Entikong Kembali Jadi Pintu Ekspor Indonesia

Sanggau

Editor elgiants Dibaca : 176

Entikong Kembali Jadi Pintu Ekspor Indonesia
EKSPOR- Kepala Badan Karantina Pertanian Ali Jamil didampingi Konjend RI untuk KuchingYonny Tri Prayitno, Kadishangpang Hortikan Sanggau John Hendri, unsur CIQS dan Forkompimcam Entikong, Komandan Satgas Pamtas, Dandim, dan Kapolsek menggunting pita melep
SANGGAU, SP - Indonesia kembali melakukan ekspor komoditas pertanian ke Malaysia melalui Pos Lintas Batas Negara (PLBN), Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Seperti yang dilakukan Kementerian Pertanian melalui Badan Karantina Pertanian, Rabu (15/5) kemarin.

Sejumlah komoditas pertanian dan perikanan dilepas untuk diekspor negera tetangga, Malaysia. 

"Pelepasan ekspor ini sebagai tindak lanjut instruksi Presiden kepada Kementerian Pertanian untuk melakukan akselerasi eksportasi komoditas pertanian dari seluruh wilayah Indonesia," terang Kepala Badan Karantina Pertanian, Ali Jamil dalam rilisnya, kemarin.

Ada sepuluh jenis komoditas pertanian yang diekspor, yaitu CPO, Arang Kayu, Buah Jeruk, Buah Pisang, Bungkil Kelapa, Lada Hitam, Kelapa Bulat, Tebu, Kambing Kacang dan Aquaitc Plant. Selain itu juga terdapat komoditas perikanan berupa ekspor Udang Dogol dan Udang Wangkang sebanyak 3.075 Kg dengan nilai ekspor Rp36,6 Juta.

Pelepasan ekspor ini, kata Ali, merupakan salah satu strategi awal untuk mewujudkan rencana Kementan menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia. “Target tersebut diharapkan terwujud pada tahun 2045 mendatang. Kita sudah mulai, ini kita kejar ekspornya. Selama 2013-2018 persentase peningkatan ekspor produk pertanian mencapai 29 persen lebih, nilainya Rp 450 Triliun," ujarnya.

Capaian ini, lanjut Ali, harus terus dikembangkan. Kedepan, karena data negara tujuan termasuk kebutuhan ekspor negara tertentu ada di Badan Karantina Pertanian, pihaknya menyiapkan aplikasi Indonesian Map of Agricultural Commodities Exports (I-Mace).

“Jadi Pak Gubernur, Pak Bupati semuanya bisa melihat, membuka data ini, komoditas apa saja yang dibutuhkan oleh negara A misalnya. Termasuk siapa yang mengirim sampai saat ini. Tapi harapan kita bukan Pak Gubernur saja yang bekerja, bisa juga melalui konsorsium untuk meningkatkan ekspor ini. Apalagi Kalbar sudah punya PLBN," terangnya.

Ali menambahkan, Kementerian Pertanian memiliki program Agro Gemilang (Ayo Galakkan Ekspor Generasi Milenial Bangsa). Diharapkan dengan program ini jumlah eksportir meningkat, termasuk juga nilai ekspornya.

Sementara itu, Konsul KJRI Kuching Yonny Tri Prayitno menyampaikan, pihaknya sudah memetakan kebutuhan Malaysia khususnya negara bagian Sarawak. Sebagai daerah yang sedang membangun, Sarawak membutuhkan kebutuhan pokok.

“Ini peluang besar. Peluang tersebut bisa dimanfaatkan masyarakat perbatasan karena ongkos transportasinya kecil sekali dari sini, daripada Malaysia mengimpor dari Tiongkok, Vietnam, Australia, berapa lagi ongkosnya,” katanya.

Untuk itu, Prayitno mengajak masyarakat perbatasan, Sanggau dan Kalimantan Barat untuk menggalakkan peningkatan produksi pertanian dan peternakan agar bisa di ekspor ke Malaysia. “Ayo kita galakkan bertani, beternak, hasilnya kita jual ke Malaysia," ajaknya.

Kepala Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Entikong Yongki Wahyu Setiawan menjelaskan, sejak awal tahun 2019 hingga Minggu kedua Mei tercatat ada 65 komoditi pertanian yang diekspor ke Malaysia dan beberapa negara di Asia dan Eropa dengan nilai ekspor mencapai Rp 504,96 Milyar. 

Ia menyebut, sedikitnya terdapat 11 komoditi unggulan pertanian dengan nilai volume ekspor tertinggi yaitu berturut-turut, CPO 69,24 ton senilai Rp 490,47 miliar, Lada Biji 86 ton senilai Rp2,75 miliar, Buah Langsat 226 ton senilai Rp 2,709 miliar, Sarang Burung Walet 240 Kg senilai Rp1,68 miliar, Kelapa Bulat 86 ton senilai Rp879,9 juta, Buah Jeruk 46 ton senilai Rp694,2 juta, Asam Keranji 36 ton senilai Rp624 juta, Gula Merah 55 ton senilai Rp608 juta, Arang Kayu 163 ton senilai Rp555,7 juta, Bungkil Kelapa 150 Ton senilai Rp513,6 juta, dan Buah Pisang 109 ton senilai Rp505,7 juta.

“Salah satu upaya yang terus dilakukan untuk meningkatkan akselerasi ekspor yaitu lobi dagang dengan negara tujuan ekspor terkait persyaratan sanitary dan phytosanitary (SPS) dan harmonisasi protokol karantina juga pada proses bisnis karantina," pungkasnya. (jul/nak)

Poktan Harus Dibina Terus

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Holtikultura dan Perikanan Kabupaten Sanggau, H John Hendri berharap, pelepasan ekspor komoditi pertanian di wilayah perbatasan dapat menggugah para petani di perbatasan bahwa sekarang ekspor komoditi pertanian sudah berjalan lama.

“Kemudian berkas-berkas, dokumen yang diperlukan juga tidak seperti yang dikhwatirkan sebelumnya. Dan komoditi yang sudah pernah dilakukan adalah beras, pisang, kemudian ada beberapa tanaman sayuran, ini khusus tanaman pangan ya, ini sudah berjalan dengan sendirinya," ujarnya.

John juga berharap ekspor ini tetap berlanjut terus menerus melalui mekanisme yang cukup praktis. “Dan langkah ini akan kita jadikan sebagi momentum sehingga masyarakat kita yang tadinya belum tergugah untuk menjual hasil pertanianya kita berharap nanti mereka harus bisa. Karena jalurnya sudah banyak, bisa melalui Entikong maupun melalui perbatasan lainya,” ujarnya.

John menambahkan, Kelompok Tani (Poktan) merupakan kelompok sasaran yang harus dibina terus menerus. Karena dalam pertanian, tidak ada petani, tidak ada kelompok tani maka tidak akan bisa.

“Oleh karena itu, para petani sekarang ini kita harus meningkatkan sumber daya supaya mereka lebih paham lagi tentang pertanian. Kemudian terkait dengan budi daya maupun dari sisi pemasaran. Kemudian dari jumlah kelompok tani kita sekarang inikan untuk Sanggau lebih kurang 1714 Poktan," tutupnya. (jul/nak)