Tenun Sambas, dari Suvenir Pernikahan Pangeran William sampai Pameran Tunggal di Jepang

Sambas

Editor K Balasa Dibaca : 648

Tenun Sambas, dari Suvenir Pernikahan Pangeran William sampai Pameran Tunggal di Jepang
Fajar Dwi Rohyani.
Awalnya, masyarakat Sambas menyebut kain hasil polah mereka ‘kain benang emas’. Dipakai untuk menjelaskan strata sosial, bernilai tinggi dengan kain nan mulia. Kain itu dibuat dengan mesin tenun tradisional. Terbuat dari kayu, bambu, kulit sagu, tali rotan dan kulit kelapa. Namun siapa sangka, kini kain yang dikenal dengan Songket Sambas tersebut sudah keliling dunia.

Hingga kini, tata cara dan alat pembuatnya masih sama. Teknologi tradisional itu tetap lestari. Hasilnya pun banyak dicari. Namun bukan tanpa proses.

Fajar Dwi Rohyani jadi tali para penenun asli Sambas dengan pasar dunia. Berawal dari upaya Pemerintah Kabupaten Sambas dan dirinya yang juga mengabdi di sana, kain khas ini sudah cukup dikenal. Hanya kurang tenaga ahli untuk sampai pasar nasional. Hingga akhirnya usaha tak mengingkari hasil.

"Tahun 2009, pihak Garuda Indonesia datang ke Sambas, mereka tertarik untuk lebih mengenali Songket Sambas, ada program CSR yang ingin dilaksanakan di Sambas," katanya, Rabu (26/12).

Pertemuan itu jadi pintu masuk Songket Sambas mendunia. Garuda Indonesia menggandeng Citra Tenun Indonesia (CTI) membina penenun lokal di Desa Sumber Harapan, Kecamatan Sambas. Kini, di daerah itu berdiri rumah tenun.

Fajar lantas dipercaya jadi penghubung penenun dan pihak maskapai nomor wahid Nusantara itu. Mulai dari pengembangan program hingga mengurus kredit lunak, jadi pekerjaan tambahannya.

Kedatangan maskapai plat merah tersebut tidak serta merta. Sebelumnya, mereka survei mutu dan tanggapan masyarakat. Kemudian, selama satu tahun penenun dibina dengan peningkatan kualitas produk, hingga menggandeng desainer. Tak hanya pembinaan, kain tenun Sambas diangkat ke pameran berskala nasional bahkan internasional.

"Ini berlanjut hingga sekarang. Program pembinaan juga mencakup perluasan jaringan terhadap bahan baku, untuk membuat kain tenun Sambas yang disesuaikan dengan ekspektasi luas, serta tren masa kini," paparnya.

Pembinaan tersebut, akhirnya melahirkan songket Sambas jenis baru, hybird gabungan tradisi dan tren masa kini. Bahan baku benang yang semula polyster, diganti katun dan sutra.

"Ini untuk mengikuti tren bahan masa kini. Bahkan kain songket Sambas juga tak lagi menggunakan bahan pewarna kimia, semua sudah menggunakan pewarna alami," kata perempuan 35 tahun itu.

Program pengembangan itu disambut gerak estafet Pemkab Sambas. Promosi makin mereka gencarkan. Hasilnya, tahun depan muncul permintaan khusus dari pemerintah Jepang, untuk menggelar pameran tenun songket Sambas.

"Ini sebuah kehormatan bagi kita semua dan para penenun," sambungnya.

Malah pada 2011, kain kebanggaan itu jadi suvenir pernikahan Pangeran William dan Kate Middleton. Bangsawan terkenal dari Kerajaan Inggris Raya.

"Kita memang go internasional, ini berkat para desainer nasional, kain songket Sambas dibawa ke parade di Paris, lalu fashion show di China dan negara lainnya,” ceritanya.

Senasib dengan jeruk Sambas, yang dikira dari daerah lain, tenun songket Sambas sempat disangka berasal dari Palembang. Hal itu lantaran ciri khas Melayu yang kental terlihat dari pola kain. Akan tetapi, pengakuan para ahli setidaknya membuat para penenun bangga, pasalnya kain yang mereka hasilkan memiliki nilai kualitas lebih baik.

"Para expert di tingkat nasional bahkan mengatakan, tenun songket Sambas bersaing dengan tenun Palembang. Namun dari sisi cara pengerjaan dan kerapiannya, dinilai lebih baik dari tenun Palembang," ucapnya. (nurhadi/balasa)