Senin, 14 Oktober 2019


Melestarikan Budaya Menumbuhkembangkan Kreasi

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 269
Melestarikan Budaya Menumbuhkembangkan Kreasi

ARAKAN PENGANTIN – Suasana Festival Arakan Pengantin dalam rangka menyambut hari ulang tahun Kota Pontianak ke 248 di kawasan Car Free Day Pontianak, Minggu (6/10).

Memeriahkan HUT Kota Pontianak ke 248, Pemerintah Kota Pontianak gelar Festival Arakan Pengantin Melayu Pontianak di kawasan car free day, Minggu (6/10) pagi. Arakan pengantin berjalan mulai dari halaman Museum Provinsi Kalbar menuju halaman Masjid Mujahidin.

 

Para peserta festival mengenakan kostum pengantin khas Melayu Pontianak dengan diiringi musik tanjidor, rebana dan membawa seperangkat antaran seperti pohon manggar dan pohon telur.

 

Festival arakan pengantin menjadi salah satu even tetap Kota Pontianak dalam menyambut hari ulang tahun kota. Dalam pelaksanaannya rombongan masing-masing peserta akan menampilkan arakan pengantin beserta pengiring lengkap dengan barang-barang hantaran.

 

Namun saying, festival yang sudah diselenggarakan selama sepuluh tahun ini terkesan monoton dan tidak menarik masyarakat banyak untuk menyaksikan arakan tersebut.


Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono mengatakan dalam rangkaian ulang tahun Kota Pontianak ke 248 festival arakan pengantin menjadi salah satu even yang diselenggarakan.

 

Festival arakan pengantin juga sudah masuk dalam Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2017 lalu.


Ia menambahkan festival arakan pengantin diharapkan tidak hanya sekadar seremonial saja. Tapi juga bisa memberikan dampak positif bagi perkembangan ekonomi kreatif di Kota Pontianak.

 

Festival arakan pengantin jika digaungkan akan membuat masyarakat penasaran untuk melihatnya.

 

"Kegiatan seperti ini harus melibatkan sebanyak-banyaknya masyarakat Kota Pontianak, pemerhati budaya, kesenian. Harus kolaborasi. Tidak hanya arakan saja," ucap Edi.

 

Kolaborasi penting karena kegiatan ini bagian dari kegiatan produksi ekonomi kreatif. Selain budayanya sendiri, kata Edi, diharapkan ada kreativitas dalam penciptaan kostum, fashion dan desain. 


Dikatakan bahwa inovasi harus dilakukan seperti dikaitkan dengan kegiatan lainnya, missal festival kuliner yang bisa semakin menambah wisatawan. 


"Tentu kegiatan arakan pengantin yang diselenggarakan, selain menjadi even tetap tahunan, jangan monoton. Tapi bagaimana penyelenggara terus menciptakan inovasi untuk bisa lebih banyak menarik peserta dan masyarakat yang menyaksikan dan terlibat," tambah Edi.


Di samping tetap ada hal pakem yang tetap harus dipertahankan seperti bunga manggar dan ciri khas khusus Kota Pontianak yang berbeda dengan daerah lainnya, harapannya dengan festival arakan pengantin bisa menjadi dokumentasi bagi warga Pontianak terutama adat budaya melayu untuk dijadikan model dalam setiap kegiatan pernikahan. 


"Karena nantinya yang juara akan di ikutkan dalam event atau festival ditingkat provinsi dan nasional," tambahnya


Edi menyampaikan kegiatan ini juga memberikan ruang yang seluas-luasnya bagi para pegiat komunitas fashion, desainer dan ekonomi kreatif lainnya untuk terus berinovasi.

 

"Saya memberi ruang yang luas agar Kota Pontianak selalu ada kegiatan yang bisa meningkatkan pertumbuhan perekonomian," katanya.

 

Walaupun even yang dilaksanakan bersifat parsial di setiap kelurahan, namun ada juga kegiatan yang berskala kota dan internasional. Dirinya mengajak jajaran OPD di Pemerintah Kota Pontianak untuk aktif dalam setiap kegiatan. 


Ketika masyarakat bergerak, kreativitas jalan, inovasi terus tercipta akan berdampak pada peningkatan perekonomian. Kegiatan yang diselenggarakan, kata Edi, sebaiknya tidak hanya semangat dan viral saja, namun juga harus berdampak pada peningkatan perekonomian.


"Penyelenggara harus benar-benar menyiapkan segala sesuatunya, termasuk pada puncak ulang tahun Kota Pontianak nanti yang rencana akan memecahkan rekor MURI berjepin," harap Edi.


Ia menjelaskan festival arakan pengantin bisa menjadi role model bagi masyarakat yang akan menyelenggarakan pernikahan. Untuk adat melayu Kota Pontianak bisa meniru dari yang ditampilkan pada festival arakan pengantin, baik itu hantaran maupun lainnya.


"Kita sudah mengundang beberapa kabupaten, salah satunya Kabupaten Sintang yang turun serta pada kali ini. Kemudian juga ada BUMD yang terlibat," pungkasnya.


Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Dinas Pendirian dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Pontianak, Rendrayani mengatakan sebuah budaya adalah sesuatu yang diwariskan dari leluhur. Hal tersebut yang menyebabkan generasi saat ini harus mempertahankan keasliannya.


"Jika ada kreasi, maka tidak harus mengubah pakemnya," ucapnya.


Kreasi yang dilakukan dalam arakan pengantin, seperti barang hantaran, tetap harus mengedepankan nilai filosofi. Seperti di dalam hantaran pernikahan wajib ada sirih pinang dengan sebuah kreasi, namun tetap harus mempertahankan nilai dari hantaran tersebut.


Pada dasarnya arakan pengantin dalam rangka melestarikan budaya masyarakat Kota Pontianak. Festival arakan pengantin juga sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2017 lalu.

 

Selain itu, ada juga beberapa budaya lainnya seperti meriam karbit, arakan pengantin, tenun corak insang, saprahan, pacri nanas, sayur keladi, serta asam pedas telah di tetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda.


"Untuk asam pedas akan diserahkan pada 8 Oktober nanti pada acara pekan kebudayaan nasional," katanya.


Ke depan, dinas kebudayaan akan mengusulkan untuk Bahasa Melayu, Tari Jepin Tembung, dan Jepin Langkah Serong. Untuk pengajuan saat ini sudah dilakukan kerja sama dengan balai bahasa untuk membuat Kamus Bahasa Melayu.


Untuk Jepin, jelasnya, pihak dinas pendidikan dan kebudayaan juga telah bekerjasama dengan Prodi Seni Untan. Karena salah satu syarat pengajuan wariasan budaya tak benda mengharuskan adanya kajian ilmiah.


Dalam festival arakan pengantin kali ini, Kecamatan Pontianak Selatan berhasil menggondol juara pertama dalam Festival Arakan Pengantin 2019. Disusul Bank Kalbar sebagai juara kedua dan Kecamatan Pontianak Barat juara ketiga.

 

Sedangkan The Best Pengantin diraih Kecamatan Pontianak Timur dan The Best Hantaran direbut Kecamatan Pontianak Barat.


Sementara Budayawan Kalimantan Barat, Syafaruddin Usman selaku panitia penyelenggara mengatakan tradisi arakan pengantin merupakan suatu khazanah budaya yang terus tumbuh subur di lingkungan masyarakat Pontianak. Pendukung utama tradisi tersebut adalah masyarakat Melayu.

 

"Untuk penilaian penting dalam lomba arakan pengantin adalah kelengkapan kostum, keserasian, padu padan, adat dan adab," katanya.

Terkait penggunaan kopiah atau tanjak, Syafaruddin mengatakan memang tidak ada keseragaman. Namun sebenarnya bukan menyeragamkan, tapi ingin melestarikan budaya tak benda.

 

"Dalam komponen ini banyak budaya tak benda seperti manggar, rumah jebah, pokok telok dan rebana," katanya. (dino/muliana/bah)