Selasa, 19 November 2019


Empat Tersangka Jasindo Belum Ditahan

Editor:

Kiwi

    |     Pembaca: 686
Empat Tersangka Jasindo Belum Ditahan

PONTIANAK, SP – Kasus dugaan korupsi pencairan klaim asuransi Jasindo memasuki babak baru. Empat berkas perkara dari empat pelaku yang sebelumnya telah ditetapkan sebagai tersangka saat ini sudah masuk dalam tahap satu Kejaksaan Negeri Pontianak.

“Artinya saat ini sedang diteliti oleh jaksa peneliti untuk kemudian nanti ditentukan sikap apakah berkas lengkap atau P21 atau masih harus ada perbaikan. Kita dari penyidiknya berharap bisa langsung P21,” terang Kepala Seksi Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Pontianak, Juliantoro, Rabu (6/11).

Kata dia, tahap 1 kasus Jasindo ini masuk pada Senin (4/11) kemarin. Di antaranya adalah tersangka berinisial MTB, DS, RTW dan SUD. Namun, jaksa masih menunggu petunjuk dari Kepala Kejaksaan Negeri untuk masuk dalam tahap penuntutan sebelum akhirnya keempat tersangka tersebut dilakukan penahanan atau tidak.

“Tapi melihat resistensi dari kasus ini dan belajar dari penahanan tahap penyidikan yang lalu. Mungkin Pak Kajari akan melakukan upaya penahanan ini dengan sangat hati-hati. Semua tergantung situasi pada saat dilakukan tahap 2 atau penyerahan tersangka dan barang bukti nanti,” terangnya.

Selain barang bukti berupa uang sebesar Rp4,7 miliar, dalam proses penyidikan kasus ini Jaksa juga telah mengumpulkan barang bukti dokumen berupa surat-surat terkait dengan pencairan klaim tersebut. Serta 20 saksi telah diperiksa.

“Termasuk saksi ahli dan saksi ahli yang meringankan dari pihak tersangka dari Jasindo,” terangnya.

Diketahui tiga tersangka yang telah ditetapkan sebagai tersangka merupakan pejabat dari perusahaan asuransi. Mereka adalah Kepala Cabang Jasindo Pontianak berinisial MTB, dan dua pejabat pusat Jasindo, Kepala Divisi Klaim Asuransi Jasindo berinisial DS, dan Direktur Teknik dan Luar Negeri Asuransi Jasindo inisial RTW.

Sementara satu tersangka lain adalah pemilik klaim asuransi, Direktur PT Pelayaran Bintang Arwana Kapuas (PT PBAKA), Aseng.

Kasus dugaan korupsi ini bermula dari pengajuan klaim asuransi dari PT. PBAKA kepada Jasindo. Perusahaan ini mengklaim atas insiden tenggelamnya kapal tongkang Labroy 168 milik PT. PBAKA di perairan Kepulauan Solomon, pada 2014 lalu.

PT. PBAKA mengajukan klaim asuransi bidang kepada Jasindo untuk jenis asuransi korporasi bidang kelautan (marine insurance) yang meliputi hull & machinery insurance (Asuransi Rangka Kapal) dengan nilai polis Rp6,5 miliar.

Klaim dilayangkan PT. PBAKA kepada Jasindo pada  2016. Dua tahun kemudian, Desember 2018, klaim dibayarkan Jasindo.

Penetapan tiga pejabat Jasindo sebagai tersangka oleh Kejaksaan di tahap awal, menurut  penyidik Juliantoro karena ditemukannya perbuatan korupsi dalam proses pencairan. Dia menyebutkan, pencarian klaim asuransi dilakukan dengan tidak cermat, dan tidak dilakukan verifikasi atas berkas permintaan pencairan klaim tenggelamnya kapal tongkang Labroy 168 yang diajukan oleh PT PBAKA. Sehingga negara dirugikan sekitar Rp4,7 miliar. (sms/bob)