiwa Run tetap akan diselenggarakan," kata Edi.


Edi mengakui kendala cuaca juga menjadi permasalahan sehingga banyak wisatawan yang ingin datang membatalkan diri.

 

"Kabut asap yang terjadi saat ini juga akan menjadi satu hal yang dievaluasi Pemerintah Kota Pontianak," pungkas Edi. (dino/bah)