TKW asal Desa Mensere Curhat Ke Bupati Sambas

Sambas

Editor sutan Dibaca : 1223

TKW asal Desa Mensere Curhat Ke Bupati Sambas
Lidya sedang berdialog dengan Bupati Sambas, Juliarti Djuhardi Alwi (kanan) di Kantor Bupati Sambas, Selasa (5/4). SUARA PEMRED/Nova Jarthakusuma
SAMBAS, SP- Lidya (31), Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Desa Mensere, Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas yang bekerja di Negara Bagian Sarawak, Federasi Malaysia, terlantar setelah pulang ke kampung halaman.  

Tiba di rumah, Lidya yang  berstatus janda,  sering dianiaya ayah kandungnya yang berprofesi sebagai penyalur tenaga kerja Indonesia ke Malaysia.   “Saat pulang ke rumah, saya sering dipukul ayah. Karena tidak tahan dipukul terus, saya akhirnya mengungsi di rumah keluarga,” kata Lidya di hadapan Bupati Sambas, Juliarti Djuhardi Alwi,  Selasa (5/4/2016).  

Pada Januari 2015, Lidya diberangkatkan ayahnya  ke Distrik Bintulu menjadi  Tenaga Kerja Wanita (TKW) untuk bekerja di perusahaan kayu (plywood).  Sekitar seminggu kemudian, janda beranak dua ini dipulangkan dari tempat kerjanya karena dianggap ilegal dan sakit.  

Kepulangan Lidya, membuat ayahnya sering marah. Tidak jarang Lidya jadi korban penganiayaan ayahnya, tanpa diketahui sebabnya.  Karena tidak tahan akan siksaan, Lidya mengaku melapor ke Polsek Tebas, tapi tidak ditanggapi. Laporan Lidya malah ditolak.
 

Demikian pula, ketika meminta perlindungan dengan keluarga, tidak ada yang berani menampung, karena takut salah paham dengan ayah Lidya.   Saat meminta perlindungan kepada Muazah, anggota DPRD Sambas, tidak ditanggapi.   

Padahal, Muazah, masih memiliki hubungan famili dan membiayai pembuatan paspor Lidya, agar bisa berangkat ke Sarawak.  Karena tidak ada yang mau menolong, Lidya mencoba mencari Kantor Komnas HAM, dan ternyata hanya ada di Pontianak.
 

Saat akan menemui anaknya di Desa Wajok, Kecamatan Siantan Hilir, Kabupaten Mempawah, Lidya ditolak mentah-mentah oleh mantan suaminya.  “Karena sudah putus asa, saya memberanikan diri datang ke Kantor Bupati Sambas, agar ada solusi bagi saya untuk bisa bertahan hidup. Saya benar-benar sudah ditolak orangtua, setelah pulang kerja dari Sarawak, lantaran sakit,” ungkap Lidya.
 

Menurut Lidya, kedatangannya ke Kantor Bupati Sambas, hanya ingin mencari keadilan, ketenangan hidup dan memperoleh pekerjaan yang sesuai kemampuan untuk bertahan hidup. (nova jarthakusuma/aju)