Senin, 14 Oktober 2019


Patok Batas

Editor:

Indra W

    |     Pembaca: 544
Patok Batas

ilustrasi.

Sekiranya magrib dan subuh, batas siang dan malam. Atau ruang udara yang memenuhi bumi ini, batas antara tanah dan langit. Ada pantai yang menjadi sekat antara daratan dan lautan. Itu begitu tampak, begitu lekat dan pasti ditangkap mata. Tapi, aku tak akan bisa menggapai batas yang tak kasat mata. Tertutup oleh hijab transparansi adat budaya. Pembatas yang bahkan selalu dilintasi oleh berbagai aktivitas keragaman manusia. Sungguh sulit. Batas, bukan semata patok yang tertancap kuat.

***

“Aku tak bisa terus- terusan menjagamu, Kim.'' 

“Apa susahnya Gus, kau hanya meyakinkan teman-temanmu agar aku ini tidak ditangkap. Cukup!''

Aku sudah beberapa kali diingatkan oleh Agus perkara ini. Penjagaan, pengamanan, atau apalahlah ia menyebutkan dirinya itu. Aku tak meminta ia terus mengawalku, menenteng senapang dengan pakaian dinas bak seorang pengawal kepresidenan. Bukan. Aman yang aku butuhkan cukup bagaimana cara Agus meyakinkan teman-temannya untuk tidak curiga apalagi menangkapku. Bukan nikmat juga mengendap-endap di bawah rimbunan semak, terpeleset dan terjatuh di jalan tikus yang seperti labirin di perkebunan sawit. Tapi Agus tak tahu. Agus tahunya hanya menjaga perbatasan NKRI dan negara Jiran itu. Menjaga batas yang bermodalkan patok beton persegi panjang itu.

Dia belum tahu batas halusinasi, batas imajiner yang selalu dilanggar masyarakat adat di sini.

''Berbisnislah yang sehat Kim, jangan hidup dari cara kotor seperti ini. Membawa gula dan sembako lainnya dari negara tetangga tanpa izin.''

Agus, tentara muda itu mendakwahiku.

''Gus...kau temanku. Jangan kau sok nasionalis seperti itu hanya karena merah putih selalu terpasang di bajumu. Lihat orang kampung sini Gus, kalau aku ngotot dengan nasionalis kolotmu dengan membeli barang dari dalam, mahal,” sekali lagi aku sanggah pernyataan tentara muda itu.

Agus memang protektif orangnya. Kaku. Aku tahu dia hanya berusaha menjalankan tugas, dan ingin berusaha memahami persahabatan kami. Jadi wajar dia tampak seperti waspada. Jangan sampai dia, dan aku terkena batunya karena bisnisku ini. Aku tak peduli dengan argumentasi Agus. Tak sepaham kami. Bukan salah dia juga menceramahiku seperti itu, tapi bukan serta-merta aku salah total. Aku tidak mencuri, menjarah hak orang lain yang bukan seharusnya jadi milikku.

Bagaimana dengan para koruptor yang menjarah, bahkan membisniskan kekuasaannya untuk kepentingan diri sendiri. Dan lebih parahnya dilakukan di dalam negeri, bukan korupsi ilegal dari negara lain. Apakah mereka memahami dan berusaha untuk paham? Tidak. Mereka belum paham masyarakat kecil seperti aku, dan sebagian besar masyarakat perbatasan di sini. Mereka tahunya batas-batas hukum, tapi mereka sendiri yang menerobos batas itu. Dan Agus belum memahami batas itu.

***

''Akim...tunggu!'' sergah Agus saat aku akan memasuki jalan tikus yang menjadi rute penyusupan barang daganganku dari negeri Jiran. Hari ini stok gula mulai menipis. Aku harus ambil di seberang. Entah mengapa kami di perbatasan ini kerap menyebut negeri tetangga dengan ''seberang''.

Aku terus berjalan. Jarai dan parang yang aku bawa sudah menjadi ciri khas di mata Agus. Aku pasti akan ke batas sepi itu menurutnya. Aku tak memedulikannya, karena teman-temannya juga tak curiga bila kami bercakap sambil jalan menuju patok batas. Bagi teman-temannya aku hanya lewat sebentar untuk ke ladang saudara setanah yang beda negara.

''Kim...maaf, kali ini aku tak bisa terlalu jauh membantumu.”

Aku terdiam. Menatap pepohonan yang berjejer lebat di sekeliling. Jauh di depanku terlihat samar perkampungan yang akan aku tuju untuk membeli sembako. Perkampungan setanah yang tak lagi senegara. Bahasa adat kami sama namun rupiah tak akrab di sana.

“Sudahlah Gus, jangan kau pikirkan aku. Kembalilah ke posko bersama teman-temanmu.''

“Tapi Kim, berhentilah. Jangan lagi.''

Belum habis kata-kata Agus, aku pegang kedua bahunya. Kutatap matanya dalam. Agar dia bisa menatap batas sesungguhnya negeri ini.

“Gus, di mana patok negaramu?'' tanyaku setelah itu.

Agus masih ragu, karena patok batas tepat di antara kami berdua. Dia hanya menunduk, seakan memberi isyarat; itu di antara kita berdua. Aku tersenyum.

“Bukan Gus, bukan batas itu yang kumaksud.''

Agus kembali heran. Tak ada cahaya di matanya. Kosong tak mengerti arah pernyataanku. Dia terduduk tepat di samping patok, seakan ragu keberadaan balok beton yang tertancap sudah entah berapa tahun itu.

''Kau, dan negara ini memang memberi batas bagi kami, dan adat istiadat di sini. Tapi tidak dengan aku, alam dan masyarakat yang ada di wilayah ini. Tak ada batas bagi kami. Ekonomi, isi perut dan kekeluargaan kami telah merobohkan batas-batas yang dibuat oleh negara ini.''

Aku sekarang yang mendakwahi Agus. Bukan tanpa sebab. Aku hanya tak mau dilarang, tanpa ada jalan keluar yang jelas. Batas patok itu bukan penghalang bagi kami. Hukum dan aturan secara kasat mata tak akan berlaku di hutan belantara seperti ini. Salam hangat kami sesama saudara seadat yang berbeda negara di sini saja sudah cukup untuk menghancurkan kebekuan batas hukum ketidakadilan ini. Sekiranya mau berhukum. Maka mereka yang korupsi itu yang sepatutnya diberi batas dengan kekuasaannya. Jangan semaunya menancapkan patok batas, lalu berbalik tak peduli kemakmuran kami di perbatasan.

''Gus, gula yang aku beli di warung saudaraku di negeri Jiran itu, seandainya dipajak, tak akan cukup membayar ketidakadilan kami di wilayah ini.''

Agus terdiam. Tak terlihat gagah seperti biasanya tentara yang mengamankan pos perbatasan. Berat sepertinya merah putih di lengan bajunya kali ini. Merah putih yang akan sulit ditentukan batas antara kedua warnanya. Batas yang tak akan terlihat oleh mata. Tertutup lembut oleh keharmonisan yang menghangatkan redupnya belantara hutan perbatasan.

“Baiklah Kim, aku sekarang sadar batas itu. Mungkin karena aku bukan penduduk asli di sini.”

“Kau warga di sini atau bukan, itu bukan permasalahannya, Gus. Kau indonesia juga sama sepertiku. Kau tahu yang menghalangi kita saat ini?”

Agus menggeleng pelan. Dia sudah malas menjawab pertanyaanku lagi, atau dia sudah tahu tak akan ada gunanya menjawab pertanyaanku yang berapi-api.

“Gus, yang menghalangi kita saat ini, aku, kau, dan warga di wilayah ini tidak lain adalah ketidakadilan hukum pemerintah.”

Puas aku mendakwahi Agus, lelah mulut ini mengoceh. Kupandang jauh-jauh. Awan yang putih pekat itu berleha menuju negeri seberang. Tanpa halangan, tanpa batas. Bebas, tanpa hukum tanpa aturan yang melarang atau bahkan meminta izin dulu kepada pucuk-pucuk Tengkawang yang tinggi menghijab ruang.***



Penulis, Dodi Goyon, nama pena dari penulis yang bernama asli Dodi, lahir Sanggau, 21 Agustus 1992. Seorang pekerja swasta yang terpikat oleh tinta, sehingga menjadikannya semangat untuk mulai bergelut di dunia penulis.