Senin, 23 September 2019


Belajar dari Kearifan Tiong Kandang (Bagian Dua)

Editor:

Kiwi

    |     Pembaca: 1662
Belajar dari Kearifan Tiong Kandang (Bagian Dua)

Mata Air - Warga memeriksa tempat penampungan air dari mata air di Bukit Tiong Kandang. Air dari bukit itu jernih dan tak pernah kering, sekalipun musim kemarau panjang.

Menjaga Mata Air Mengalir Demi Kehidupan 

"Air ini tak pernah kering. Selalu mengalir sepanjang tahun," kata Kepala Desa Tae, Melkianus Midi. Tak seperti desa-desa lain yang mungkin mengalami krisis air bersih. Di sini, air justru melimpah. Ini menandakan hutan yang berfungsi sebagai resapan air, masih terjaga dengan baik. Air inilah yang digunakan untuk minum, masak dan mengairi sawah.

“Warga membuat instalasi jaringan air bersih dari mata air untuk dialiri ke rumah-rumah. Pipa air dibuat sendiri dengan biaya swadaya. Airnya biasa kami minum langsung, tanpa perlu dimasak. Lebih segar,” ujar Melkianus.

Bagi masyarakat Dayak Tae, air ibarat darah. Mata air dijaga dengan baik, bahkan dianggap keramat. Jika ada yang mencemari air, hukumannya sangat berat karena ada tiga hal yang dilanggar.

Yakni, memusnahkan ikan, meremehkan adat dan mencemarkan nama lingkungan wilayah air (sungai).
“Misalnya kalau nuba (meracuni) air. Itu hukumannya lebih berat lagi. Hukumannya tiga kali empat. Tapi dia yang bayar hukum. Kalau saya yang hukum, berlipat lagi jadi enam belas,” kata Temenggung.

Adapun tingkatan besaran hukum adat yang berlaku di desa ini, dimulai dari uang satu rial, dua rial, empat rial, delapan hingga enam belas rial. Adat dua rial di bawah tangung jawab Kebayan atau setingkat RT. Empat rial oleh Besirah. Empat hingga enam rial oleh Lawang Agung. Delapan hingga 16 rial oleh Temenggung.

Misalkan kita kena 16 rial, semua organ tubuh yang ada di badan tercatat di situ. Setidaknya ada 27 jenis organ tubuh. Misalnya mata diibaratkan intan, dan jari diibaratkan serampang tembaga mata lima (tombak ikan).

“Carilah kamu intan dua biji, sudah berapa juta? Maka saya bilang ini tidak bisa dinilai dengan mata uang. Karena jika begitu adat bisa diperjualbelikan. Adat kami memiliki status dan sejarah,” kata Temenggung.

Untuk itu, bagi siapa pun yang melanggar ketentuan adat, sebaiknya dengan penuh kesadaran menjalani hukuman. Karena jika sedikit saja menolak akan diganjar dengan hukuman yang lebih berat.

“Sekecil apa pun manusia kena hukum, lima tahun di bawah kesadaran dan ketakutan. Karena merasa kena hukum adalah salah satu manfaat,” pesannya.


Selain mata air, di Desa ini juga terdapat sejumlah hutan keramat dan patung pedagi (perantara untuk memita berkat kepada Tuhan) yang masih dijaga dengan baik. Kawasan itu dibentengi aturan adat yang ketat.


“Satu di antaranya ada di Kampung Padang. Kami menyebutnya Hutan Pulo. Luasnya sekitar 100 meter persegi. Kawasan itu dikelilingi pagar Pohon Nibung. Kami tak berani menyentuh apalagi menebang. Jangan coba-coba,” katanya.


Secara turun temurun, ada empat hal dasar yang harus dipatuhi Masyarakat Adat Desa Tae, yakni saat masuk ke hutan, masuk ke air, masuk Hutan Pulo, dan masuk hutan keramat Tiong Kandang.

Bukit Tiong Kandang tempat dimana ritual adat puncak (ganjur) dilakukan. Semua harus berpamit supaya tidak ditegur sama keramat. Ada syarat adat yang harus dilakukan. Yakni, melakukan ritual adat Siakng.

Manusia hanya sebatas meminjam (menumpang) di atas bumi. Yang berhak adalah Sang Pencipta. Jika kembali ke asa manusia yang adalah tanah, maka harus kembali ke asal mula. “Itu artinya, kita harus selalu menjaga dan tak serakah memanfaatkan sumber daya alam,” ujarnya.

Tak hanya Tembawang dan mata air yang selalu terjaga, masyarakat Desa Tae menyimpan banyak kekhasan yang lahir dari kearifan lokal. Seperti halnya cara berladang dan mengolah tanah. Kawasan perladangan sudah ditetapkan melalui kesepakatan adat. Proses pembuatan ladang juga dilakukan secara bergotong royong.
Salah satu yang unik adalah, bagaimana mengolah tanah pertanian. Masyarakat antar kampung sebagian besar memiliki lahan di wilayah adat di kampung lainnya.

“Masyarakat Kampung Semangkar, bertani di Kampung Tae. Begitu juga dari Kampung Bangkan, memiliki sawah di kampung lainnya,” kata Melkianus Midi, Kepala Desa Tae.


Namun, mobilitas masyarakat bercocok tanam terkendala dengan putusnya jembatan penghubung antar kampung di Desa Tae akibat banjir. Hal itu membuat masyarakat kesulitan menuju ke lahan garapan.


“Ya kami minta perhatian pemerintah. Kalau bisa jembatan yang putus ini dapat dibangun kembali dengan jembatan rangka besi,” katanya.(indra wardhana/lis)