Selasa, 12 November 2019


Ada Tuyul di Bank BTN

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 1820
Ada Tuyul di Bank BTN

Grafis Koko

PONTIANAK, SP – Mantan Marketing Founding Bank BTN Cabang Pontianak, Gita Atma Nagara yang dijadikan tersangka dalam kasus penggelapan dana Lantang Tipo Rp15 miliar merasa dirinya dikambing hitamkan dalam kasus ini.

"Sejak berstatus saksi hingga dijadikan tersangka, banyak sekali keanehan dan kejanggalan dalam proses hukum tersebut. Dirinya menilai proses hukum ini seperti dikondisikan," ungkap Gita.

Bahkan, satu di antara keanehan yang paling dia ingat adalah ketika Kapolda Kalbar, Irjen Pol Didi Haryono menemuinya di ruang penyidik Krimsus Polda Kalbar setelah dirinya berstatus tersangkat.

“Kapolda pernah menemui saya di ruang penyidik. Dia bilang seperti ini  ‘Ya udah bantu saja proses penyelidikan, akui saja,” tirunya ucapan Kapolda saat itu kepada Suara Pemred, Kamis (3/10)

“Apa yang mau saya akui, saya tidak pernah melakukan kesalahan apapun dalam kasus ini,” tegasnya lagi.

Dirinya mempertanyakan, mengapa Kapolda turun tangan dalam kasus ini dan mendatangi dirinya.

“Saya ini orang biasa, masyarakat biasa. Orang lain saja kalau mau ketemu Pak Kapolda susah-susah, ini saya didatangi. Saya bingung,” ungkapnya.

Bukan hanya itu, ketika sudah menjalani proses masa hukuman di Rutan Klas II A Pontianak, beberapa waktu lalu Waka Polda juga sempat menghampirinya di sel tahanan.

“Beliau hanya nanya ‘kamu yang kasus BTN itu ya’, saya jawab iya.” tirunya lagi.

Dia bercerita, kasus ini berawal semenjak dirinya diangkat menjadi marketing founding di bank plat merah itu. Sebelumnya ia direkrut sebagai Kepala Kas di Kantor BTN Kota Baru selama enam bulan melalui jalur rekrutmen profesional hire. 

Posisi jabatan ini dinilai sangat jauh turun, padahal dia merasa selama bertugas dirinya tidak pernah melakukan kesalahan apapun. 

"Saat itu seperti dipaksa menjadi marketing founding," ungkapnya. 

Dalam posisi jabatan baru ini, dirinya ditargetkan harus mencari nasabah baru untuk buka tabungan. Sesuai dengan gaji yang lumayan tinggi, dirinya pun bekerja luar biasa dalam mencari nasabah yang akan membuka tabungan dengan dana yang besar. Pada proses itu, akhirnya ia bertemu dengan ketua pengurus Lantang Tipo. 

Namun dikarenakan dirinya belum memahami maintenance dan lain sebagainya, maka saat bertemu dengan klien yang besar, di dalam struktur organisasi BTN memiliki SOP yang mengharuskan membawa pimpinan BTN dalam hal ini pimpinan Officer Development Program (ODP). Tugasnya untuk pendampingan serta negosiasi. 

"Dan saat itu kepala cabang Lantang Tipo setuju dengan produk yang ditawarkan oleh pimpinan kami. Saya hanya buka pintu saja, itu komunikasi awal," tuturnya. 

Di saat bersamaan, kondisi penempatan dana Lantang Tipo saat itu telah jatuh tempo di tempat lain. Di lain sisi, Lantang Tipo juga memiliki banyak dana kas berlebih yang tak terpakai. 

"Karena ini calon prospek, dan kami marketing, pimpinan kami mewajibkan kami yang jemput bola, nasabah itu tidak boleh datang ke kantor dengan alasan lokasi kantor BTN tidak memadai dan tidak strategis, akhirnya kami yang turun ke lapangan untuk penetrasi di pasar karena persaingan di pasar cukup kuat," ujarnya. 

Kala itu, bunga tabungan di atas rata-rata sebab hampir kebanyakan nasabah Bank BTN adalah koperasi. Mulai dari Keling Kumang, CU Pancur Kasih dan lain sebagainya. 

Proses penawaran ke nasabah selanjutnya melalui telepon. Dan surat penawaran ini dikeluarkan oleh ODP, sementara tugas dirinya hanya mengantarkan penawaran tersebut. 

"Saya ini hanya perantara bank dan nasabah. Produk-produk ini sudah disiapkan, dan kita berangkat ke Sanggau untuk nego ditemani pimpinan," katanya.

Dia menyebutkan yang dipermasalahkan dalam persidangan itu mengenai pembukaan rekening tersebut, yang mana tidak dilakukan di kantor cabang namun melalui telepon. 

"Sedangkan untuk pembukaan rekening seperti itu harus melalui kepala cabang, karena kita beda divisi, pembukaan rekening di customer service, sementara saya di marketing. Perbedaannya jauh. Tupoksi dan job deskripsinya beda," kata dia. 

Artinya, dalam proses pembukaan bank by phone ini harus ada campur tangan pimpinan agar divisi tersebut saling berkoordinasi. 

Kata dia, setiap kali pembukaan buku tabungan nasabah, dirinya selalu mengembalikan buku tabungan itu ke nasabah melalui kantor cabang bank BTN di Jeruju. 

Saat itu setidaknya empat kali pembukaan buku tabungan dengan nominal Rp15 juta pertama, kedua Rp20 juta, ketiga Rp15 juta dan keempat Rp20 juta. 

"Maintanance dana ini yang diperebutkan. Di sanakan (BTN) ada dua divisi, saya di divisi founding regular dan satu lagi divisi founding proritas. Beda divisi namun targetnya sama," ungkapnya. 

Karena targetnya saling bersinggungan dan besarnya sama, jadi setiap kali dirinya mendapatkan nasabah yang besar, maintenance itu selalu diserahkannya ke devisi prioritas agar mendapatkan layanan prioritas.

Namun celakanya, dalam pengelolaan dana maintenance di divisi prioritas ini banyak digunakan tanpa sepengetahuan nasabah atau disalahgunakan. Bahkan angka dugaan penyalahgunaan itu mencapai Rp3 miliar lebih.

“Misalnya gini, targetnya salah, kita mau ngasi handpone ni, kita laporin handpone (dalam laporan) tapi yang dikasi berbeda, hanya kue, duitnya dimakan,” contohnya.

Penyalahgunaan dana maintanace nasabah ini pertamakali diketahuinya, saat dirinya meminta buku maintenance nasabah untuk memesan kue ulang tahun. Kata dia setiap kali penarikan dana maintenance untuk kebutuhan apa pun buku itu harus diisi.

“Kan saya ada pesanin kue ulang tahun, dan harus diisi, karena duit keluar itu harus dikembalikan. Misalnya uang muka 400, maka harus kita kembalikan dengan bon. Kan kita catat tu officernya, nah di situ, saya iseng saya buka kok banyak sekali Lantang Tipo hampir Rp3 miliar lebih,” ungkapnya.

Berangkat dari itu, dirinya pun melaporkan hal ini ke auditor sebab merasa nama nasabahnya dicatut dan merasa tidak pernah mengantarkan barang-barang yang dicatat dalam buku tersebut ke nasabah.

“Dalam audit itu didapati bahwa dalam divisi prioritas banyak selisih dana maintenance nasabah, dan yang paling banyak pencairannya adalah pada Lantang Tipo. Padahal jika ditotalkan (pencairan dana maintanace) tak sampai Rp1 miliar. Yang punya wewenang ini kepala cabang prioritas, yakni priottas Banking Manager (PBM),” kata dia.

Sementara dana yang raib sebesar Rp15 miliar itu merupakan jenis tabungan deposito berbunga besar. Ketika telah jatuh tempo, nasabah Lantang Tipo belum mengeluarkan keputusan untuk perpanjangan atau tidak karena ada pergantian ketua pengurus. Sedangkan dana di rekening nasabah standby.

Dalam pembuatan buku tabungan, Lantang Tipo, kata dia, tidak menggunakan nama perusahaan namun dengan nama pribadi. Dan dirinya menyarakan agar menggunakan dua nama. Alasannya untuk mewanti-wanti jika terjadi sesuatu terhadap satu nama, maka nama yang lain masih bisa memback up.

"Kalau pakai satu nama itu terlalu berisiko, jika terjadi sesuatu pada orang inikan bakalan panjang urusannya, maka harus dua. Dan yang menyarankan nama pribadi adalah pimpinan saya, alasannya pimpinan saya bilang jika pakai nama perusahaan tidak akan dapat bunga spesial. Jadi akhirnya pakai nama pribadi padahal harusnya pakai nama perusahaan,” katanya.

Anehnya, pada persidangan kasus itu Head Teller Bank BTN mengklaim mendapatkan telepon dari dirinya yang mengatakan bahwa akan ada nasabah yang akan melakukan pengiriman atau penarikan uang sebesar Rp15 miliar. Sementara dia menyebut dirinya tidak pernah menghubungi head teller atas pernyataan itu. Bahkan dalam meja persidangan, klaim inipun tak bisa dibuktikan oleh head teller tersebut.

“Dan yang paling aneh proses itu tidak lama (pencairan), dari riwayatnya di bawah lima menit, padahal normalnya dengan pencairan uang sebesar itu bisa sampai setengah jam bahkan satu jam,” jelasnya.

Dengan waktu yang relatif sebentar ini bagi dia tidak masuk akal, apalagi secara umum proses pencairan dana nasabah itu harus melalui beberapa tahap, mulai dari diberikannya buku tabungan nasabah dan ATM ke teller serta menginput lembaran pencairan sebab pencairan di atas Rp100 juta.

Tak sampai di situ, nasabah juga harus menyelesaikan proses administrasi seperti penandatangan dan lain sebagainya sebelum akhirnya masuk pada proses negosiasi antara nasabah dengan pihak bank mengenai pencairan dana tersebut.

Dia mengatakan, dalam proses pencairannya pun harus dikoordinasikan head teller kepada dirinya. Apalagi dengan nominal yang cukup besar.

“Setiap kali penarikan harus ada koordinasi, jangankan Rp15 miliar, serratus juta saja harus dikoordinassikan untuk melobi. Ini Rp15 miliar tidak ada koordinasi,” tegasnya.

“Dalam proses pencairan ini banyak yang janggal, namun kita angkat pada fakta persidangan pun tidak dipandang sama hakim,” katanya lagi.

Kejanggalan yang dia maksud adalah tidak adanya konfirmasi melalui telepon ke nasabah mengenai pencairan dana tersebut. Kedua beralasan kode buku tabungan sama. Padahal setiap buku tabungan memilik kode rahasia. Artinya penggandaan terhadap buku tabungan tidak akan bisa dilakukan karena ada angka seri rahasia.

Dalam kasus ini, bukan hanya dia saja yang terserat namun abang serta kakak kandungnya ikut serta divonis hukum dengan dugaan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Alasan penetapan itu sebab ada ditemuinya transfer uang sebesar Rp80 juta dari rekening dia ke abang kandungnya, sebelum akhirnya dikirim lagi ke kakak kandungnya.

“Saya kirim Rp80 juta untuk nikah abang saya dan tranfer lagi ke kakak. Kemudian meraka dianggap TPPU, padahal uang itu sudah ada sejak 2017. Anehnya lagi barang-barnag yang saya beli dengan uang dari hasil bisnis jual beli mobil dulu disita negara seperti kamera, hp dan mobil,” tutupnya. 

Sementara itu, upaya konfirmasi yang dilakukan Suara Pemred hingga berita ini diturunkan masih buntu. Pasalnya, pihak yang berwenang menjawab persoalan ini tidak berada di tempat.

Segera Kembalikan

CU Lantang Lipo melalui kuasa hukum yang terdiri dari Daniel Tangkaw, Agus dkk, berharap Bank BTN segera mengembalikan uang nasabah. Terlebih, Pengadilan Tinggi Pontianak mengeluarkan putusan, Nomor 153/pdt:G/2018/PNTK Tanggal 16 April 2019, berbunyi mengungatkan putusan Pengadilan Negeri soal kewajiban Bank BTN, agar mengembalikan uang nasabah.

"Total dana materil dan inmateril berjumlah Rp30 miliar," ujar Daniel.

Dana tersebut, ungkap Agus selaku kuasa hukum Lantang Tipo lainnya menerangkan, bahwa merupakan uang tabungan dari anggota CU. Diketahui, anggota Lantang Tipo berjumlah 119 ribu orang yang beredar di 11 kabupaten di Kalbar. BTN sebagai bank berplat merah dipercayai sebagai wadah penyimpanan.

"Kasian, itu tabuhan anggota dari mereka menoreh getah dan berladang. Kita ingin uang yang tersimpan itu aman, makanya kita pilih bank negara. Tapi, justru bermasalah," kata dia.

Terkait adanya pihak CU Lantang Tipo yang dimintai keterangan dari kasus ini, Daniel menerangkan, itu buntut dari laporan Bank BTN ke Polda, terhadap ketiga tersangka yang telah ditahan.

"11 orang dari pihak CU Lantang Tipo memang pernah dimintai keterangan," terangnya. (sms/bob)