Kamis, 19 September 2019


Sanggau Komitmen Lindungi Anak

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 111
Sanggau Komitmen Lindungi Anak

SAMBUTAN - Bupati Sanggau Paolus Hadi memberikan sambutan pada acara puncak peringatan Hari Anak Nasiona tahun 2019 di Gedung Balai Betomu, Kamis (22/8). Ist

SANGGAU, SP - Bupati Sanggau Paolus Hadi (PH) menegaskan, pemerintah daerah berkomitmen untuk melindungi dan memenuhi hak-hak anak. Hal itu disampaikan bupati dua periode ini saat menghadiri puncak acara peringatan Hari Anak Nasional (HAN) dan Hari Keluarga Nasional (HARGANAS) tahun 2019.

“Untuk kita ketahui bersama, Pemerintah Kabupaten Sanggau pada tahun 2017 dan 2018 mendapatkan penghargaan Kebupaten Layak Anak kategori Pratama. Ini membuktikan Pemerintah Kabupaten Sanggau benar-benar berkomitmen untuk melindugi dan memenuhi hak-hak anak,” ujarnya di Gedung Balai Butomo Sanggau, Kamis (22/8).

PH mengatakan, peringatan Hari Anak Nasional tidak hanya sekedar untuk mendatangkan kemeriahan saja, tetapi ada misi yang mulia atas peringatan tersebut. 

“Tujuan penyelengaraan Hari Anak Nasional ini untuk menyosialisasikan hak-hak anak yang telah disepakati dunia dan diratifikasi oleh Pemerintah Republik Indonesia dalam UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Dan sejatinya anak adalah manusia yang sama dengan orang dewasa, memiliki hak asasi dan butuh diakui serta dihargai,” katanya.

Ia menambahkan, festival lagu anak yang telah selesai dilaksanakan oleh Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (Dinsos-P3AKB) merupakan salah satu wujud komitmen Pemerintah Kabupaten Sanggau dalam meningkatkan pemenuhan hak dan perlindungan anak. Festival ini menunjukan arti penting partisipasi anak dalam kegiatan positif.

PH menyebut, festival yang telah dilaksanakan dalam rangkaian peringatan Hari Anak Nasional ini menjadi salah satu sarana bagi anak agar menjadi kreatif dan produktif. 

“Dan kita sebagai orang dewasa berkewajiban memberikan perlindungan kepada anak dari diskriminasi, eksploitasi ekonomi maupun seksual, kekerasan, penganiyaan,” pesannya.

Kepala Dinsos-P3AKB Kabupaten Sanggau Aloysius Yanto mengatakan, penerus cita-cita perjuangan bangsa memerlukan perlindungan dalam rangka menjamin pertumbuhan dan perkembangan fisik dan mental serta sosial secara utuh. Oleh karena itu, diperlukan lingkungan yang kondusif untuk memberikan perlindungan dan tumbuh kembang anak, perlindungan tersebut diperoleh dari lingkungan dalam keluarga.

Ia menyebut, melalui peringatan HAN ini diharapkan semakin menumbuhkembangkan kepedulian, kesadaran dan peran aktif setiap individu, keluarga, masyarakat dunia usaha, media, pemerintahan dan negara dalam menciptakan lingkungan yang berkualitas untuk anak.

“Memberikan perhatian dan informasi yang seluas-luasnya kepada seluruh anak dan keluarga tentang pentingnya meningkatkan kualitas anak melalui peningkatan pengasuhan keluarga yang berkualitas,” pungkas Yanto. (jul)

Keluarga Guru Utama bagi Anak

Peringatan Hari Anak Nasional 2019 kali ini mengambil tema pentingnya peran orang tua dalam rangka perlindungan anak. Pola pengasuhan dan perlindungan yang tepat dapat menciptakan kegembiraan anak yang terbebas dari ancaman kekerasan sebagaimana yang diharapkan.

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia (Komnas Anak), Arist Merdeka Sirait menyebutkan, berdasarkan catatan Komnas Anak, jumlah kekerasan terhadap anak di tengah kehidupan masyarakat terus meningkat. 

Sebanyak 52-58 persen pengaduan yang diterima didominasi kasus kekerasan seksual. Selebihnya sekitar 48 persen merupakan kasus kekerasan dalam bentuk lain seperti penganiayaan, penculikan, dan eksploitasi anak. Sebagian besar kasus kekerasan dilakukan oleh orang terdekat.

Data juga menunjukkan bahwa rumah dan lingkungan sekolah tak lagi memberikan rasa nyaman dan jaminan atas perlindungan anak. 

"Kedua tempat ini justru menjadi tempat yang menakutkan bagi anak," ujar Ketua Komnas Anak, Arist Merdeka Sirait, dalam keterangan resminya, belum lama ini.

Ketahanan keluarga, kata Arist, telah tergerus dan mulai pupus. Pola pengasuhan anak yang telah bergeser mengakibatkan keluarga tak lagi menjadi tempat yang nyaman bagi anak.

"Keluarga bahkan tak bisa menjadi garda terdepan perlindungan anak," kata Arist. 

Dia menilai, pola pengasuhan anak di zaman kiwari tak menekankan pada unsur dialog partisipatif. Pola pengasuhan ini mementingkan adanya keterbukaan dan menjadikan keluarga sebagai guru utama bagi anak.

Perlu adanya perubahan paradigma pola pengasuhan dalam keluarga yang otoriter menjadi pola pengasuhan yang menekankan pada dialog partisipatif. 

"Keluarga harus menjadi guru utama bagi anak," kata dia. (cn/ind)