Minggu, 08 Desember 2019


Ketua Gapoktan Dilatih Bela Negara

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 148
Ketua Gapoktan Dilatih Bela Negara

PELATIHAN – Suasana pelatihan Bela Negara kepada Ketua Gapoktan Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat (LDPM) dan Pengembangan Usaha Pangan Masyarakat (PUPM) Kalimantan Barat di Depo Pendidikan (Dodik) Bela Negara Rindam XII/Tpr, Kota Singkawang, Senin (18

PONTIANAK, SP - Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat (LDPM) dan  Pengembangan Usaha Pangan Masyarakat (PUPM) Kalimantan Barat diberi pelatihan bela negara pada kegiatan Leadership Camp © dan Capacity Building 4.0 di Depo Pendidikan (Dodik) Bela Negara Rindam XII/Tpr, Kota Singkawang, Senin (18/11). 

Kegiatan yang digagas oleh Bank Indonesia Wilayah Kalbar bekerjasama dengan Dinas Pangan, Peternakan, dan Kesehatan Hewan Provinsi Kalbar dan Dodik Bela Negara Rindam XII/Tanjungpura diikuti oleh 120 peserta dari unsur Gapoktan.

Manajer & Kepala Unit Koordinasi dan Komunikasi Kebijakan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Barat, Djoko Juniwarto menjelaskan BI terus berupaya berinovasi dalam membina dan memberdayakan para petani Kalbar. 

Disasarnya Ketua Gapoktan untuk mengikuti pelatihan bela negara ini, untuk meningkatkan kualitas kepemimpinan mereka. Hal itu perlu dilakukan karena Ketua Gapoktan rata-rata membawahi 20 Kelompok Tani (Poktan), di mana satu Poktan bisa diisi oleh 25-30 petani. 

"Di bawah koordinasi ketua Gapoktan ini ada ratusan petani. Kita menuntut ketahanan pangan, peningkatan produksi. Tentu untuk menciptakan kondisi tersebut diperlukan leadership," jelas Joko setelah pembukaan Kegiatan LC dan Capacity Building 4.0

Melalui pelatihan bela negara ini, sebagai salah satu membentuk seni kepemimpinan, sehingga ke depan Gapoktan di Kalbar bisa lebih produktif. Seperti contohnya bagaimana untuk menanam serentak, bagaimana penanggulangan UPT, pemanfaatan bantuan-bantuan pemerintah. 

"Walaupun tiga hari kegiatan, paling tidak mempunyai bekal kepemimpinan, interpreneurship, bela negara dalam bidang mereka. Sehingga mereka mengetahui bagaimana meningkatkan produksi, mengamankan bantuan pemerintah yang sudah diamanahkan untuk Gapoktan ini," jelas dia. 

Joko menjelaskan alasan selama ini BI ikut turun langsung membina Bidang Pertanian, agar inflasi bahan pangan dapat dikendalikan. Untuk di Kalbar sendiri setidaknya BI konsen para beras, dikarenakan merujuk pada tahun 2012 sampai sekarang bobot perhitungan cukup besar yaitu 4,14. 

"Sekalipun beras selama ini tidak terjadi gejala-gejala inflasi, namun hal tersebut harus tetap dijaga. Karena kalau tidak dijaga, begitu beras kena inflasi maka akan menimbulkan efek domino," jelas dia.

Joko berharap kegiatan ini bisa menjadi acuan nasional dan terus berlanjut, apalagi pelatihan leadership kepada ketua-ketua Gapoktan dan Poktan ini sangat diperlukan. 

Sejauh ini Gapoktan LDPM di Kalbar ada 55 di sembilan kabupaten center, binaan BI dan Dinas Peternakan dan Pangan Kalbar. Sedangkan PUPM terdapat 22 Gapoktan yang terlibat.

BI selama ini mengisi ruang-ruang kosong. Maksudnya, pada 2016 sudah ditingkatkan program oleh Kementan RI menjadi PUPM yang diberi bantuan operasional, lalu mereka didorong untuk memproduksi beras dan menjual beras murah. 

BI juga mendukung di bagian hilir agar gapoktan-gapoktan ini menangkar benih, sehingga benih-benih beras itu bisa jelas. Besaran anggaran dari BI yang pihaknya bina satu penangkaran itu hanya Rp20 juta.

"Sejauh ini ada sembilan penangkaran Gapoktan yang kita bina. Dari Rp20 juta itu bisa menghasilkan lima ton benih bagus. Lima ton bagi lima kilogram per hektar ada dua ratusan hectare,” katanya.  

“Sebenarnya simpel saja. Kalau kita mau memberdayakan mereka kayak di Selakau Timur itu, saya beri satu hektare, sekarang sudah lima hektare penangkaran," pungkasnya. 

Sementara Komandan Dodik Bela Negara Rindam XII/Tpr, Letkol Inf Hafes Isjafrin menjelaskan bela negara diperuntukkan untuk memberikan pemahaman mengenai wawasan kebangsaan. 

Terdapat empat sasaran dalam kegiatan bela negara ini yaitu lingkungan pemerintah, pendidikan, swasta dan masyarakat umum. 

Khusus untuk pelatihan Bela Negara kepada para Ketua Gapoktan bertujuan menggugah semangat dalam melaksanakan fungsi dan tugasnya. Sehingga berpengaruh pada kelompok tani (Poktan) yang dipimpinnya. 

"Mungkin selama kinerja atau sistem pembagian tugasnya belum optimal, melalui kegiatan bela negara ini dilakukan pembinaan untuk meningkatkan kembali kinerja mereka,” katanya. 

“Kedua, bagaimana melatih manajemen kelompok tani karena cukup banyak petani yang ada dalam kelompok tersebut. Sehingga ke depan ketua Gapoktan ini bisa memberikan solusi kepada para petani yang dibawahinya," jelas dia.

Ketiga, meningkatkan kesadaran bela negara karena pertanian bagian utama dari unsur untuk membangun bangsa. 

Dia menerangkan, TNI sudah aktif membantu di bidang pertanian seperti pendampingan pertanian, bahkan pihaknya diberikan tugas bagaimana meningkatkan produk pertanian dan pencetakan sawah baru. 

Kemudian, melakukan pendampingan kepada poktan-poktan ini, khususnya penyaluran pupuk, pendistribusian bibit, sistem pengairan, sampai nanti pada pelaksanaan sergap (penyerapan gabah). 

Menurut dia, ketahanan pangan bagian dari ketahanan nasional, sehingga apabila pangan terpenuhi, maka secara langsung ketahanan nasional akan terwujud.

"Karena objek yang paling utama itu adalah masyarakat. Apabila masyarakat pangannya terjamin, pasti mereka mewujudkan ketahanan nasional itu secara langsung. Tetapi apabila pangan itu tidak bisa diwujudkan, maka lambat laun akan turun ketahanan nasional ini," tuturnya. (iat/bah)