Hanya 300 Penenun Lestarikan Peradaban Tenun Sambas

Sambas

Editor K Balasa Dibaca : 195

Hanya 300 Penenun Lestarikan Peradaban Tenun Sambas
DIPERKENALKAN - Tenun kain Songket Sambas saat diperkenalkan Ketua Cita Tenun Indonesia, Okke Hatta Rajasa di acara IDENESIA di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Dari sekian ribu jumlah penduduk di Kabupaten Sambas, ternyata tak lebih dari 300 orang saja yang jadi penenun kain benang emas. Padahal, songket emas itu merupakan simbol tinggi peradaban dan budaya masyarakat setempat.

Kilau emasnya merupakan laksana, semakin banyak bunga emas dan pucuk rebung, maka semakin tinggi nilainya. Semakin terpandang juga pemakainya. Kain tersebut erat dengan budaya Melayu. Bahkan jadi syarat tak tertulis hantaran pernikahan. Budaya seserahan dengan tenun Sambas itu terus terjaga hingga sekarang. Namun tak seiring dengan nilainya, menjadi penenun kain songket kurang diminati generasi muda.

Penggerak tenun Sambas, Fajar Dwi Rohyani, bercerita dari setengah juta lebih penduduk, hanya 250 sampai 300 orang saja yang menjadi penenun. Hanya beberapa di antaranya yang berusia 30-an, sisanya setengah abad ke atas.

"Ini salah satu kendala yang kita hadapi,” sebutnya.

Jika sebelumnya masalah pasar sempit dan harga terlalu murah, kini penerusnya yang sulit dicari. Padahal popularitas dan kelarisan hasta karya lokal itu terus menanjak. Harganya pun kian fantastis. Berkisar Rp1,5-4 juta.

Kebimbangan akan punahnya budaya nan kaya ini, dirasakan banyak orang. Fajar mendorong agar sekolah memasukkan bertenun kain songket dalam muatan lokal. Sejauh ini, baru SMAN 1 Sajad yang merealisasikan.

“Dulu, bertenun kain songket jadi pekerjaan yang sangat digandrungi. Ini pekerjaan para gadis,” sambungnya.

Saking menariknya, di era pemerintahan Presiden Soeharto, satu gadis Sambas dibawa ke Jakarta untuk memperkenalkan cara menenun songket Sambas saat peresmian Taman Mini Indonesia Indah, 20 April 1975. Gadis itu kini sudah jadi seorang ibu. Namanya Mardiah, warga Desa Tanjung Mekar Kecamatan Sambas. Mardiah jadi perempuan pertama yang memperkenalkan kain tenun songket Sambas kepada Presiden dan Ibu Negara Indonesia.

"Saat itu saya umur belasan tahun, dibawa Dinas Perdagangan ke Jakarta, untuk menunjukkan cara bertenun kain songket Sambas di depan Ibu Tien Soeharto," kenangnya.

Tak hanya kain tenun hasil tangannya yang jadi purwarupa budaya Sambas di kancah nasional kala itu, rumah atau mesin tenun tradisional buatan sang ayah, Alm H Tan Arwi Abbas juga disimpan di Taman Mini Indonesia Indah.

"Rumahan tenun buatan ayah saya juga diminta untuk ditinggalkan sebagai barang pameran di sana, Ibu Tien titip oleh-oleh baju kemeja batik dan kain batik serta penghargaan," tuturnya.

Di usianya yang sudah menginjak 60 tahun, Mardiah tak lagi kuasa menenun. Namun dia mengingat setiap detil langkahnya. Bahkan untuk semua jenis dan motif kain.

Dia bercerita, dulu alat tenun berasal dari alam. Mulai dari akar kayu hingga rotan. Sekarang sudah diganti tali untuk mengikat papan yang digulung benang. Selain itu ada pula kulit kelapa yang disisakan serat-seratnya untuk menyisir benang. Ada turak dan pelating untuk menyusupkan benang, yang terbuat dari bambu. Dan berbagai komponen lain yang diambil dari alam.

"Dulu tak ada gadis yang tak pandai bertenun, malu kalau tak bisa bertenun, karena anak gadis zaman dulu tak ke Malaysia, orang Sambas tidak ke Malaysia, mereka berdagang saja ke sana," ingatnya. (nurhadi/balasa)