Keris Pusaka Majapahit, Ritual Makan Nasi Bunga Setahun di Sanggau

Sanggau

Editor sutan Dibaca : 1851

Keris Pusaka Majapahit, Ritual Makan Nasi Bunga Setahun di Sanggau
Wakil Bupati Sanggau, Yohanes Ontot saat ritual memandikan Keris Pusaka Majapahit. Ontot berpesan, agar keris ini dijaga oleh seluruh warga desa. (saiful fuat)
Keris Pusaka Majapahit yang tersimpan di Kabupaten Sanggau, merupakan aset daerah yang patut dilestarikan. Keris tersebut, pada masanya dimaksudkan untuk penghubung antara umat dengan penciptanya, karena dulunya belum mengenal Tuhan, agama dan tempat ibadah.

Wakil Bupati Sanggau, Yohanes Ontot saat menghadiri HUT Keris Pusaka Majapahit, di Rumah Keramat Keris Pusaka, Desa Lumut Dusun Sebandang, Kecamatan Toba, menjelaskan pelestarian khasanah budaya ini bukan hanya dilakukan oleh para keturunannya saja.

Namun patut dijaga oleh segenap warga desa setempat, di mana keris itu bersemayam. "Jangan anggap sepele, karena dulu Keris ini pernah dicuri pada tahun 80 an, tapi datang lagi kepada pemiliknya," ujarnya.

Setelah menyaksikan langsung dan sempat berbincang  dengan kepala adat, menurutnya kebudayaan daerah ini sangat unik. "Budaya ini harus dilestarikan agar warga disini memahami tentang sejarah dan budaya Keris Pusaka," pesannya.

Keris Pusaka yang sudah berusia 140 tahun ini, agar tetap terjaga kesakralannya, Wabup meminta kades bersama Camat Toba dan tokoh adat untuk secepatnya mendiskusikan konsep dan mengajukan proposal permohonan pembangunan Rumah Khusus Keris Pusaka tersebut.

Sementara itu, Camat Toba Jemain berharap budaya ini juga harus tercatat di Kementrian Kebudayaan RI, karena ini budaya yang memang harus dilestarikan. Dia juga menginformasikan pada tahun depan akan dibangun Rumah Adat untuk menyimpan Keris Pusaka.

Dia berpesan kepada warga agar selalu menjaga Kearifan lokal untuk melestarikan budaya dengan benar.

Sementara itu, Ketua Adat Sebandang, Sude  menyampaikan perlu sebuah rumah khusus yang ditujukan untuk mengangkat Keris Pusaka. Jika tidak ada rumah yang dituju, maka Keris Pusaka tidak bisa diangkat, hanya bisa dikeluarkan. "Keris ini juga  sudah dijaga dan dirawat oleh Leter, jadi tidak bisa dipindahkan ke rumah pribadi," katanya.

Leter yang merupakan keturunan ketujuh dari Nek Epet sang penguasa pertama Keris Pusaka, bahwa dirinya menerangkan untuk merayakan ulang tahun Keris Pusaka, Leter bersama kepala adat harus melakukan ritual adat yang dinamakan makan nasi bunga setahun. (saiful fuat/and)