Senin, 23 September 2019


Distan Sanggau Target Sergap 955 Ton

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 130
Distan Sanggau Target Sergap 955 Ton

PANEN PADI- Kepala Badan SDM Pertanian Kementan, Momon Rusmono (ke-2 kanan) panen padi di Kabupaten Sanggau, Kalbar tahun 2017 silam. Tahun ini Distan Sanggau menargetkan serapan gabah sebesar 955 ton. (Dok.B2B)

SANGGAU, SP - Kepala Dinas Ketahanan Pangan Holtikultura dan Perikanan Kabupaten Sanggau, John Hendri menargetkan serapan gabah (sergap) di Sanggau tahun ini mencapai 955 ton.

“Dari Januari sampai Desember Tahun 2019 ditargetkan 955 ton gabah. Ini sudah kita bagi perbulan, dari januari, februari, maret. Dan kita juga sedang melaksanakan di lapangan untuk mencapai target itu, target itu harus kita capai,” tegas Hendri kepada awak media, Selasa (23/4.

John Hendri menyebut, ada beberapa titik yang sudah dipastikan dan sudah dilakukan sosialisasi. Yakni Kecamatan Jangkang, Noyan, Batang Tarang, Kembayan dan Beduai. 

“Itu sudah terkumpul, kalau dari totalitasnya sekitar 60 ton. Tapi inikan belum selesai, masih panjang lagi ini. Jadi untuk April ini sudah terkumpul kurang lebih 60 ton,” ujarnya.

Selanjutnya, kata John Hendri, pihaknya akan melakukan komunikasi lebih lanjut dengan Bulog Sanggau selaku pembeli. “Kita juga sudah komunikasi dengan mereka, jadi nanti kita acarakanlah beberapa titik yang sudah siap itu. Pak Dandim juga kita minta waktunya nanti untuk bersama-sama dilapangan. Seperti sebelumnya antara pertanian, Kodim dan Bulog itu harus bersama-sama dalam konteks ini,” timpalnya.

John Hendri menambahkan, untuk harga gabah perkilogram, sampai hari ini mengacu pada harga yang sudah ditetapkan pemerintah pusat dan menjadi acuan saat ini, Rp3.700 perkilogram. 

“Kalau beras Rp7.300 perkilo. Memang kita juga mengusulkan kalau bisa dinaikan harga itu, tapi kalau bisa secara nasional,” tuturnya.

John Hendri menyampaikan, dari sisi produksi hasil gabah petani Kabupaten Sanggau selalu meningkat dari tahun ke tahun, artinya jika gabah meningkat otomatis beras juga meningkat.  

“Kita melakukan Sergap ini juga membantu petani, jadi hasil di petani itu kita bantu menjualnya melalui Bulog. Supaya mereka juga bisa menjadikan bahwa gabah itu dalam bentuk uang,” katanya.

Disinggung harga Rp3.700 perkilogram apakah petani untung? Menurut John Hendri, tetap untung walaupun tipis. Karena lahan juga tidak disewa mealinkan lahan milik petani sendiri yang dikelola, kemudian bagi kelompok tertentu ada yang dibantu pemerintah. 

“Kemudian dari sisi benih, rata-rata sudah dimiliki petani sebelumnya. Dan masa tanam padi inikan 3,5 bulan. Kalau mereka punya usaha lain, ada karet, sawit beartikan sudah membantu,” tutupnya. (jul/nak)