Napi Kabur Diimbau Segera Menyerahkan Diri

Sanggau

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 354

Napi Kabur Diimbau Segera Menyerahkan Diri
Ilustrasi. Net
SANGGAU,  SP – Kepala Rutan Kelas IIB Sanggau, Isnawan meminta kepada Adi Christian bin Udu (38), warga binaannya yang kabur sejak 16 November 2017 lalu segera menyerahkan diri. Ia menegaskan, pengejaran tidak akan berhenti sampai napi kasus penggelapan itu tertangkap.

“Sampai kapanpun kami akan mencari, kami akan menangkapnya. Untuk keluarga yang mengetahui keberadaan napi tersebut segera laporkan ke Polsek terdekat atau ke Rutan Sanggau agar kita bisa segera menangkapnya,” tegas Isnawan kepada wartawan, Selasa (28/11).

Ia juga mengingatkan bagi siapa saja, termasuk pihak keluarga napi kabur itu yang berusaha untuk menyembunyikannya akan dikenai sanksi pidana. “Ada pasal bagi siapa saja yang melindungi atau menyembunyikan orang melarikan diri, ada sanksi pidana,” kata Isnawan.

Pihaknya, dijelaskan dia, beberapa kali mendapatkan informasi mengenai keberadaan napi tersebut dan langsung melakukan penyisiran, tetapi masih nihil. “Intinya kami sudah laporkan awal-awal saat pelarian ke Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Kalbar. Dan perintah kepala kantor wilayah itu jelas, harus ditangkap kembali,” ujar Isnawan.

Dalam melakukan pengejaran dan penangkapan, pihak Rutan juga sudah meminta bantuan kepada Kapolres Sanggau baik secara lisan mauun bersurat. 

“Intinya kami mohon bantuan untuk bisa menangkap napi kabur tersebut. Pak Kapolres juga sudah menjawab bahwa sudah digerakan tim dan sudah disebar wajahnya ke semua polsek. Disebarkan ke wilayah Sanggau bahkan ke wilayah-wilayah Kalbar semua,” beber Isnawan.

Saat melakukan pengejaran ke Jelimpo, ia menambahkan, pihaknya juga didampingi tim dari Polsek Jelimpo. “KTP-nya Sandai Ketapang dan istrinya ada delapan. Di dalam rutan juga ada istrinya yang masih menjalani pidana dalam kasus yang sama,” terang Isnawan.

Disinggung kendala di lapangan? Ia mengatakan, pihaknya tidak punya alat untuk tracking nomor HP. 

“Kita mesti minta bantuan ke Kepala BNNK, beberapa kali titik koordinatnya dilihatkan, kita susur ke sana. Tetapi namanya pelarian itu licin. Napi itu menghindar dulu sebelum kita sampai ke lokasi tersebut,” terangnya.
 
Kemudian, lanjut Isnawan, hal-hal lainya dimana tidak mengenal baik daerah tersebut. 

“Jadi, dia mengenal baik tempat-tempat pelariannya, dia lebih mudah untuk melarikan diri dari kejaran petugas. Namun demikian, kita tetap melakukan pengumpulan, dan dan keterangan untuk melacak posisinya dimana,” pungkasnya. (jul/bob)