Gairah Sepakbola di Ujung Utara Sambas

Sambas

Editor elgiants Dibaca : 108

Gairah Sepakbola di Ujung Utara Sambas
Peresmian – Bupati Sambas, Atbah Romin Suhali meresmikan Tengguli Cup di Kecamatan Sajad, Desa Tengguli. Pertandingan sepak bola di desa ini rutin diselengarakan sejak 33 tahun lalu. Ist
SAMBAS, SP - Sepakbola tak hanya sebuah cabang olahraga, tapi menjadi hasrat demi prestasi, nama dan hobi. Olahraga yang satu ini adalah sebuah kegandrungan yang menggila, tak hanya bagi penggemarnya namun juga para pemainnya.

Di Sambas, berbicara sepakbola ibarat cerita tentang beras, bahkan lebih sering menjadi menu utama obrolan. Di sini, selalu terdapat agenda pertandingan yang rutin diselenggarakan setiap tahun usai Idulfitri.

Demikian pula sekarang. Seperti tahun tahun sebelumnya di Kecamatan Sajad, Desa Tengguli menjadi tuan rumah pertandingan dengan level antar kampung yang telah dilakukan sejak 33 tahun lalu.

"Mungkin menjadi sarana silaturahmi Idulfitri, dulu hadiahnya kambing yang diperebutkan puluhan kesebelasan dari berbagai desa yang bertanding," kata pelaku sepakbola Sambas Ulie, Rabu (12/6).

Kegiatan yang terlepas dari agenda PSSI, KONI atau Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Sambas ini tak pernah tersentuh skandal apapun, mungkin karena dikelola dengan semangat kegotong royongan masyarakat desa.

“Kompetisi pertama kalinya dinamakan Putera Rimba kemudian menjadi Opti yakni Organisasi Pelajar Tengguli,  lalu seiring berjalan waktu, Opti diubah jadi Tengguli Cup hingga sekarang,” kata tokoh pemuda Kecamatan Sajad, Senri.

Jika pada beberapa penyelenggaraan event sepakbola atau olahraga lainnya, penyelenggaraan pertandingan selalu memberatkan para sponsor dan pemerintah untuk campur tangan dalam hal finansial, maka Tengguli Cup adalah sebuah contoh konkrit sebuah keinginan memajukan sepakbola yang murni tanpa mengharap belas kasih, malah yang terjadi adalah kebalikannya.

Dari kegiatan tersebut, panitia bahkan bisa memberikan pemasukan bagi Desa Tengguli jutaan rupiah dalam setiap kali ajang ini terselenggara.

“Untuk pengelolaan dan manajemen keuangan, kita memang tidak mengharapkan bantuan dari luar, sumber kita dari karcis penonton, dan itu kita kelola untuk hadiah pemenang dan modal penyelenggaraan selanjutnya, sebagian juga kita beri ke desa sebagai pemasukan,” paparnya. (noi/jee)