Senin, 18 November 2019


Tua Makin Jaya, Muda Tak Kalah Gaya

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 86
Tua Makin Jaya, Muda Tak Kalah Gaya

BERAKSI – Para pemain tanjidor grup Tanjung Bersiku ikut memeriahkan Festival Arakan Pengantin Melayu di area Car Free Day (CFD) Pontianak, Minggu (6/10).

Tak lekang oleh waktu. Mungkin kalimat itu bisa menggambarkan kesenian tanjidor dan para pemainnya di Pontianak. Walau didominasi seniman gaek, bukan berarti mereka yang muda cuek.

Pipi Muhammad Saad (74), penuh-kempot meniup saksofon di tangan. Matanya tak perlu melihat balok-balok not, seakan tangga nada telah menempel di jarinya. Warga Kampung Dalam, Jalan Tritura, Pontianak Timur ini merupakan satu di antara enam personel grup tanjidor Tanjung Bersiku yang ikut jadi pengiring di Festival Arakan Pengantin Melayu, di CFD Pontianak, Minggu (6/10).

Saad bermain tanjidor sejak 1992. Bersama personel lain di Tanjung Bersiku, sejumlah penghargaan nasional sempat dibawa pulang. Tak heran jika grup tanjidor ini jadi salah satu yang disegani di Pontianak.

Tanjidor merupakan kesenian berbentuk orkes dengan berbagai peralatan. Seperti alat musik piston, trombon, tenor, klarinet bas, dan tambur. Kesenian ini diperkirakan ada sejak abad ke 19. Di Pontianak, kehadirannya tak lepas dari perjalanan Istana Kadriyah.

Dalam aksinya, tanjidor memainkan banyak lagu. Tanjung Bersiku sendiri kerap membawakan lagu Jawa, Tionghoa, Madura dan tentu Melayu. Mereka kerap tampil di berbagai acara. Mulai dari hajatan, hingga seremonial. Untuk masalah pendapatan, bermain tanjidor terbilang lumayan. Paling kecil, satu orang bisa bawa pulang Rp250 ribu sekali main.

“Tanjung Bersiku juga dikenal di Jogja. Kami pernah dapat juara dua dan juara umum di sana,” ujar Saad.

Dia pun berharap kesenian ini tak hilang dimakan zaman. Generasi muda harus jadi pemegang estafet selanjutnya.

“Untuk penampilan dan pakaian harus dijaga, supaya masyarakat tetap mengenal baik untuk grup musik tanjidor Tanjung Bersiku,” katanya.

Tenorio (17) seakan mengamini harapan sang kakek. Sejak kelas 1 SMA, dia ikut bergabung di Tanjung Bersiku.

"Suke jak dengan tanjidor, udah jadi hobi main alat musik. Bangge bise gabung di tanjidor," ujarnya.

Cara melestarikan tanjidor tampaknya memang ampuh lewat garis keturunan. Selain di Tanjung Bersiku, hal sama terjadi di grup Sekeluarga.

Salah satu personelnya, Ramli (59), bercerita dia adalah keturunan ketiga di keluarganya yang bermain tanjidor. Grup ini merupakan satu-satunya yang berasal dari Teluk Pakedai, Kubu Raya.

“Sudah turun temurun dari kakek sampai ke bapak juga sampai ke anak dan serta cucu-cucu. Makanya namanya juga grup musik tanjidor Sekeluarga. Karena personil dari grup ini adalah sekeluarga. Saya meneruskan tanjidor ini dari tahun 1977,” ceritanya.

Keluarga Ramli bertahan karena kesenian ini sudah jadi hobi mereka. Walau berumur dan dilanjutkan mereka yang muda, dia tetap ambil bagian.

“Anak-anak ini dilatih untuk meneruskan kite," ujar Ramli. (rizki dipayani putri/balasa)