Selasa, 12 November 2019


Aparat Polres Sanggau Masih Cari Pemerkosa Siswa SD

Editor:

sutan

    |     Pembaca: 1034
Aparat Polres Sanggau Masih Cari Pemerkosa Siswa SD

Hukum Kebiri bagi Pelaku Kejahatan Seksual (tabloid-nakita.com)

SANGGAU, SP - Aparat Polres Sanggau masih memburu seorang lelaki misterius usai beraksi pada Jumat (16/9) pagi. Korbannya, TR (6), siswi kelas 1 SD, diperkosa di  rumah kosong kawasan Kecamatan Tayan Hulu.  

Kapolres Sanggau, AKBP Donny Charles Go membenarkan kejadian tersebut. “Masih dalam pengembangan. Baru dua saksi, selain korban yang sudah dimintai keterangan,” ujar Donny di ruang kerjanya.  

Menurut Donny, korban masih dalam tahap pendampingan ahli kejiwaan dari Pemkab Sanggau karena  trauma berat akibat kejadian tersebut. “Korban dirujuk ke RSUD Sanggau, karena di sana lebih lengkap alatnya,” katanya.

Dijelaskan, kejadian terjadi pada Jumat kemarin sekitar pukul 09.45 WIB. Saksi AN saat itu sedang mengendarai sepeda motor dan melihat seorang anak perempuan sedang berjalan kaki sambil menangis.
 

“Melihat anak itu menangis, saksi langsung menghampiri. Saksi pun  terkejut melihat pakaian korban yang bersimbah darah,” terangnya.
 

Melihat kondisi korban seperti itu, AN langsung memanggil saudaranya JH, warga Dusun Dangku.
“Diduga anak tersebut, korban pemerkosaan. Masalahnya, ketika warga mengecek sebuah rumah kosong, tak jauh dari lokasi korban ditemukan, ada segumpal darah,” tambah Donny.
 

Atas temuan itu, AN dan JH langsung melapor kejadian ke Polsek Tayan Hulu. “Tindakan yang diambil, menerima laporan, mendatangi TKP, dan membawa korban ke Puskesmas Sosok,” lanjutnya.  

Sementara itu, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kalimantan Barat, Achmad Husainie meminta agar korban segera direhabilitasi baik kesehatan dan psikisnya. Sebab, korban masih berusia anak.
“Tentu dampaknya banyak, terutama jiwanya yang kemungkinan tertekan atas kejadian itu," ujarnya terpisah di Pontianak.  

Pihaknya pun akan segera melakukan pendampingan terhadap korban.  Achmad meminta pihak kepolisian segera menangkap pelaku dan memastikan proses hukum berjalan sesuai prosedur.  “KPAID akan mengawal proses hukum ini,” tegasnya.


Direktur Yayasan Nanda Dian Nusantara (YNDN) Kalbar, Devi Tiomana mengaku prihatin dengan kasus tersebut. Menurut Devi,  anak seusia itu seharusnya tidak sendirian di luar rumah.
“Kita mendesak pihak kepolisian segera mengambil langkah tepat dalam penanganan dan pengungkapan kasus ini,” tegasnya.  

Menurut Devi, sudah seharusnya pemerintah mendorong optimalisasi peran serta masyarakat dan pihak terkait terkait perlindungan anak. “Berikan anak ruang atau lingkungan yang aman dan nyaman,” tuturnya.

Sebagai contoh kasus ini, Devi mendorong peran serta masyarakat, tokoh adat dan lembaga keagamaan untuk gencar melakukan sosialisasi terhadap perlindungan serta pemenuhan hak anak.

“Bila perlu setiap desa dibentuk satgas perlindungan anak, yang terdiri dari berbagai unsur di masyarakat. Jika tidak dimulai dari sekarang, bukan tidak mungkin Kalbar nanti akan mengeluarkan warning darurat kejahatan seksual anak. Ini karena banyaknya kasus di ruang publik maupun di dalam rumahnya sendiri,” katanya.

Khusus untuk korban, Devi meminta peran orangtua atau keluarga untuk melakukan proses pendampingan. Menurutnya, di samping tindakan pemeriksaan medis, korban juga perlu mendapatkan dukungan moral.

“Korban dipastikan mengalami trauma yang cukup berat. Dukungan psikologis perlu dilakukan, guna memperbaiki kondisi psikis korban. Pemulihan ini memerlukan waktu jangka panjang. Hingga korban sembuh total,” katanya.(Tim SP/bob/pat/sut)