Sabtu, 14 Desember 2019


Blooming Alga Teror Ikan Keramba

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 248
Blooming Alga Teror Ikan Keramba

Ilustrasi ikan mujair dan mas mati di keramba apung petani di sebuah daerah. Di Kota Pontianak, ikan di keramba petani di tepian Sungai Kapuas dan Sungai Landak juga banyak yang mati karena fenomena blooming alga, Rabu (9/10).

PONTIANAK, SP – Nyaris dua pekan warna air Sungai Kapuas di Kota Pontianak berubah menjadi hijau bening, Rabu (9/10). Fenomena yang disebut blooming alga itu membuat warga setempat kaget campur getun.

 Berdasar reportase Suara Pemred, tak sedikit ikan mati, baik yang dipelihara dalam keramba di tepian sungai maupun ikan liar.

 Seorang pemancing, Pitra Purnomo (35) membenarkan peristiwa warna air Sungai Kapuas yang hijau dan berdampak pada kematian ikan secara berjemaah.

 Sambil memancing, Pitra mengeluhkan banyak ikan mati dan mengapung di permukaan sungai.

 "Saya kurang tahu kenapa air berubah hijau seperti itu dan ikan banyak mati dan timbul," ujar Pitra.

  Sementara Warga Kelurahan Tambelan Sampit, Kecamatan Pontianak Timur yang tinggal di pinggir Sungai Kapuas, Ahmad (67) mengaku heran dengan perubahan air Sungai Kapuas itu.

 Dikatakan bahwa fenomena itu sudah berlangsung selama dua pekan saat Kota Pontianak masuk musim kemarau atau hujan belum mengguyur kota.

 “Warna airnya hijau bening dan terasa asin. Saking asinnya, sabun tak berbusa. Tapi, sejak turun hujan, keasinan air berkurang. ,” kata Ahmad.

 Akibat Fenomena blooming alga hampir dua pekan air sungai Kapuas berubah menjadi warna hijau bening. Rabu (9/10).

 Menyikapi peristiwa tersebut, Pengamat Mikrobiologi Universitas Tanjungpura, Rikhsan Kurniatuhadi mengatakan bahwa fenomena perubahan air Sungai Kapuas jadi hijau disebut blooming alga atau peledakan jumlah alga, terutama jenis alga Cyanobacteria (Sianobakteri), jenis alga hijau biru karena perubahan kondisi lingkungan. 

 Dampak dari ledakan jumlah alga itu lantas membuat air Sungai Kapuas berwarna hijau muda.

 "Itu sebenarnya fenomena alam yang diakibatkan blooming alga atau fitoplankton yang membuat nya berwarna hijau," jelas Rikhsan.

 Rikhsan menjelaskan bahwa peristiwa tersebut diakibatkan karena peralihan dari musim kemarau ke musim hujan dan intrusi air laut ke sungai, sehingga memungkinkan masuknya fitoplankton dan mengakibatkan terjadinya blooming alga.

Sementara penyebab air berubah menjadi jernih adalah karena memasuki musim hujan dan akibat intrusi air laut sehingga kelarutan Daerah Aliran Sungai (DAS) berkurang.

 

"Intrusi air laut ke sungai itu memungkinkan masuknya plankton kemudian terjadi blooming. Untuk masalah jernih itu lebih ke karena intrusi air laut dan sekarang musim hujan. Jadi, kelarutan DAS berkurang," jelasnya.

 Selain itu, lanjut Rikhsan, yang menjadi salah satu faktor blooming alga adalah unsur fosfor dan nitrogen yang ada di dalam sungai turut memberi pengaruh terjadinya blooming.

 “Dan karena fitoplankton dan sianobakteria sering muncul di daerah permukaan, makanya ketika blooming terjadi air sungai berubah menjadi warna kehijauan," katanya.

 Rikhsan menjelaskan bahwa dampak blooming alga tidak berbahaya bagi manusia. Sebab, fitoplankton tidak bersifat infeksius, namun akan berdampak pada berbagai biota laut karena berkaitan dengan nutrisi zat-zat unsur hara di sungai.

 "Apakah itu (blooming alga) akan bertahan lama, tergantung cuaca dan debit air. Jika dia (blooming alga) menutupi daerah permukaan perairan, bisa mengurangi kadar oksigen dalam air dan akan berdampak terutama hewan-hewan air seperti ikan dan merugikan tambak apung milik warga setempat," tutupnya. (put/ana/bah)

 Pemerintah Bantu Petani

Mahasiswa IAIN Pontianak, Zarkasyi meminta Pemerintah Kota Pontianak mengecek keramba ikan milik petani di tepian Sungai Kapuas dan Sungai Landak.

“Pemerintah kota harus turun ke lapangan, meninjau lokasi keramba ikan milik petani di tepian sungai. Jika banyak yang mati, otomatis petani akan merugi. Pemerintah kota wajib membantu petani meringankan kerugian usahanya,” kata Zarkasyi.

Satu di antara cara membantu petani keramba apung itu yakni memberikan bantuan bibit ikan yang dibudidaya mereka, seperti nila atau mas.

“Selain membantu memberikan bibit ikan, pemerintah juga bisa menyubsidi harga pakan ikan. Tindakan bantuan ini kasuistik saja. Artinya, bantuan ada ketika petani dirundung bencana alam seperti blooming alga itu. Namun, jika tidak, maka tidak perlu ada bantuan. Sebab, petani keramba juga dapat bertahan dan mengembangkan usahanya ketika musim bersahabat dengan ikan yang dibudidayakannya,” pungkas Zarkasyi. (her/put)