Kamis, 12 Desember 2019


Perahu Garam Laik Konsumsi

Editor:

Kiwi

    |     Pembaca: 589
Perahu Garam Laik Konsumsi

FOTO BERSAMA – Pejabat Dinas Kesehatan Kabupaten Sambas, Badan Pengawas Obat dan Makanan) Kalbar dan Direktur CV Inti Nanvia berfoto bersama Konferensi Pers terkait garam cap Perahu Garam di Kantor Diskumindag Kabupaten Sambas

SAMBAS, SP - Setelah diisukan mengandung kristal dan kaca, akhirnya garam dengan merek Perahu Garam dinyatakan sehat dan laik konsumsi.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Bidang Sumber Daya dan Promkes Dinas Kesehatan Kabupaten Sambas, Yusuf Han saat konferensi pers di Kantor Diskumindag Kabupaten Sambas, Kamis (26/10).

"Pada Senin (23/10) lalu, kami telah mengirimkan sampel garam cap Perahu Garam kepada BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) Kalbar karena dikeluhkan masyarakat mengandung kristal bening," ujar Yusuf.

Selang beberapa hari, hasil uji laboratorium dari BPOM akhirnya keluar dan menyatakan bahwa produk garam cap Perahu Garam yang diedarkan oleh CV Inti Nanvia laik untuk digunakan.

"Dari hasil uji laboratorium garam tersebut (Perahu Garam) lolos uji dan laik untuk dikonsumsi. Dengan ini masyarakat tidak perlu khawatir," ungkap Yusuf.

Namun demikian, Yusuf juga mengatakan agar masyarakat untuk tetap selalu cerdas sebagai konsumen.

"Selalu jadilah konsumen yang cerdas. Perhatikan betul makanan yang akan dikonsumsi, izin edarnya, sertifikasi halalnya, nomor registrasi BPOM  serta kemasannya," jelas Yusuf.

Di waktu mendatang, Yusuf berharap agar masyarakat juga selalu mawas dan tidak segan untuk melaporkan jika menemukan makanan yang diduga tidak laik konsumsi.

"Kita juga menerima layanan pengaduan dari masyarakat, terkait makaman dan obat. Bisa melalui telepon dan surat aduan yang disampaikan kepada Dinkes Sambas. Jika memang bisa dilakukan pengujian di Sambas, maka kita lakukan pengujian. Namun, jika memang diperlukan kita akan sampaikan kepada BPOM," pungkas Yusuf.

Di tempat yang sama, Kepala Bidang Pengujian Pangan, Bahan Berbahaya dan Mikrobiologi BPOM Kalbar, Yanuarti mengatakan, kristal yang terdapat pada garam tersebut bukan bahan berbahaya, melainkan garam yang susah untuk larut.

"Kami telah lakukan pelarutan dan disaring kembali dan tidak ditemukan kaca. Kita lakukan pengecekan dan semua adalah murni garam," ungkap Yanuarti.

Perbedaan kadar air pada garam dalam satu kemasan, kata Yanuarti juga mempengaruhi bentuk garam tersebut.

"Bisa saja ada yang agak lama larutnya. Karena persoalan kadar air dan bentuknya yang berbeda. Produk ini sudah terdaftar dan aman dikonsumsi," jelas Yanuarti.

BPOM juga selalu melakukan pemeriksaan terhadap proses produksi garam di lokasi pabrik.

"Secara periodik, sarana tempat produksi juga kami selalu lakukan pemeriksaan," pungkas Yanuarti. (noi/bah)