Terima Zakat Hingga H-3 Lebaran

Sanggau

Editor Kiwi Dibaca : 634

Terima Zakat Hingga H-3 Lebaran
BAYAR ZAKAT - Seorang Muzakki (pembayar zakat) membayar zakat di UPZ Masjid Agung Al-Mu'awwanah Sanggau, kemarin.
SANGGAU, SP - Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Masjid Agung Al-Mu'awwanah Sanggau sudah membuka pelayanan penerimaan zakat sejak 10 Juni 2017 lalu. Para Muzakki (orang yang berzakat) bisa menyalurkan zakat di Masjid Agung tersebut mulai dari pukul 07.00-21.00 WIB setiap hari hingga H-3 lebaran.  

“UPZ yang berlokasi di teras Masjid Agung Al-Mu'awwanah Sanggau bertugas mengumpulkan dan mendistribusikan zakat sesuai ketentuan syar'i,” kata Gusti Zulmainis, Ketua Pengurus Masjid terbesar di Kabupaten Sanggau itu, kemarin. Untuk zakat fitrah, besarannya disesuaikan dengan ketentuan yang telah ditetapkan Kementrian Agama.

Untuk beras tetap 2,5 Kg/jiwa. Jika diuangkan disesuaikan dengan konsumsi sehari-hari. “Untuk yang mengkonsumsi beras klasifikasi I Rp14.000 sama dengan Rp35.000 per jiwa. Untuk yang mengkonsumsi beras klasifikasi II Rp13.000 sama dengan Rp32.500 per jiwa dan untuk yang mengkonsumsi beras klasifikasi III Rp11.000 sama dengan Rp27.500 per jiwa,” jelasnya.  

Untuk zakat mal, disesuaikan dengan nisab dan haul. Karena itu salah satu syarat zakat mal. Mempermudah umat muslim yang ingin menunaikan zakat, pengurus Masjid Agung juga menyiapkan konsultasi seputar zakat.

   “Jadi kalau ada yang kurang paham, kita siapkan ustaz yang mengerti, silakan dikonsultasikan di Sekretariat UPZ kita,” imbuhnya. Sementara Ketua UPZ Masjid Agung Al-Mu'awwanah Sanggau, HM Ghundar menerangkan keutamaan zakat fitrah.   

“Zakat fitrah itu wajib hukumnya bagi setiap muslim yang pelaksanaannya mulai 1 Ramadan sampai sebelum khatib naik mimbar di bulan Syawal,” katanya. Fidyah, lanjut Ghundar, diwajibkan bagi mereka yang tidak mampu berpuasa karena apabila berpuasa akan merasa kepayahan.

Tetapi wajib membayar fidyah sama hukumnya dengan orang sakit tidak ada harapan kesembuhan lagi. “Sedangkan wanita hamil atau menyusui, khawatir anaknya dan dirinya tertimpa kemudaratan sebab puasanya, maka boleh berbuka puasa dan wajib mengqadha (mengganti) puasanya dan wajib membayar fidyah,” bebernya.

Besaran fidyah untuk setiap hari yang ditinggalkan, sambung Ghundar, satu mud bahan makanan pokok. Satu mud kurang lebih seperempat sha/fitrah atau kurang lebih 6,25 ons beras atau memberi makan kepada satu orang fakir miskin satu hari dengan porsi yang sama seperti yang dimakan yang bersangkutan Rp25.000. (jul/bah)