Rabu, 20 November 2019


Hari Ini Warga Ritual Sumpah Adat

Editor:

Kiwi

    |     Pembaca: 1606
Hari Ini Warga Ritual Sumpah Adat

PAGAR JALAN - Warga Dusun Simpang Tanjung dan Tanjung memagar jalan secara ritual adat yang dilakukan pada 6 Juni 2017 lalu. Pagar ini sudah dibuka pada 12 Juni 2017, dan warga setempat menganggap pagar itu dibuka secara paksa oleh oknum yang tidak mengha

SANGGAU, SP - Dibukanya secara paksa pagar akses jalan menuju Pabrik Kepala Sawit (PKS) milik PT Sasmita Bumi Wijaya (SABW) membuat warga dua dusun, yakni Dusun Simpang Tanjung dan Tanjung, Desa Binjai, Kecamatan Tayan Hulu, Kabupaten Sanggau murka. Warga dua dusun itu pun sepakat untuk menggelar ritual sakral, yakni sumpah adat hari ini, Senin (19/6).    

“Ritual adat yang akan dilaksanakan besok (hari ini, red) berdasarkan hasil musyawarah masyarakat Simpang Tanjung dan Tanjung pada tanggal 13 Juni lalu di rumah Kepala Adat Dusun Simpang Tanjung,” kata Tokoh Masyarakat Dusun Tanjung, Heriyanto kepada Suara Pemred, Minggu (18/6).
 

Ritual sumpah adat secara adat Hibun ini, menurut dia adalah ritual yang sangat sakral.   “Ini (ritual sumpah adat) bentuk kemarahan besar masyarakat adat Simpang Tanjung dan Tanjung akibat dibukanya secara paksa pagar oleh oknum yang tidak menghargai adat setempat pada tanggal 12 Juni lalu. Pembukaan pagar itu tanpa persetujuan masyarakat dua dusun, yakni Simpang Tanjung dan Tanjung,” jelas Heriyanto.  

Dia menegaskan, pemagaran akses jalan menuju PKS milik PT SABW pada 6 Juni lalu itu dilakukan masyarakat dua dusun, bukan 24 orang (yang tidak lolos tes) seperti kabar yang berkembang saat ini.   Selain itu, lanjut dia, ada dua lagi hasil kesepakatan masyarakat, yakni tetap memperjuangkan 24 warga Dusun Simpang Tanjung dan Tanjung untuk bekerja di PT SABW sebagai karyawan.  

“Dan masyarakat Simpang Tanjung dan Tanjung melakukan mosi tidak percaya atau tidak mengakui Dionus Haryono sebagai Ketua DAD Kecamatan Tayan Hulu,” kata Heriyanto.  

Seperti diketahui, pemagaran yang dilakukan warga dua dusun itu dilaksanakan pada Rabu (7/6) lalu. Pemagaran dilakukan secara ritual adat Mandouh Poka’.  Ada lima tuntutan masyarakat setempat. Pertama, segera menjadikan karyawan 24 orang masyarakat setempat yang sudah mengikuti tes namun dinyatakan tidak lolos.
 

Kedua, Buruh Harian Lepas (BHL) yang merupakan pekerja setempat dikembalikan sebagai karyawan. Ketiga, pulangkan atau alihkan sebanyak 27 orang yang lolos seleksi ke PKS milik perusahaan tersebut di daerah lain.  

Kemudian, masyarakat juga menuntut Manajer PT.SABW, Wirasto Edi Putro diganti jika 24 orang yang sudah mengikuti tes dan para pekerja lokal yang berstatus BHL tidak dijadikan karyawan di perusahaan tersebut. Terakhir, karena Manajer PT.SABW telah tiga kali mengingkar janjinya kepada masyarakat, sesuai adat istiadat setempat yang bersangkutan wajib dihukum adat. (jul
/bah)