Cerita Bang Ben ‘Si Penyerang Fajar’

Sambas

Editor K Balasa Dibaca : 208

Cerita Bang Ben ‘Si Penyerang Fajar’
ilustrasi politik uang.
Istilah ‘serangan fajar’ atau jual beli suara akrab di telinga. Ungkapan yang populer, apalagi di musim Pemilu. Jurnalis kami di Kabupaten Sambas, Nurhadi secara tak sengaja bertemu kembali dengan Bang Ben (nama samaran) di sebuah warung kopi. Sosok yang sempat akrab dengan praktik culas tersebut.

"Saya cuma menyalurkan saja, uang dan atau barang kepada warga dari yang minta dipilih," kata Bang Ben sambil mengatur kursi mempersilakan duduk di sebuah warung kopi di Pasar Sambas, Senin (15/4).

Dia duduk dengan pakaian rapi dan wangi khas Timur Tengah. Lelaki itu bercerita sembari menghisap rokok. Dari obrolan ringan, sampai kisahnya sebagai penyerang subuh. Namun di Pemilu kali ini, dia tak ambil bagian. Belum ada order, katanya.

"Kita tidak pernah menawarkan, cuma saja ada orang, katanya tim sukses, yang mendatangi lalu minta dibantu menyalurkan bantuan sosial untuk warga. Bantuan sosial bersponsor dengan pesan khusus," kelakarnya.

Cerita makin dalam sedalam nikmat seduhan kopi Sekura. Sesekali, Bang Ben mendesis, mengalirkan asap tembakau sembari memandang tiap wajah yang datang.

"Dulu yang banyak suka serangan fajar itu, yang mau jadi anggota dewan," bisiknya di tengah keramaian pasar.

Tidak ada standar pasti besaran harga tiap suara. Tergantung kemampuan si empunya niat.

"Tidak ada standar pasarnya, kalau si A sedekahnya Rp100 ribu, si B akan menimpali dengan Rp150 ribu. Lalu bisa jadi akan ada yang tambah jadi Rp250 ribu. Main timpal gitu, padahal belum tentu juga dipilih, tapi uang sudah habis," katanya.

Namun melihat kondisi terkini, kemungkinan serangan fajar di Sambas dan sekitarnya dibanderol Rp200 ribu per suara.

“Tapi sekarang saya tak tahu, entah ada atau tidak serangan fajar," ungkapnya.

Menjadi aktor di balik politik uang perlu keberanian. Dia paham dengan risiko penjara. Namun sejauh ini, warga menerima dengan tangan terbuka.

"Siapa juga yang tidak mau dengan uang, mereka yang diberi uang tidak akan marah dengan saya, karena saya tidak memaksa," tuturnya.

Akan tetapi, murka bukan tidak pernah didapat. Dia pernah disemprot lantaran target suara tak tercapai.

"2014 dulu pernah ada yang marah-marah karena katanya suaranya tak cukup target di wilayah yang diserang. Marah gitulah, karena kalah," ungkapnya.

Namun bila calonnya menang, rezeki berlimpah datang. Mereka bahkan ingat sampai hari raya tiba. Dia dapat THR juga.

"Yang kalah pasti protes, marah, kecewa, mau bagaimana lagi, dia kasih Rp100 ribu, ada yang menimpali Rp150 ribu. Masyarakat untung dapat Rp250 ribu. Makanya mereka suka kalau banyak diserang fajar," katanya.

Untuk pekerjaan itu, dia biasa dibayar Rp20 ribu per kepala. Paling sedikit 100 orang jadi target. Angka itu menurutnya lumayan untuk kerja satu malam.

Apa yang dilakukan Bang Ben dulu, sejatinya melanggar Undang-undang Pemilu. Masuk kategori politik yang dengan ancaman penjara tiga sampai enam tahun. Dendanya berkisar Rp36-72 juta.

“Pemberi, penerima, akan mendapat sanksi sama,” kata Komisioner Bawaslu Sambas, Mustadi.

Kini, seharusnya tak ada lagi ‘ambil uangnya jangan pilih orangnya’. Sebab aturan mengatur tegas semua yang terlibat bisa dipidana.

“Sekarang sudah berubah, tak ada lagi yang begituan, tak boleh lagi. Kedua pihak yang memberi dan menerima akan terkena sanksi hukum," tegasnya. (nurhadi/balasa)