DBD Renggut 1 Nyawa di Sanggau

Sanggau

Editor elgiants Dibaca : 134

DBD Renggut 1 Nyawa di Sanggau
DBD- Bocah korban Demam Berdarah Dengue (DBD) menjalani perawatan intensif di salah satu rumah sakit di Lhokseumawe, Provinsi Aceh. Di Sanggau sejak Januari – April tercatat ada 30 kasus DBD, satu diantaranya meninggal dunia.
SANGGAU, SP - Demam Berdarah Dengue (DBD) masih mengancam masyarakat Kabupaten Sanggau. Berdasarkan data yang dimiliki Dinas Kesehatan Kabupaten Sanggau, sejak Januari hingga April 2019, tercatat ada 30 kasus. Dari jumlah tersebut, satu orang diantaranya meninggal dunia.

“Tahun 2017 terdapat 224 kasus, tahun 2018 terdapat 171 kasus. Kemudian dari Januari sampai April 2019 sudah ada 30 kasus dan satu orang diantaranya meninggal dunia. Yang paling banyak di Kecamatan Kapuas,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sanggau dr Jones Siagian, Senin (22/4).

Ia merinci, pada Januari 2019 ada 8 kasus, Februari 6 kasus, Maret 13 kasus dan April terdapat 3 kasus. 

“Jika dilihat dari data Januari ke Februari, trendnya turun. Februari ke Maret trendnya naik, Maret ke April trendnya turun. Kesimpulanya trendnya turun,” ujar Jones. 

Upaya menekan kasus DBD terus dilakukan Dinas Kesehatan, seperti melalui fogging dan membagikan bubuk abate kepada masyarakat. Dalam pengendalian kasus DBD, Jones berharap keterlibatan masyarakat sehingga kasus tersebut dapat ditekan. Jones menyebut, pemberantasan sarang nyamuk merupakan cara efektif mencegah DBD.

“Pemberantasan sarang nyamuk ini kan cuma mengubur, menutup dan menguras atau 3 M.  Misalnya dia ke luar rumah ni, ketemu kaleng minum bekas dikuburlah, atau ada bak mandi yang tidak bisa ditutup dikuraslah seminggu sekali, selesai. Sederhana saja, tapi kadang hal seperti ini dianggap enteng oleh masyarakat, padahal itu sering kita sosialisasikan,” imbuhnya.

Kabupaten Sanggau, lanjut Jones, merupakan daerah endemis DBD. Tidak ada satupun kecamatan di Sanggau yang tidak pernah terkena DBD dan yang paling tinggi berada di pusat ibu kota Kabupaten. 

Menurut Jones, hal tersebut karena tingkat mobilitas masyarakatnya tinggi, diperparah dengan kurang sadarnya masyarakat terhadap DBD. 

“Misalnya di Sanggau ini ada 100 kasus, 60 persennya ada di ibu kota kabupaten, kalau kecamatan lain itu sebenarnya sporadis, tapi tetap endemis dia,” tuturnya.

Jones menambahkan, tahun ini DBD masih menjadi perhatian serius yang akan ditangani pihaknya. 

“Sebenarnya sepanjang tahun, karena kasus ini fluktuatif, kadang naik kadang turun. Dan itu tergantung keaktifan masyarakat melakukan pemberantasan sarang nyamuk,” pungkasnya. (jul/nak)

Gencarkan Sosialisasi ke Masyarakat

Anggota DPRD Sanggau, Konggo Tjintalong Tjondro meminta Dinas Kesehatan Kabupaten Sanggau untuk terus menggiatkan sosialisasi bahaya DBD dan gerakan pemberantasan sarang nyamuk.

“Kita minta Dinkes terus melakukan sosialisasi terkait dua hal itu. Pertama soal bahaya DBD dan kedua soal pemberantasan sarang nyamuk. Terutama di daerah yang dilaporkan terdapat banyak kasus setiap tahunnya,” pintanya.

Selain itu, menurut legislator Partai Golkar ini, gerakan pemantau jentik nyamuk juga perlu dilakukan dengan melibatkan unsur atau elemen masyarakat . “Selain melibatkan petugas Dinkes, kecamatan, desa sampai ke dusun, perlu juga dilibatkan tokoh agama,” ujar Konggo.

Upaya pencegahan, lanjut dia, penting untuk terus dilakukan, sehingga kasus DBD di Kabupaten Sanggau dapat terus ditekan. “Memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait kebersihan lingkungan dan upaya pencegahan lainnya harus terus disosialisasikan,” pungkas Konggo. (jul/nak)