Peringatan Masyarakat Adat Sedunia

Sanggau

Editor Kiwi Dibaca : 487

Peringatan Masyarakat Adat Sedunia
TANDA TANNGI KESEPAKATAN – Ketua DAD Kabupaten Sanggau, Yohanes Ontot menandatangani hasil Kesepakatan Beraupm Masyarakat Adat Kecamatan Kembayan di Komplek Bruderan MTB, Desa Kuala Dua, Kecamatan Kembayan, baru-baru ini.
SANGGAU, SP – Ketua Umum Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Sanggau, Yohanes Ontot mengingatkan masyarakat adat mencintai alam dengan tetap menjaga lingkungan, bukan merusak hutan. Sejak zaman dahulu, masyaakat adat sangat bersahabat dengan alam.  

Pernyataan itu disampaikannya saat menjadi pembicara peringatan Masyarakat Adat Sedunia di Bori Tajo Bih Aduap, Desa Kuala Dua, Kecamatan Kembayan, baru-baru ini. Peringatan itu bertema Kesakralan Adat Budaya Dayak terintegrasi Dalam Masyarakat Adat Dayak.
  Ontot yang juga Wakil Bupati Sanggau itu mengingatkan, segala sesuatu yang disalahkahgunakan akan berakibat buruk bagi manusia dan alam itu sendiri.   

“Manfaat pohon itu banyak, selain sebagai tempat berlindung dari panas, pohon juga menghasilkan oksigen untuk manusia. Saya sedih kalau ada orang yang menebang pohon sembarangan. Pohon itu tumbuh besar puluhan bahkan sampai ratusan tahun, sementara orang nebangnya beberapa jam saja sudah selesai,” ucapnya.  

Hal ini dikemukakan Ontot karena keterkaitan antara orang Dayak, adat istiadat, dan hutan sangat erat. Antarmasyarakat adat lokal dan internasional harus bekerjasama dengan baik untuk mendukung kelestarian hutan, terlebih hutan adat.
  Ontot menambahkan, harus ada kontribusi yang bukan hanya materi, tapi sikap dan tindakan serta dukungan moril dari dunia internasional.  

“Indonesia adalah salah satu negara yang disebut paru-paru dunia dan kita sebagai masyarakat adat berkewajiban untuk menjaga, melestarikan hutan yang kita miliki. Tapi dunia Internasional juga harus menjaga hutan mereka, tidak hanya kita saja yang dituntut untuk jaga hutan,” tegas Ontot.
 

Menurut Ontot, orang Dayak membuat kampung bukan sembarangan, tidak semata-mata hanya letak yang strategis, dekat dengan kota atau pemukiman lain.
  “Orang Dayak membuat kampung mencari tempat yang dianggap aman dan nyaman dari banyak hal, diantaranya serangan binatang buas, nyaman karena dekat dengan sumber air dan gampang mencari makanan,” pungkasnya. (jul/bah)