Senin, 14 Oktober 2019


Sambas Sukses Laksanakan Program Kampung Iklim

Editor:

Aep Mulyanto

    |     Pembaca: 58
Sambas Sukses Laksanakan Program Kampung Iklim

Wabup Hairiahdan peserta foto bersama usai pemebukaan Sosialisasi Proklim dan rencana Kampung Iklim 2020, di Aula Hotel Pantura, Rabu (2/10/2019).

Sambas Sukses Laksanakan Program Kampung Iklim

 

SAMBAS, SP - Wakil Bupati Sambas, Hairiah mengapresiasi dilaksanakannya Program Kampung Iklim (Proklim) di Kabupaten Sambas. Program ini sendiri telah diluncurkan sebagai gerakan nasional pengendalian iklim berbasis komunitas, sejak 2016.
Hal ini disampaikan oleh Wabup Hairiah, tatkala membuka Sosialisasi ProKlim dan rencana Kampung Iklim 2020, di Aula Hotel Pantura, Rabu (2/10/2019).

Menurutnya, berkat upaya Bupati Sambas, Wabup, Sekda, dan seluruh OPD, camat, Kades, serta seluruh warga, maka Proklim Sambas mendapat penghargaan dari Pemerintah Pusat.  

“Melalui Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Pemukiman dan
Lingkungan Hidup (Perkim LH), Sambas mendapat apresiasidari Pempus, sebagai salah satu Kabupaten ProKlim, tentu ini sangat membanggakan kita semua," tutur Wabup Hairiah.

Proklim sendiri, lanjut Wabup Hairiah, dilaksanakan dalam rangka meningkatkan keterlibatan masyarakat dan pemangku kepentingan. Yang ditujukan untuk melakukan kapasitas adaptasi terhadap dampak perubahan iklim.

“Serta memberikan pengakuan terhadap upaya adaptasi dan perubahan iklim yang dapat meningkatkan kesejahteraan di tingkat lokal sesuai dengan kondisi wilayah,” tuturnya.
Program ini sangat erat kaitannya dengan Desa Mandiri, yang telah dicanangkan oleh Gubernur Kalbar. Karena Desa Mandiri tidak hanya berdampak pada lingkungan saja, tetapi juga pada segi-segi kehidupan, baik dari ekonomi, sosial, hukum dan lainnya.

“Sehingga, kemandirian ini dapat melepaskan dari berbagai macam keterbelakangan dan kemiskinan," ujar Wabup.
Hairiah juga mengatakan bahwa isu perubahan iklim telah menjadi perhatian banyak pihak, baik di tingkat lokal, regional, nasional bahkan internasional.
Indonesia, lanjutnya, sebagai jantungnya dunia, heart of borneo tentu menjadi sorotan dunia.

“Hal ini dapat dilihat beberapa tahun belakangan, karena maraknya illegal logging di Indonesia, yang menjadi sorotan dunia, sehingga Walhi dan Greenpeace mengingatkan kita akan dampak dari global warming, tentu ini harus menjadi perhatian kita semua," jelasnya.
Pengendalian perubahan iklim, ucap Hairiah, tidak dapat dilakukan oleh pemerintah saja, tetapi juga memerlukan kerjasama berbagai pihak.
Ia pun berharap kegiatan ini tidak hanya sebatas sampai di sini, namun buat rumusan strategis untuk perbaikan dalam program yang akan di implementasi di setiap wilayah.

“Termasuk di wilayah desa serta komunitas seperti pondok pesantren, universitas dan lainnya," pungkasnya. (noi)