Impor Beras Patahkan Semangat Petani

Sambas

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 437

Impor Beras Patahkan Semangat Petani
TANAM PADI – Petani sedang menanam padi di sawah. Kebijakan Kementerian Perdagangan RI mengimpor beras di awal tahun 2018 ini mengecewakan petani padi di Kabupaten Sambas. (Ant)

Padahal Produksi Padi Surplus pada 2017 


Petani, Eli 
"Dengan kondisi sekarang saja, kami cukup susah menjual beras atau gabah. Apalagi pemerintah mau datangkan (impor beras) dari luar"

SAMBAS, SP - Keputusan Kementerian Perdagangan RI untuk membuka keran impor beras mematahkan semangat petani padi untuk berproduksi di Kabupaten Sambas. 

Padahal, Sambas tercatat sukses dalam hal menanam padi, bahkan hingga surplus 100 ribu ton pada 2017 kemarin.

Diketahui, kebijakan impor beras itu tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 1 Tahun 2018.
Kebijakan impor beras tersebut merupakan yang pertama kalinya dalam dua tahun terakhir saat pemerintah terakhir membuka keran impor beras pada 2015.

Sebanyak 500.000 ton beras yang akan diimpor pada Januari 2018. Kebijakan ini muncul karena adanya kekurangan beras jenis medium sejak akhir tahun 2017. Akibatnya harga beras di pasaran pun melambung tinggi.

Satu di antara petani Kecamatan Sebawi, Eli kecewa dengan keputusan Kemendag RI tersebut. 

"Dengan kondisi sekarang saja, kami cukup susah menjual beras atau gabah. Apalagi pemerintah mau datangkan (impor beras) dari luar," ucap Eli, Senin (15/1).

Petani lainnya, Jumadi juga merasakan hal serupa. 

"Ya mungkin memang tidak banyak perubahan atau dampaknya bagi kami yang jauh ini, tapi kami di sini berlebih berasnya. Kalau beli dengan petani kan akan lebih menyejahterakan rakyat," kata Jumadi. 

Sementara Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Sambas, Musanif mengatakan, impor beras akan merugikan petani.

"Selama ini kita mampu surplus beras melebihi kebutuhan. Langkah Impor beras hanya akan merugikan petani kita," tegas Musanif.

Malah, para petani di Kabupaten Sambas saat ini sedang memperluas sawah mereka.

"Petani kita sekarang malah sedang bergiat melaksanakan penambahan luas tanam dan peningkatan produksi padi atau beras. Mungkin sebaiknya langkah impor beras ini dipertimbangkan kembali," ungkap Musanif.

Namun, nasi sudah jadi bubur, pemerintah pusat tetap bulat dengan pendirian mereka untuk mengimpor beras medium dari Vietnam dan Thailand.

Meskipun demikian, Musanif tetap berusaha memberikan motivasi kepada petani agar tidak patah semangat.

"Kita tetap bergiat mendorong petani kita untuk lebih meningkatkan usaha tani padinya. Sebab, ke depan kami masih tetap optimis bahwa hasil produksi bisa meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan mereka," kata Musanif.

Semangat tersebut, kata Musanif, akan tetap dijaga sembari berharap pemerintah pusat tidak lagi mengambil tindakan yang sama.

"Hal ini kita lakukan sambil berharap pemerintah juga mencari solusi terbaik dan tidak lagi mengambil kebijakan yang bersifat instan atau jangka pendek dengan cara impor beras.Tidak impor beras adalah merupakan salah satu keberpihakan nyata pemerintah kepada petani kita," pungkas Musanif.

Swasembada Pangan Gagal


Akademisi Pertanian Sambas, Erik Darmansyah mengatakan, ada satu syarat yang harus dipenuhi pemerintah sebelum melakukan ekspor beras yakni mengakui kegagalan program swasembada pangan.

"Negara harus mengakui dulu bahwa program ketahanan pangan yang dicanangkan telah gagal, baru wajar impor beras," kata Erik.

Langkah ekspor beras merupakan upaya jangka pendek yang boleh dilakukan apabila kondisi pangan memang sedang benar-benar menipis.

"Impor beras adalah langkah pendek untuk mengamankan stok pangan. Di sisi lain ini menunjukkan kegagalan negara yang memprogramkan ketahanan pangan yang juga melibatkan banyak pihak, bahkan termasuk kita dari dunia akademis. Ini ibarat kegagalan yang terus berulang," jelas Erik.

Klaim berbeda disampaikan Kementerian Pertanian RI dan ketahanan pangan yang menyatakan memiliki stok satu juta ton beras.

"Harus dicari lubang di mana beras kita bocor itu disumbat. Evaluasi program yang sudah dilakukan, temuan teknologi pertanian yang sudah dilakukan dimaksimalkan," jelas Erik.

Dosen Politeknik Negeri Sambas ini melanjutkan bahwa Sambas memiliki potensi yang sangat menjanjikan dalam hal pertanian padi.

"Potensi pertanian padi di Sambas sangat tinggi. Lahan kita sangat luas. Petani kita sangat mudah untuk dikoordinasi. Itu adalah kelebihan yang kita miliki dan sangat disayangkan apabila hal ini terabaikan karena pemerintah lebih senang membeli beras Thailand," pungkas Erik. (noi/bah)