Rabu, 11 Desember 2019


Dorong Tumbuhnya Ekonomi Kreatif

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 92
Dorong Tumbuhnya Ekonomi Kreatif

WARKOP - Kota Pontianak dijuluki sebagai Kota Seribu Warung Kopi.

Kopi merupakan salah satu minuman yang sangat familiar bagi seluruh lapisan masyarakat terutama di Pontianak, Kalimantan Barat. Bahkan kota Pontianak dijuluki sebagai Kota Seribu Warung Kopi.

Atas latar belakang itu, Pemerintah Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat menggelar "Fashion Coffee Week" di Gedung Dekranasda dan UMKM Center guna mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di kota itu.

Saat membuka acara dan turut menikmati rasa kopi hasil olahan para barista, Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono berharap dengan berkumpulnya para komunitas pecinta kopi dari berbagai daerah yang menampilkan kemahirannya dalam menyeduh dan menyajikan minuman kopi dalam memeriahkan 'Pontianak Fashion Coffee Week' ini, membuat ekonomi kreatif kian tumbuh.

Berbagai jenis kopi dengan cara pengolahannya menjadi sebuah suguhan menarik pada "Pontianak Fashion Coffee Week" 2019 tersebut.

Wali kota menyatakan dengan seringnya menggelar ajang dan festival merupakan satu di antara upaya Pemkot Pontianak dalam memfasilitasi dan menggagas kegiatan Ekonomi Kreatif (ekraf).

"Bahkan bila perlu ajang yang ada digelar rutin sebagai ajang mendorong pertumbuhan ekraf di Kota Pontianak," katanya, Sabtu (16/11).

Ia menegaskan "Pontianak Fashion Coffee Week" yang digelar ini menjadi salah satu bentuk dukungan Pemkot Pontianak, terutama terhadap komunitas pecinta kopi.

"Silakan masyarakat dan pelaku usaha kopi untuk hadir di UMKM Center ini untuk mengetahui bagaimana cara mengolah kopi menjadi sebuah kemasan, tidak hanya dalam bentuk suguhan minuman, tetapi juga produk-produk turunan dari kopi tersedia selama festival ini. Misalnya sabun kopi, parfum, gel untuk pelembab dan sebagainya," ujarnya.

Kendati baru pertama kalinya digelar, ia  berharap tahun depan event serupa digelar dengan skala lebih besar lagi sehingga mampu menyedot lebih banyak pengunjung.

Pontianak, kata dia, sudah dikenal sebagai kota dengan jumlah warung kopi terbanyak dan penikmat kopi terbesar. Melalui "Pontianak Fashion Coffee Week" ini, para penggemar kopi dan masyarakat akan bertambah wawasannya bahwa banyak varietas kopi yang ada di dunia dan produk turunannya.

"Semua hal berkaitan dengan kopi, barista kopi, tester kopi yang berkelas dan tidak kalah dengan negara-negara lainnya ada di Pontianak Fashion Coffee Week ini," kata Edi Rusdi Kamtono.

Pontianak menjadi sebuah kota yang memiliki cukup banyak warung kopi dan tersebar di berbagai pelosok sudut kota. Hampir setiap hari para penikmat kopi, mulai dari kalangan remaja hingga orang tua menghabiskan waktu luangnya menikmati kopi di warung kopi.

Diketahui, dahulu, kopi banyak dinikmati untuk menghilangkan rasa kantuk. Terlebih bagi para pria yang senang tidur hingga lewat tengah malam. Kopi juga identik dengan orang tua lengkap dengan sebatang rokok. Bagi mereka, kopi tanpa rokok ibarat sayur tanpa garam, ada yang kurang.

Zaman telah bergeser, begitu pula gaya hidup yang terbentuk di tengah masyarakat. Nyatanya kopi bukan lagi sekadar kebutuhan untuk begadang, hal itu ditunjukkan dengan menjamurnya kafe dan kedai kopi di berbagai sudut jalanan.

Para penikmat kopi pun bertambah, kini berasal dari berbagai kalangan. Pengamat gaya hidup, Sonny Muchlison menilai masyarakat Indonesia memiliki sifat "latah". Yakni, mengikuti sesuatu yang sedang menjadi tren.

Banyaknya kedai kopi juga mempunyai daya tarik tersendiri, itu akan merangsang seseorang untuk datang mencoba menu yang disuguhkan. Padahal, bagi pencinta kopi, kopi bukan hanya sekadar trend melainkan cara menikmati cita rasa kopi yang konsisten.

"Kopi itu sebenarnya tidak konsisten. Kepekatan dari kafein itu tergantung dalam proses pengolahan kopi. Kalau kopi itu digiling halus, kopinya akan lebih pahit. Biasanya dicampurkan tambahan lain untuk menghasilkan cita rasa yang diinginkan," jelas Sonny.

Ia menilai terkadang anak muda hari ini menikmati kopi hanya sebagai pelampiasan. Mau begadang minum kopi, kumpul-kumpul bareng sambil ngopi, melepas penat dengan kopi. Tak hanya produk kopinya, lanjut Sonny, profesi pembuat kopi atau biasa disebut barista juga mulai diminati.

Barista merupakan suatu pekerjaan yang memiliki keahlian dalam meracik kopi yang berbasis espresso. Profesi ini menjadi ternama karena dibutuhkan keahlian khusus hanya untuk menyajikan secangkir kopi. Membutuhkan jam terbang dan pengetahuan lebih tentang berbagai jenis kopi untuk mejadi seorang barista.

Bagi mereka yang memang menjadi penikmat kopi sudah barang tentu mampu membedakan barista sungguhan atau yang hanya coba-coba. Itulah sebabnya, penikmat kopi sejati tidak akan memperdulikan fasilitas yang disajikan suatu kedai kopi. Ia akan kembali jika sudah merasa cocok dengan keahlian si barista. "Bedanya dengan yang latah, pencinta kopi mengutamakan cita rasa dari kopi dan konsistensi barista dalam menyajikan secangkir kopi," tandasnya. (ant/mdk/bob)