Selasa, 19 November 2019


Sukimin Alias Kim Cua Ditetapkan Tersangka

Editor:

Kiwi

    |     Pembaca: 13070
Sukimin Alias Kim Cua Ditetapkan Tersangka

PONTIANAK, SP - Mantan Komisaris PT Putra Daerah Khatulistiwa, Sukimin Tarjono alias Kim Cua, pada era tahun 80 - 90 an dikenal pemain kayu dan pengusaha Mal Matahari dan Mal Gajah Mada Pontianak ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Kalbar baru- baru ini. 

Sukimin, warga Jalan Tanjungpura RT.002 RW 016 Kelurahan  Benua Melayu Barat, Pontianak Selatan ini diduga kuat melakukan tindakan penggelapan karena telah menjual atau  memindah tangankan aset-aset olahraga bowling milik PT Putra Bowling Indonesia diperkirakan senilai 6 milyar rupiah tanpa izin kepada orang lain.

 Kasus ini bermula ketika Mall Gajah Mada Pontianak masih berdiri 2008 lalu, yang sebelumnya merupakan Terminal Oplet Gajah Mada milik aset Pemkot Pontianak dan kini telah berganti wujud menjadi Hotel Aston Pontianak. 


Mall Gajah Mada kala itu adalah milik PT Putra Daerah Khatulistiwa. Di waktu bersamaan, PT Putra Bowling Indonesia menginvestasikan alat olahraga bowling di salah satu toko di mall tersebut. 

"Di dalam mall itukan ada beberapa toko, termasuk bowling. Bowling itu satu-satunya yang ada di Kota Pontianak yang tadinya akan kita tetapkan sebagai olahraga tetap di Kalbar. Bowling ini masuk ke KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia)," ujar Kuasa Hukum PT Putra Bawling Indonesia, Daniel Edward Tangkau, Rabu (23/10). 

Seiring waktu berjalan, ketika pergerakan pasar moderen di Kota Pontianak semakin banyak, berdampak buruk terhadap produktifitas Mall Gajah Mada. Mall Gajah Mada kala itu dinilai kurang berkembang, sehingga dilakukan lelang dan berdirilah Hotel Aston Pontianak.

"Jadi karena dinilai kurang berkembang, sehingga dilelang Mall Gajah Mada itu. Tapi saat  dilelang, tempat dan seluruh isi peralatan bowling dibongkar, dijual  Sukimin tanpa pemberitahuan dan izin rekan bisnisnya sebagai pemilik PT Putra bawling Indonesia," kata Daniel.

Tak hanya Sukimin, Suara Pemred juga mendapati informasi bahwa kasus ini juga melibatkan Direktur Mall Gajah Mada, CH dan JT, seseorang yang diduga berperan sebagai perantara menjual aset-aset itu kepada orang lain. Di mana keduanya saat ini berstatus sebagai saksi.  

"Sebagian dijual kilo, sebagian lagi dialihkan ke tempat lain," ungkap Daniel.

Karena kondisi ini, sekitar lima bulan lalu, PT Putra Bawling Indonesia akhirnya baru membuat laporan ke Polda Kalbar melalui Daniel sebagai kuasa hukumnya. Kata Daniel, baru dilaporkannya kasus ini ke Polda Kalbar karena saat itu PT Putra Bowling masih beriktikad baik untuk memastikan kepada Sukimin terkait dengan keberadaan aset-aset bowling milik perusahaan tersebut.

"Tapi karena tidak dijawab hingga sekarang, akhirnya dilaporkanlah kasus ini ke Polda Kalbar. Terlebih lagi waktu itu pemiliknya (PT Putra Bowling Indonesia) sedang sakit di Singapore," ungkap Daniel.

Ketika dikonfirmasi Suara Pemred melalui panggilan telepon, Sukimin mengatakan dirinya saat ini sedang tidak sehat dan belum bisa diwawancara.

"Saya lagi tidak enak badan. Saya lagi sakit sudah seminggu sakit," katanya.

Walaupun begitu, dia mengatakan hingga saat ini dirinya belum pernah diperiksa oleh Polda Kalbar.

"Saya belum diperiksa Polda. Saya lagi tidak enak badan ini," tutupnya dan langsung mematikan sambungan telepon Suara Pemred

Kuasa hukum Sukimin, Teresa juga mengatakan hal yang sama. "Saya belum bisa jawab sekarang. Nantilah. Saya masih di luar ni.  Nanti saya kabari," ujarnya ketika dihubungi melalui telepon. 

Sementara itu, JT yang ditetapkan sebagai saksi dalam perkara ini menegaskan bahwa dirinya tidak pernah terlibat dan tidak memiliki peran apapun dalam kasus ini. Kata dia, hubungan antara dia dan Sukimin hanya sebatas teman baik.

"Saya tak punya hak (untuk menjawab). Saya tidak tahu permasalahannya, cuma pak Sukimin itu kawan saya, kawan baik. Itu saja. Yang lain-lain saya tidak tahu. 
Itu saya seratus persen tidak tahu. Hanya beberapa persen saja saya yang tahu," terangnya ketika dikonfirmasi. 

Dia menjelaskan pertemannya bersama Sukimin sudah sejak lama, bahkan sebelum Mall Gajah Mada itu dibangun sampai akhirnya dilelang untuk pendirian Hotel Aston Pontianak.

"Saya teman dia (Sukimin). Tidak ada apa-apa. Saya tidak tahu. Soalnya dia itu pengurus utama di bowling itu. Saya bukan.  Saya tidak tahu apa-apa. Hanya kawan pergaulan, kemana-mana sama-sama," kata dia.  

Selain itu, dia juga menyebutkan bahwa dirinya belum pernah diperiksa atau memberi keterangan apapun kepada penyidik Polda Kalbar terkait dengan kasus ini, meskipun undangan panggilan dari Polda Kalbar sudah diterima olehnya.

"Kalau periksa atau tidak itu kita punya urusan, bukan orang lain. Panggilan tidak ada cuma ada undangan. Mungkin mau tahu atau apa gitu. Saya udah dapat undangan, tapi saya tidak pergi," terangnya.

Suara Pemred juga berusaha menghubungi CH, namun hingga berita ini ditulis, sambungan telepon Suara Pemred tidak diterima oleh CH.

Daniel membantah terkait dengan klaim JT yang mengatakan bahwa dirinya tidak terlibat apapun dalam kasus ini. Kata Daniel, saat itu JT merupakan orang yang berperan sebagai perantara dijualnya sebagain perangkat bowling ini kepada orang lain.

Tak hanya itu, berdasarkan hasil penggeledahan penyidik Polda Kalbar dan keterangan para saksi tersebut bahwa benar sebelumnya alat-alat bowling tersebut disimpan di gudang.

"Sebagian dijual, sebagian lagi dipindah tempatkan. Itu yang disita. Bohong saja kalau dia (JT) tidak tahu apa-apa. Jelas-jelas dia yang jual," tegas Daniel.

Daniel menyebutkan, karena penggelapan aset-aset bowling ini, PT  Putra Bawling Indonesia mengalami kerugian sekitar Rp6 miliar. Nominal ini sesuai dengan harga pembelian perangkat-perangkat olahraga bowling kala itu.

Dengan ditetapkan status Sukimin sebagai tersangka, dia meminta agar penyidik bertindak dan memproses perkara ini sesuai dengan hukum yang berlaku serta meminta agar Sukimin dilakukan penahanan. 

"Kalau dia mengaku (alasan) sakit, perikslah di Dokes sana (rumah sakit Anton Soedjarwo Polda Kalbar). Bukan berarti dia sakit lalu perkara jadi berhenti," tegasnya. 

Sebuah sumber yang juga salah satu pengusaha tua kepada Suara Pemred mengungkapkan, pada era tahun 80 dan 90 an nama Sukimin sangat tenar. 

" Dia dulu seorang pengusaha kayu sekaligus kontraktor ternama sangat dekat dengan pejabat pemerintahan dan petinggi polisi dan TNI saat itu. Hampir semua Mal dia yang bangun, Matahari Mal, Gajah Mada Mal, dan Ramayana itu tanahnya milik Sukimin," ungkap lelaki tua berkulit putih ini sambil tersenyum kepada Suara Pemred. 

Mantan pengusaha kayu asal Pontianak ini juga menjelaskan kepiawaian Sukimin berteman dengan pada pejabat. " Kantor Polda lama dan Polresta Pontianak yang lama dia yang bangun. Ibaratnya saat itu, Sukimin sulit disentuh hukum.  Dan dia spesialis tukar guling aset pemerintah untuk dijadikan sasaran bisnisnya.  Terminal oplet jadi Mal Gajah Mada lalu diambil alih haknya oleh Hotel Aston itu misalnya, pasti ada peran Sukimin juga hehehe, ,"tambah sumber ini lagi. 

Sementara itu, Humas Polda Kalbar Kombespol Donny Charles Go mengatakan dirinya belum mendapatkan informasi perkara tersebut. Dia meminta waktu untuk mengecek ke penyidik terkait kasus tersebut. 

"Saya belum terima informasi itu, saya cek dulu ke penyidik," katanya. (sms/bob)