Kamis, 21 November 2019


Derita Lena Luput dari Pantauan Pemkot

Editor:

Kiwi

    |     Pembaca: 534
Derita Lena Luput dari Pantauan Pemkot

PONTIANAK, SP - Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono mengaku baru tahu mengenai adanya pasangan suami istri bersama 4 anaknya, menempati gubuk berdinding seng bekas mirip kandang ayam di Jalan Tani, Desa Mega Timur, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.

"Saya baru tahu. Kami akan siapkan rumah susun di Jalan Harapan Jaya. Kalau mereka mau tinggal di sana. Gratis," kata Edi, Sabtu (12/10).

Kasus ini, dikatakannya akan menjadi perhatian Pemkot, guna mengevaluasi permasalahan sosial yang ada. Intinya, jangan sampai ada warga Kota Pontianak yang tidak terlindungi.

Menurut dia, jangkauan pemerintah kota terbatas dalam memperoleh data warganya. Maka dari itu, harus didukung adanya kepedulian masyarakat dan semua jajaran, terutama kepada camat, lurah, RT, RW, tokoh masyarakat dan media.

"Kami pemerintah kota tidak mau ada warga kita yang tak terlindungi dari masalah sosial. Kalau ada, saya minta segera laporkan," pintanya.

Edi menjelaskan, sistem pelaporan bisa langsung datang ke kantor wali kota, mengirim surat atau melalui RT dan RW setempat.

"Intinya, pemerintah kota akan memfasilitasi siapapun warga Pontianak yang merasa tidak beruntung," ucapnya.

Dia menilai, persoalan ini terjadi karena masalah data. Edi menyebut, walau tidak semuanya, ada petugas RT / RW yang tidak peduli kepada warganya.

"Ini hanya permasalahan data. Mestinya data penduduk, di wilayah masing-masing, dihimpun masalahnya, dan disampaikan ke lurah," ujarnya.

Terlebih dalam data tersebut, akan termuat jelas faktor permasalah sosial yang dihadapi oleh warga.

"Banyak faktor yang mesti diteliti, khususnya pada kasus ini. Apakah karena dia sakit, dan lainnya," katanya.

Tak Punya Biaya

Sabtu (12/10), Suara Pemred kembali mendatangi kediaman Lena dan keluarga.

Berlinang air mata, usapan tangan Lena menghapus air mata ketika menceritakan kisahnya hingga berada dan tinggal di gubuk kecil. Keadaan kurang sehat dan lemas. Lena saat itu sakit BAB sudah delapan hari. Hanya diobati dengan minum air putih. Karena untuk berobat, dirinya tak mempunyai biaya.

Sebelum pindah ke gubuk kecil, keluarga Lena tinggal di Swadaya 1, Siantan Hulu. Lena memiliki keluarga di Jalan 28 Oktober. Dengan keadaan yang sangat memprihatinkan, tidak satupun keluarga Lena yang mengetahui kondisi dan keberadaannya.

"Hubungan keluarga baik, tapi keadaan merekapun gitu gak" ujar Lena. Lena tidak memberitahukan kepada pihak keluarga dan orangtua. Karena Kondisi orangtua yang sudah berumur dan kakak dari Ibu Lena memiliki riwayat penyakit jantung.

"Memang sengaja tidak diberi tahu, soalnya orangtua sudah tua, sering sakit-sakitan, dan kakak saya sakit jantungan." ceritanya.

Melihat kondisi dan keadaan yang memprihatinkan, banyak bantuan serta relawan yang datang untuk membantu keluarga Lena.

"Lauk ikan asinpun dari tetangga. Alhamdulillah anak-anak pun mau makannye," singkat ceritanya.

Berikan Bantuan

Komunitas Ehipassiko, satu komunitas sosial yang berpusat di Jakarta. Juga mendatangi gubuk kecil keluarga Lena. Komunitas ini mendapat informasi melalui media sosial.

"Dari pusat juga ada menginfokan untuk kami dan untuk survei ke lokasi. Langkah dalam hal ini juga, kami harus mengkoordinasi dengan pihak keluarga, supaya nanti paling tidak kebutuhan, rumah, dan lain sebagainya bisa lebih baik, tidak seperti kondisi saat ini," ungkapnya.

Kementerian Sosial juga bergerak cepat, guna menemui dan melihat kondisi keluarga Lena. Kemudian, akan ditindaklanjut oleh Tagana, supaya mendapatkan tempat tinggal yang layak.

"Kami akan membawa dia ke badan zakat, Barnas. Untuk melaporkan sebagai bukti, dan semoga dari pihak sana dapat, dari pihak dinas juga dapat," ujarnya.

"Saya heran kenapa pemerintah setempat, istilahnye dari RT kok ndak cepat menanggapi ini, atau mungkin juga dia tidak lapor bisa jadi. Setidaknya RT/RW harus tahu warganya ada di sini. Kami akan usahakan, semoga suara-suara saya dapat didengar pemerintah," lanjutnya.

Kehilangan Kontak

Secara kependudukan, keluarga  Lena masih tercatat sebagai warga Kelurahan Siantan Hulu tepatnya Jalan Kebangkitan Nasional, Gang Bentasan 1, RT/RW 005/025.

Lurah Siantan Hulu, Tirta Arifin (30) mengaku pihak sebelumnya telah memberikan perhatian kepada keluarga Lena, namun kini lepas kontak.

"Ketika posisi keluarga ibu Lena masih di Siantan Hulu, mereka juga mendapatkan perhatian dari kita. Cuma memang kemarin posisi terakhir mereka di Siantan Hulu Gang Swadaya 1. Saat itu di rumah kediaman orangtuanya, cuma tidak tahu kenapa sejak kita tangani itu hilang kontak. Sejak  itu ternyata mereka sudah pindah di sini," ujarnya.

Keberadaan serta hal ini, diakuinya juga tidak diketahui oleh pihak Kelurahan Siantan Hulu. "Kita tidak mengetahuinya, mungkin dari pihak ibunya tidak melapor, atau enggan melaporkan kepindahannya. Kita mengetahui kabar keberadaan keluarga ibu Lena ini kabar di media," lanjutnya.

Dalam menindak lanjuti hal ini, Tirta mengatakan akan mencoba memastikan domisili keluarga Lena, apakah akan menetap di Siantan Hulu atau di desa ini. Dengan kondisi saat ini, pihak juga mencoba akan mencarikan tempat tinggal yang lebih layak.

Paling tidak, dikatakannya, pihaknya akan memberikan kontrakan sementara kepada keluarga Lena, sambil menunggu rumah dibangun.

"Saat ini donatur sudah banyak. Sudah ada beberapa donatur yang menyumbang untuk keluarga ibu Lena. Kita coba koordinasikan dengan RT setempat yang ada di desa Mega Timur, agar bisa dikoordinir, jadi tidak simpang siur sumber bantuan. Ini harus jelas, paling tidak ada yang mengkoordinir disini dan bertanggung jawab," tegasnya.

Sebagaimana diketahui, pasutri bersama 4 anaknya itu merupakan warga Kelurahan Siantan Hulu, Kecamatan Pontianak Utara, Kota Pontianak, Kalbar. Mereka menempati gubuk tersebut sejak 2 bulan lalu.

Lena, sang ibu, enggan menceritakan prihal kepindahannya itu lebih jauh. Menurut dia, alasan mereka memilih tinggal di gubuk itu lantaran keterbatasan ekonomi.

"Suami kerja serabutan. Anak 4 orang. Jadi saya bersama suami buat rumah di sini," kata Lena, Jumat (11/10).

Lena melanjutkan, pembangunan rumah itu pun dengan memanfaatkan bantuan warga-warga lain dengan menumpangkan tanah serta memberikan seng bekas kandang ayam.

"Untuk kayu-kayunya, saya sama suami mencari pohon di hutan," tuturnya.

Lena menceritakan, keempat anaknya masing-masing berusia 15 tahun, 14 tahun, 5 tahun dan 1 tahun. Anak tertuanya sudah putus sekolah sejak 2 tahun lalu, lantaran tidak ada biaya.

Sedangkan, anak keduanya masih sekolah menengah pertama kelas VII juga terancam putus, karena masalah serupa.

"Sehari-hari, saya ke hutan mencari ubi dan sayur pakir untuk dijual dan dimakan," terangnya. (put/ana/bob)

Copot Lurah Setempat

Anggota DPRD Kota Pontianak, Yandi mengatakan kondisi ini menjadi kado ulang tahun Kota Pontianak, yang menunjukkan bahwa persoalan seperti ini masih ada ditemukan di kota.

Padahal, kata dia, sejak lama di Kota Pontianak sudah ada program yang menegaskan bahwa tidak boleh ditemukan lagi ada lagi anak-anak yang putus sekolah, karena keterbatasan biaya. Bahkan dalam kebijakan tersebut jelas menerangkan bahwa jika masih ada ditemukan maka Lurah setempat akan dicopot dari jabatannya.

 

“Dua tahun lalu kan ada program yang mengatakan bahwa tidak boleh ada anak yang putus sekolah. Lurahnya akan dicopot. Ini sudah dua tahun dia tidak sekolah,” ujarnya.

 

Yandi merasa prihatin. Dia berharap dengan adanya informasi ini aparatur pemerintah bisa mencarikan solusi. Apalagi masyarakat ini jelas merupakan warga Kota Pontianak.

 

Dia mengatakan Lurah, RT dan RW sebagai aparatur terdepan semestinya bisa saling berkoordinasi mengenai persoalan ini sehingga bisa cepat dicarikan solusi.

 

Dia beranggapan, bahwa selama ini pemerintah setempat belum bisa mengimplementasikan kebijakan itu dengan baik.

 

“Kita memaklumi jika ada keterbatasan dalam menjangkau semuanya. Tapi minimal RT, RW ketika berkomunikasi turun lapangan pasti terdata dan tahu. Kita tidak saling menyalahkan tapi bagaimana mencari solusi itu untuk membantu,” tegasnya.

 

Selain itu dia juga meminta seluruh dinas terkait untuk proaktif dalam mendata permasalahan ini. Sebab bisa jadi, keluarga tersebut bukan satu-satunya yang masih tinggal di rumah tak layak huni dan anak-anaknya putus sekolah karena keterbatasa biaya.

 

“Dinas-dinas terkait seharusnya bisa menanggulangi hal ini tidak terjadi lagi. Nah, sekarang kita minta untuk segera dicarikan solusi, ayo kita kerjakan,” tegasnya. (sms/bob)