Ribuan Lahan Jeruk Terkontaminasi Penyakit

Sambas

Editor elgiants Dibaca : 50

Ribuan Lahan Jeruk Terkontaminasi Penyakit
Foto bersama – Bupati Sambas, Atbah Romin Suhaili foto bersama peserta usai audensi tentang persoalan pengembangan tanaman jeruk Sambas, di Aula BPTP Kalbar, kemarin.
SAMBAS, SP - Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kalimantan Barat bekerja sama dengan Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika Malang (Balitjestro), Kabupaten Malang mengembangkan Teknologi Perbenihan Jeruk Mutu Premium.

Upaya yang dilakukan merupakan langkah nyata mengembalikan kejayaan agribisnis jeruk Sambas yang dulunya sangat terkenal.
Peneliti dari Balitjestro Malang, Taufiq mengemukakan, berdasarkan hasil penelitiannya, pertanian jeruk Sambas berada di kawasan sentra produksi yang belum bebas dari penyakit CVPD berkepanjangan sejak 2008.

Luasan lahan yang terkontaminasi seluas 11.328 hektar dan sekitar 7.281 hektar pada 2016. Permasalahan lainnya kelembagaan petani masih rapuh.

“Penanganan penyakit CVPD kurang serius, program yang dilaksanakan masih lemah dan parsial serta tidak ada konsistensi,” ujarnya saat audensi dengan BPTP Kalbar dan Pemkab Sambas di Aula BPTP Kalbar di Pontianak, kemarin.

Menurutnya, wajar produktifitas jeruk dari tahun ke tahun menurun. Produktifitas tahun 2014 sebanyak 147.105 ton dan tahun 2016 menjadi 93.097 ton. 

“Sudah ada beberapa langkah strategis untuk pembangunan program jeruk di Sambas. Termasuk pengendalian CVPD melalui Pengendalian Terpadu Kebun Jeruk Sehat atau PTKJS,” jelas dia. 

Untuk program jeruk di Sambas, telah dilakukan penanaman baru di Kecamatan Tebas, dimulai dari Desa Matang Labong dan Pusaka. Penanaman dilakukan bertahap sampai seluruh areal tanam di Tebas dilakukan dengan pola PTKJS. 

Selain itu, kawasan pengembangan jeruk di Kecamatan Sebawi, lanjut Taufiq akan diupayakan aman dari serangan CVPD, agar tidak seperti kondisi di Tebas. 

“Yang urgen saat ini bagaimana membangun industri benih yang tangguh di Sambas,” jelas Taufiq. 

Kepala BPTP Kalbar, Akhmad Musyafak mengatakan, PTKJS memiliki beberapa langkah penting. Teknologi untuk Kawasan penanaman baru di Tebas mengharuskan menggunakan bibit unggul. 

“Standarisasinya menggunakan bibit berlabel biru. Melakukan eradikasi tanaman sakit. Yang penting pengendalian vektor CVPD diaphorina citri. Bagaimana CVPD ini benar-benar bersih,” ujar dia. 

Dijelaskan Musyafak, ada komitmen penting dalam menangani CVPD. Semua komponen tegasnya harus kompak. “Petugas dan petani harus disiplin dalam menerapkan PTKJS,” imbuhnya. 

Musyafaq juga menegaskan pentingnya membangun industri benih jeruk. Kata dia, pembangunan agribisnis jeruk diawali dari pembenihan. 

“Agribisnis jeruk yang berkesinambungan dan bersaya saing menuntut dukungan industri benih yang tangguh,” pungkasnya. (noi/jee)