Kisah Emak-Emak Dibalik Suksesnya Penyelenggaraan STQ Nasional XXV 2019

Potret

Editor Mul Dibaca : 175

Kisah Emak-Emak Dibalik Suksesnya Penyelenggaraan STQ Nasional XXV 2019
Sri Sukarni (Mak Sri) Ketua Sanggar Tari Rancak Alun Rumah Melayu, bersama komunitas Emak-Emak, saat ditenda persiapan acara penutupan STQ Nasional 2019 di Alun-Alun Kapuas.
SajikanTarian Balek Kampong

Kesuksesan penyelenggaraan STQ Nasional XXV Tahun 2019 di Kota Pontianak, tidak terlepas dari peran emak-emak. Mereka tergabung dalam Rancak Alun Rumah Melayu.  

Peran emak-emak ini cukup sentral. Mereka sudah aktif sejak beberapa waktu lalu, terutama dalam mempersiapkan penampilannya. Mereka adalah salah satu pengisi acara pada pembukaan dan penutupan.  

"Delapan hari Bulan Ramadan, kami ditelepon oleh Koordinator Teknis STQ Nasional XXV tahun 2019, pak Syawal. Beliau menanyakan apakah kami siap untuk tampil dalam kegiatan ini," kata Ketua Sanggar Rancak Alun Rumah Melayu, Sri Sukai.  

Menurut ibu yang akrab dipanggil Mak Sri tersebut, dengan personil berjumlah 200 orang, ia menyatakan sanggup menyediakan sejumlah personil tarian, yang pernah disaksikan oleh Gubernur Kalbar. Saat itu, pertunjukan pada salah satu event di Kota Singkawang.  

"Itu adalah tarian Kopi Pancong. Kemudian tarian yang di pertunjukan pada Hari Tari Sedunia beberapa waktu lalu di Kota Pontianak adalah Tarian Balek Kampong," papar Mak Sri.  

Setelah menggelar rapat, lanjut Mak Sri, seminggu kemudian, mereka menggelar latihan. Setelah itu barulah dipadukan dengan Sanggar Tari Andari, yang dipimpin oleh Kusmindari Triwati, S.Sn, M.Sn, serta di bawah binaan langsung Ibu Walikota Pontianak.  

"Ada 217 penari yang tampil pada malam penutupan STQ Nasional 2019," terangnya.   
"Karena ini moment STQ, maka pertunjukannya kami seusaikan dengan nuansa Islami, yaitu diawali dengan pembacaan Dua Kalimah Sahadat", papar Mak Sri.   

Adapun tarian yang ditampilkan oleh komunitas emak-emak yang tergabung dalam Rancak Alun Rumah Melayu ini adalah Tarian Balek Kampong, yang menggambarkan kerinduan seseorang akan kampung halaman nya, Kota Pontianak.  

"Kami rutin mengadakan latihan setiap Sabtu, di Rumah Adat Melayu. Di samping itu juga kami selalu mengadakan Bakti Sosial dengan menyantuni anak yatim piatu dan tidak hanya itu, kami juga selalu intensif menggali potensi Adat dan Tradisi Budaya Melayu di Kalbar," pungkasnya. (arief adi mulia)