Puisi-puisi Ahmad Radhitya Alam

Sastra

Editor Indra W Dibaca : 347

Puisi-puisi Ahmad Radhitya Alam
Pada Pematang Peradaban
;abad  

sampai sudah kita pada waktunya
berdiri dia antara pilihan-pilihan
yang nyaris tak dapat dipilih

sampai sudah kita pada waktunya
ketika manusia tak lagi memanusiakan manusia
di mana kepercayaan makin skeptis
berbaur untuk kepentingan politis
jiwa-jiwa merambah sistem kaotis
dan harap menderap kian praktis

o, sang pencipta kehidupan
maka makhluk mana lagi
yang bisa dipercaya hamba
jika tak ada cinta dan harapan
nurani seakan telah mati
terkubur dalam inti bumi

Blitar, 9 April 2018



Labuh Melankolia

arah angin utara acap membawa tanda-tanda
terkadang kita yang tak sadar menebak makna
kita memang generasi yang tak suka berpikir logis
terlebih pada ihwal belukar yang beraroma politis

lagu-lagu perjuang kian tersisih
lagu-lagu percintaan kian terkasih
sajak-sajak nurani dianggap bual
sajak-sajak politis dicipta banal
karya pribadi tak lagi diminati
karya plagiasi semakin mendominasi
yang durjana makin dicinta
yang bijak bestari makin merana
pengharapan tak tak lagi disandarkan pada Tuhan
doa-doa dirapal untuk ditujukan pada setan

o, generasi yang melankolis
kita semakin sasar pada nyalang skeptis
aroma politis semakin kaotis
garis yang kita buat begitu najis

maka atas nama apa lagi aku mendoa
untuk persembahan pada Sang Kuasa
karena tak ada lagi yang patut disanjung
pada dunia yang makin tanpa ujung

Kaweron, 2018



Tragedi Senin Wage
selamat menunaikan ujian
semoga takdirmu makin mapan

Blitar, 9 April 2018  



Cinta yang Sederhana
:Adelwis RG  

aku mengasihimu dengan sederhana
sesederhana sajak-sajak mata
tanpa romantisme yang berlebih
seperti cappucino yang menanggalkan buih

cintaku memang cukup sederhana
mirip rumus kimia oksigen
walau tak pernah dihafal
kita senantiasa buat menghirupnya
biarlah orang bersenandung ria
mengumbar kepulan romantisme fana
karena kita tidak pernah tahu mana yang baik
bahwa dunia telah penuh oleh orang-orang munafik

untuk apa cinta yang berlebih
kalau esok hanya menjadi buih
lebih baik cinta yang sederhana
dengan esok menjadi rumah tangga

Blitar, 6 April 2018    



Sebuah Dendam Kepada Silam

ketam ladam
memoar telah membakar tiap kenang yang legam
pada garis waktu huluan silam
melumat matamu yang padam
juga luka menanam dendam
berdenyar sulur saraf otak
meronta nyalang beranjak
pupur itu telah kabur
dibawa ngilu ombak berlumpur
tanah ini kian mengarak
matanya telah basah
membawa duka masa lalu
di pangkal palung hatinya
ia tak pernah menemukan ujung
hanya sisa barabara terisak
yang terkubur dalam sekam

Blitar, 2018  




Penulis Ahmad Radhitya Alam, santri PP Mambaul Hisan Kaweron dan siswa SMA Negeri 1 Talun. Bergiat di FLP Blitar, Teater Bara, Sanggar Mlasti, dan IPNU Ancab Selopuro. Tulisannya dimuat di pelbagai antologi bersama dan beberapa media cetak serta elektronik. Biasa berinteraksi di Facebook Ahmad RadhityaAlam.