Selasa, 15 Oktober 2019


Menuju Daulat Pangan PONTIANAK, SP – Guna mendukung

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 41
Menuju Daulat Pangan  PONTIANAK, SP – Guna mendukung

PANEN JAGUNG – Petani memanen jagung di sebuah daerah. Di Kalimantan Barat, Dinas Pertanian akan mengoptimalisasi pertanian padi, jagung dan kedelai untuk kemandirian pangan.

PONTIANAK, SP – Guna mendukung terwujudnya kemandirian dan swasembada pangan, Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (Distan TPH) Provinsi Kalimantan Barat akan mengoptimalkan produksi padi, jagung, dan kedelai (pajale).

“Untuk itu ada upaya khusus atau upsus pajale. Setiap bulannya untuk program upsus tersebut dilakukan pertemuan koordinasi untuk memastikan program berjalan,” ujar 
Kepala Distan TPH Kalbar, Heronimus Hero saat membuka Pertemuan Koordinasi Upsus Pajale Tingkat Provinsi Kalbar 2019 di Pontianak, Selasa (8/10).

Untuk mendukung sukses program tersebut di Kalbar, pihaknya mendapat bantuan dari pemerintah pusat hingga kecamatan. Ada dua cara untuk meningkatkan produksi yakni melalui Luas Tambah Tanam (LTT) dan peningkatan produktivitas.

Khusus untuk LTT padi, kata dia, pada tahun ini hingga September 2019 sedikit menurun dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

“Dengan menurunnya LTT yang ada dibandingkan dengan tahun sebelumnya di periode yang sama menjadi perhatian dan catatan. Dengan tersisa waktu yang ada tentu harus dicarikan solusi atas persoalan di lapangan. Apakah penurunan yang ada karena faktor kemarau panjang atau SDM-nya yang perlu dimotivasi lagi,” kata dia.

Meski LTT turun, produktivitas bisa dioptimalkan, sehingga target produksi tahun ini bisa tercapai.

“LTT yang ada saat ini mencapai 577 hektare . Kalau itu minimal produktivitas tiga ton per hektare maka bisa mencapai 1,7 ton gabah kering giling yang dihasilkan,” kata dia.

Pejabat Upsus Pajale Kalbar, Dedi Nursyamsi yang hadir dalam pengarahan itu mengatakan semua pihak yang terlibat dalam program tersebut, termasuk petani, harus memahami bahwa pangan sebagai kebutuhan.

Dengan pentingnya pangan, sehingga lahir Program Upsus Pajale.

“Namanya upsus maka harus dilakukan besar-besaran, revolusi, dan radikal. Kalau tidak begitu atau biasa-biasa saja penanganannya, maka kemandirian dan swasambada pangan mustahil terwujud,” kata dia.

Di sisi lain, semakin ke depan kebutuhan pangan terus meningkat karena pertumbuhan penduduk bertambah.

“Untuk itu, soal pangan harus diurus betul-betul dan dimaksimalkan. Kalau terjadi krisis pangan, maka terjadi gejolak dan sebagaimana pengalaman-pengalaman negara lain. Untuk itulah Program Upsus Pajale hadir dan dimohon dimaksimalkan dan didukung semua pihak," kata dia.

Kembangkan Keladi

Distan TPH Provinsi Kalbar juga mengembangkan tanaman keladi Singkawang pada lahan seluas empat hektare.

“Pengembangan komoditas pangan keladi memang belum prioritas, namun hal itu tetap menjadi perhatian. Apalagi potensi untuk keladi Singkawang ini cukup baik sehingga mulai tahun ini kita canangkan untuk pengembangan dan diberikan bantuan untuk luasan empat hektare,” ujar Heronimus.

Ia menyebutkan bahwa untuk hasil panen keladi Singkawang dalam satu hektare bisa mencapai minimal 20 ton. Masa tanam sendiri hanya delapan bulan.

“Dalam masa delapan bulan sudah panen dan satu batang rata–rata 1 (satu) kilogram. Nah, dengan potensi itu kita bantu kelompok tani di sana untuk mengembangkannya. Apalagi untuk pasar terbuka lebar di sana dan harga sangat menjanjikan,” papar dia.

Untuk perlakuan tanaman keladi, tambahnya, juga tidak terlalu rumit meski butuh perlakukan khusus. Hal ini bisa menjadi alternatif bagi petani di Kalbar untuk dikembangkan, terutama petani milenial.

"Berkebun keladi bisa menjadi alternatif sumber pendapatan petani di Kalbar. Bagi petani milenial, boleh ini dicoba dan dikembangkan," ajak dia.

Satu di antara kelompok penerima bantuan pengembangan Keladi Singkawang, Agus menyebutkan bahwa budidaya keladi tidak terlalu rumit. Dari sisi produktivitas, per hectare mencapai 20 ton.

“Untuk harga di tingkat petani juga menjanjikan yakni sekitar Rp6.000 (enam ribu) per kilogram untuk pasar bahkan di Pontianak serta lainnya,” sebut dia.

Pihaknya mengucapkan terima kasih atas pembinaan dan pendampingan serta perhatian Distan TPH Kalbar dalam pengembangan Keladi Singakawang.

“Tentu kita bersyukur dan terima kasih bahwa Keladi Singkawang menjadi soroton pemerintah untuk dikembangkan di Kalbar,” papar dia.

Sebelumnya Pemerintah Provinsi Kalbar mengenalkan varietas keladi Singkawang dalam perhelatan Rembuk Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Expo 2019 yang digelar di Pekan Baru, Riau belum lama ini.

“Keladi Singkawang merupakan satu di antara produk unggulan pertanian Kalbar yang kami kenalkan dan promosikan selama expo,” ujar Koordinator Stan Kalbar, Erviyanto. (ant/bah)

 Bangun BUMDes

Peningkatan ekspor komoditas pertanian dan perkebunan di Kalbar akan bisa semakin mudah jika komponen desa mandiri bisa dipenuhi dengan baik. Hal ini dinyatakan Gubernur Kalbar, Sutarmidji saat menjadi pembicara pada Seminar Internasional "Membangun Desa Mandiri sebagai Sabuk Ketahanan Ekonomi di Rektorat Universitas Tanjung Pura Pontianak, Senin (7/10).


"Ini yang perlu kita kembangkan ke depan. Sebab, jika kita selalu mengandalkan SDA seperti tambang untuk komoditas ekspor, itu tidak akan saya prioritaskan. Namun, yang akan kita kembangkan adalah produk pertanian dan perkebunan yang juga memiliki potensi besar untuk kita ekspor," kata Sutarmidji.

Menurutnya, dengan adanya pelabuhan internasional di Kalbar, ke depan setiap pemerintah desa bisa ikut mengembangkan komoditas pertanian, perikanan dan perkebunan unggulan mereka untuk diekspor ke luar.

"Ini bisa kita kembangkan maksimal jika desa mandiri bisa terwujud. Untuk itu, semua potensi itu bisa dikelola oleh BUMDes. Jika kita punya 1.500 BUMDes yang sehat, tentu semua potensi yang ada di tingkat desa bisa kita kembangkan dengan baik. Dan ini adalah muara dari terwujudnya desa mandiri yang terus kita kembangkan," katanya.

Dia berharap, melalui seminar Internasional, membangun desa mandiri sebagai sabuk ketahanan ekonomi yang dilaksanakan di Rektorat Untan ini ada rekomendasi dan rumusan yang dilahirkan untuk mempercepat pembentukan desa mandiri di Kalbar. (ant/iat/bah)