Berebut Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi

Sanggau

Editor elgiants Dibaca : 72

Berebut Anugerah Kebudayaan  dan Maestro Seni Tradisi
Bupati Sanggau Paolus Hadi saat memaparkan program pelestarian dan pengembangan kebudayaan Kabupaten Sanggau di Ruang Rapat Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Gedung E Kemendikbud RI, Rabu (15/5). Ist
Kabupaten Sanggau masuk nominasi Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi Kategori Pemda Tingkat Nasional tahun 2019. Selain Kabupaten Sanggau, ada lima kabupaten/kota lainnya di Tanah Air yang masuk nominasi penghargaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI. Yakni Kota Kediri, Kabupaten Kulon Progo, Kabupaten Gianyar, Kabupaten Ngawi dan Kota Pangkalpinang, Rabu (15/5).

Kabupaten Sanggau yang dipimpin Bupati Sanggau Paolus Hadi (PH) memenuhi undangan dari Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud. Tidak sendiri, Bupati dua periode ini juga didampingi Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sanggau Sudarsono. 

Di sana, tepatnya di Ruang Rapat Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Gedung E, PH mempresentasikan program-program pelestarian dan pengembangan kebudayaan di Kabupaten Sanggau.

Dalam presentasinya, PH menyebut, berdasarkan persentase etnis terbanyak di Kabupaten Sanggau, Pemkab Sanggau telah menetapkan agenda rutin tahunan untuk menyelenggarakan kegiatan kebudayaan. Diantaranya Gawai Dayak yang diselenggarakan setiap tanggal 7 Juli dan Festival Paradje untuk masyarakat adat Melayu setiap bulan September.
 
Dalam pelestarian budaya, dipaparkan Bupati, Pemkab Sanggau juga telah memfasilitasi rumah-rumah budaya dan anggaran pagelaran melalui dana hibah. Belum untuk semua event, namun Pemkab Sanggau sudah mengalokasikan anggaran operasional tetap yang dikelola oleh 9 lembaga dari beberapa etnis.

Alokasi anggaran itu, lanjut PH, untuk penyelenggaraan Gawai Dayak Kabupaten Sanggau (Dewan Adat Dayak), Festival Paradje Pasaka Negeri (Keraton Suryanegara dan MABM), Wayang Kulit dan Campursari, Cap Go Meh (MABT), Malam Badendang (Masyarakat Padang), Budaya Pasundan, Mandi Bedel dan Perang Ketupat (Keraton Pakunegara - Tayan) serta Titian Muhibah.

Di hadapan lima orang tim penguji, PH juga menyampaikan bahwa Kabupaten Sanggau merupakan miniatur Indonesia dengan keberagaman etnis, adat dan budaya di dalamnya. Pemerintah Kabupaten Sanggau merangkul semua etnis yang berdomisili, bahkan yang sudah menetap di Kabupaten Sanggau dengan mendata paguyuban-paguyuban yang sah keberadaannya. 

"Kita memang tidak bisa lepas dari peribahasa di mana bumi berpijak di situ langit dijunjung. Namun tidak ada larangan mengekspresikan budayanya walaupun bukan di tanah kelahiran," terang Paoulus Hadi.

PH menegaskan, adat dan budaya itu adalah identitas suatu suku bangsa dan merupakan warisan nenek moyang yang harus dilestarikan. "Mau nonton wayang di malam 1 Suro di Sanggau sudah ada, mau nonton budaya pasundan di Sanggau sudah ada. Yang belum pernah ke Bali, tapi sudah bisa nonton tarian Bali di Sanggau. Masih banyak budaya lainnya, ada Tionghua, Batak, Karo, Padang, Irian, Madura itu ada di Kabupaten Sanggau. Kami (Pemerintah) sudah meminta agar setiap Paguyuban menetapkan penanggalan rutin, agar pagelaran bisa dilaksanakan setiap tahun seperti iven Gawai Dayak, Paradje, Cap Go Meh, dan lainnya," ungkap Bupati.

Pada presentasi itu, Bupati sempat menceritakan sebuah momen keberagaman etnis dan budaya, dimana seluruh etnis berkumpul di satu acara (Hari Jadi Kota Sanggau) dengan menggunakan pakaian khas daerahnya masing-masing. Pada momen itu pula seluruh etnis beramai-ramai mengikuti pawai budaya, selanjutnya seluruh etnis makan borami (makan bersama) dengan azas gotong royong dan swadaya. (jul/nak)