Kadin Sanggau Dorong Produktivitas Padi Petani

Sanggau

Editor elgiants Dibaca : 30

Kadin Sanggau Dorong Produktivitas Padi Petani
PANEN PADI- Panen di pilot project sawah tadah hujan seluas 100 hektar di Kecamatan Kembayan, Kabupaten Sanggau tahun 2018 yang lalu. Tahun ini potensi beras lokal yang dihasilkan para petani di Kabupaten Sanggau mulai dilirik oleh toko retail.
Wakil Ketua Kadin Kabupaten Sanggau Abdul Rahim menyambut baik rencana masuknya beras lokal Sanggau di toko retail. Ia berharap, rencana tersebut dapat mendorong petani lebih bersemangat dalam mengelola lahan pertanian mereka.

“Ini tentu rencananya yang baik sebagai upaya meningkatkan perekonomian petani, dengan adanya rencananya tersebut tentu akan mendorong produktivitas padi di Kabupaten Sanggau,” katanya, Minggu (14/4).

Namun, menurut Rahim, rencana tersebut perlu dibicarakan lebih lanjut, terutama terkait seperti apa bentuk kerja samanya. Kemudian, harus dipersiapkan juga segala keperluan yang mendukung pemasaran beras tersebut.

Mulai dari keberkelanjutan tanaman padi, penggilingan yang mamadai sampai pada packing atau kemasan beras yang mau dipasarkan di toko ritel tersebut. Sehingga apa yang didambakan dalam pemasaran ke pasar retail tetap terjaga.

“Karena jaminan ketersedian ini harus dipersiapkan secara matang dan sempurna. Kemudian pembinaan kepada petani harus terus dilakukan. Semoga ini semua bisa terwujud, petani bisa sejahtera,” harapnya.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perikanan (Dishangpanghortikan) Kabupaten Sanggau John Hendri menyampaikan, beras lokal Sanggau bakal bersaing di toko retail. Pasalnya, sudah ada bisnis retail yang melirik beras yang dikelola kelompok tani di Bumi Daranante, julukan Kabupaten Sanggau.

John Hendri mengaku telah dihubungi salah seorang dari toko retail ternama yang memiliki banyak cabang di Kabupaten Sanggau. John kala itu bahkan sempat menunjukan isi pesan WhatsApp yang masuk ke android miliknya dimana dalam pesan tersebut yang intinya menyatakan pihak toko tertarik untuk membeli beras lokal setempat untuk dipasarkan kembali.

Awalnya, John menyebut, pertemuan antara dirinya dan pihak retail akan digelar 7 April 2019. Namun batal lantaran jadwal tersebut bentrok dengan kegiatan lainnya. Hanya saja, pihak Retail tetap meminta ingin kepastian pertemuan tersebut. “Tolong diinformasikan pak, bila sudah ada tanggal pasti kunjungan bapak ke sini (Pontianak, red),” ucapnya menirukan isi pesan tersebut.

Saat pertemuan nanti, John berencana membawa contoh beras Sanggau yang akan dipasarkan. Kemudian, mendengar persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi.  “Misalnya pertama pecahan (butiran) berasnya berapa persen. Kemudian keberlanjutannya. Misalnya dia butuh dalam sebulan itu berapa ton. Berikutnya, kalau misalnya packagingnya seperti apa. Nah terakhir baru kita ngomong harga. Kalau harganya tak masuk, kan tak bisa juga kita. Kita ngomong dulu,” ujarnya.

Menurut John, Ia sudah meninjau langsung Desa Tunggal Bakti Kecamatan Kembayan yang merupakan daerah sentra pertanian Kabupaten Sanggau, untuk memastikan penggilingan yang dikelola kelompok tani setempat. 

“Sejauh ini bagus. Yang penting dalam hasil penggilingannya tingkat kekeringannya harus 95 persen. Artinya kan kalau digiling tidak pecah. Kalau lembab itu pecah. Di pasaran kan tak mungkin patahannya kita jual. Artinya soal ketersediaan tak ada masalah,” bebernya.

Jika kerja sama terjalin kedepan, kelompok tani harus siap-siap mencari gabah dari tempat lain. Dari luar kelompok tani, atau luar Desa Tunggal Bakti. Meski diakuinya jika dilihat dari luas hamparan sudah cukup. “Karena rata-rata hamparan sawah di tiap kelompok adalah 100 hektar. Kalau 100 hektar kali lima ton. Itupun mereka tanam tiga kali setahun,” kata John. 

Selain membantu petani memasarkan hasil panennya, lanjut dia, kerja sama tersebut juga untuk memperkuat brand beras Sanggau. Karenanya dalam kemasan nantinya wajib dicantumkan asal beras. 

“Dan dari mereka (toko retail) juga tetap akan mencantumkan. Karena dalam konteks persaingan ini kan boleh saja, setiap kelompok itu memunculkan jati dirinya masing-masing. Supaya ada persaingan juga. Kita masing-masing bisa mengatakan beras kita lebih baik. Tanpa pupuk kimia, pulen dan sebagainya. Jadi masyarakat tinggal pilih,” pungkas John. (jul/nak)