Kesurupan

Sastra

Editor Indra W Dibaca : 308

Kesurupan
ilustrasi.
Di kampungku setiap orang pasti pernah kesurupan. Tidak peduli apakah ia tukang becak, tukang rujak, guru, lurah, atau kyai. Bisa terjadi di mana saja, kapan saja. Di rumah sendiri, sekolah, pasar, bahkan masjid. Pada pagi, siang, malam, atau subuh. Kami sudah terbiasa dengan hal itu. Tidak perlu panik atau histeris bila melihat ada yang kesurupan. Ajak saja bicara. Tanya siapa dia. Tanya maunya apa. Kalau mau bercanda, silakan asal jangan kelewatan. Kalau hendak didiamkan saja pun tidak masalah. Sekitar lima belas menit–bergantung apa yang merasuki-percayalah, orang itu akan normal kembali.

Diberi minum air putih saja sudah cukup. Begitu biasanya kesurupan itu sama seperti angin semilir di siang hari. Seakan biasa. Lambat laun menjadi sebuah keharusan. Jika seseorang belum kesurupan, orang tua atau kerabatnya akan bertanya-tanya dan was-was. Orang itu diartikan belum diberi restu sesepuh untuk tinggal di kampung. Tak sedikit pula keluarga mereka yang berhasil kesurupan membuat syukuran. Bentuk syukur karena sesepuh telah mengizinkan sang anak tinggal di desa dan tidak ada yang lebih membahagiakan ketimbang diperbolehkan tinggal di tanah sendiri. Melalui kesurupan, masa depan seseorang dapat terlihat. Jika kesurupan sosok antah berantah, masa depan anak akan menjadi orang biasa saja.

Mungkin kuli, pedagang, atau petani. Jika kerasukan sosok orang tua pendiam, masa depannya akan menjadi kyai. Jika sosok yang banyak bicara, bersuara besar, dan garang, masa depannya akan menjadi pejabat. Setidaknya, pesuruh kelurahan. Begitulah setiap orang memiliki sosok kesurupan masing-masing. Sosok yang sudah paten. Semacam hak milik.

Dalam keluargaku, sosok kesurupan ayah adalah sosok yang besar suaranya dan garang. Ketika ayah diangkat menjadi kepala administrasi kelurahan, kami pun maklum. Sedangkan sosok kesurupan ibu adalah nyai-nyai tua, yang berbicara dengan nada pelan namun bertele-tele. Benar saja, ibu menjadi ustazah. Kakak lelakiku yang pertama, sosok kesurupannya adalah janda yang mati muda. Kami selalu tertawa bila ia kesurupan, sebab sifat asalnya yang selalu serius dan tidak banyak senyum berubah menjadi kemayu dan manja. Lantas kakak menjadi pengusaha pangkas rambut. Ramai sekali pengunjungnya. Sementara itu, kakak perempuanku nan cantik jelita dan rajin senyum, sosok kesurupannya mirip dengan ayah, suara besar dan garang. Tetapi, lebih jarang berbicara. Benar saja, setelah ikut empat kali tes pegawai negeri, nasibnya berlabuh menjadi asisten kepala bidang. Jabatan itu sungguh mengagumkan jika diukur masa kepegawainnya yang belum genap setahun. Pada tes tiga kali di awal, kakak selalu terhalang dengan berbagai sebab, seperti sakit pada masa ujian, kecelakaan kecil dari motor, dan lalai menyimpan berkas pendaftaran. Pada tes keempat bapak-ibu berdoa tujuh hari tujuh malam, sedang kakak puasa mutih tiga hari, dan seorang kyai dipanggil untuk dimintai segala doa penolak bala. Hasilnya, bukan hanya jabatan yang ia peroleh, tetapi berbagai pinangan ramai datang ke rumah. Siapa lelaki yang tidak ingin memiliki istri seperti kakakku? Cantik dan jabatannya bagus. Berbeda dari yang lain, sosok yang merasuki jasadku adalah pemuda yang mati karena patah hati. Hal itu aku ketahui lewat orang lain karena aku tidak menyadari apa-apa ketika kesurupan. Sosok itu memang tidak berpengaruh banyak pada apa pekerjaanku, tetapi sangat menentukan jodohku.

Pertama kali aku kesurupan terjadi ketika duduk di bangku SMA. Saat itu aku jatuh cinta kepada Darsi, gadis manis anak pengusaha kentang. Wajahnya bulat menggemaskan, matanya tajam, agak sipit, dan dinaungi alas yang tebal dan melengkung seperti bulan sabit di malam akhir bulan yang cerah. Tubuhnya lebih pendek sejengkal daripada tubuhku. Perangainya selalu menyenangkan orang lain. Mudah tersenyum, cerdas, dan pandai berbicara. Saat ia berada dalam satu kelas denganku, hanya butuh waktu sebentar baginya untuk menjadi primadona di kelas. Ketika pemilihan ketua kelas, tujuh puluh persen suara memilih dia. Tetapi, guru kelas memiliki penilaian yang lain. Menurutnya, yang mesti menjadi pemimpin adalah laki-laki. Aku, yang mendapat suara terbesar kedua, akhirnya menjadi ketua kelas (diikuti bisik-bisik menggerutu sebagian kelas). Akhirnya Darsi dilabuhkan di kursi wakil ketua kelas. Tugas ketua-wakil ketua inilah yang membuat kami dekat dan menjadikan aku tenggelam dalam suasana romantis.

Sampai akhirnya, perasaan dag-dig-dug itu tidak tertahankan lagi. Perasaanku semakin membuncah ketika bercakap-cakap dengan dirinya. Kuberanikan diri untuk menemui dirinya sehabis sekolah pada hari Sabtu, bertanya apakah ia memiliki waktu luang saat malam. Kujelaskan bahwa niatku adalah membicarakan kebersihan kelas. Ia mengangguk. Kukatakan lagi bahwa lebih baik membicarakannya sambil berjalan-jalan di pasar malam. Iya mengiyakan sambil tersenyum. Karena itu pula aku melompat-lompat kecil dan terus mengulum senyum di kala perjalanan pulang. Malam harinya kami berjalan bersama di pasar malam. Pembicaraan kebersihan kelas hanya terjadi beberapa menit.

Selebihnya, helaan nafas dan ucapan-ucapan yang kaku dan ragu-ragu. Darsi lebih banyak berdiam diri, sehingga membuatku semakin tertekan. Sekali-kali kulirik ia; rambut panjangnya yang diikat ke balakang, leher dan jemarinya putih bersih, tegak tubuhnya yang meliuk, pinggangnya yang elok, kakinya yang ramping. Ah. Aku tenggelam dalam kekaguman, perasaan yang ingin meledak, dan kebingungan. Bagaimanakah semestinya kalimat cinta yang tepat? Ketika jemariku dan jemarinya bersentuhan, dan dadaku bergemuruh kencang, aku tidak dapat mengingat apa-apa lagi. Yang dapat kuingat adalah, aku dikelilingi oleh bapak tua penjaga komidi putar, beberapa orang berpeluh yang memperhatikan diriku sambil tertawa, dan Darsi. Bapak tua memberiku segelas air putih, memijit-mijit tengkukku. Tak lama ia meninggalkan diriku. Beberapa orang yang mengelilingiku juga beranjak. Tinggal aku dan Darsi. Ia setengah berjongkok di samping dan mengelus-ngelus bahuku. Aku bertanya, “Ada apa?”. Darsi tersenyum saja.

Beberapa menit, aku bangkit dan kami pulang ke rumah masing-masing. Ia bersikeras menolak aku antarkan. Hari Senin, ketika masuk sekolah, semua orang memandangi diriku. Mereka bertepuk tangan saat aku melangkah masuk ke kelas. Dari seorang teman, aku pun tahu apa yang telah terjadi. Di malam aku bersama Darsi, aku kesurupan. Aku memanjat komidi putar dan berteriak-teriak, “Aku cinta kamu, aku cinta kamu. Hidup bersamamu adalah panggilan takdir dan akan kubayar dengan kematian bila tidak kau indahkan,” (aku tidak yakin, kalimat seperti itu muncul dari mulutku. Meski begitu, terdapat beberapa versi cerita tentang apa yang kuucapkan dan kalimat itu adalah yang paling sederhana, bermartabat, dan dapat kuterima). Beberapa orang menyusulku menaiki komidi putar dan mereka berhasil mencegahku agar tidak lompat dari ketinggian. Darsi sendiri tidak menyahut apa-apa. Aku dibawa turun, lalu diantarkan ke penjaga pasar malam untuk menjagaiku. Mengetahui cerita teman-teman tentang peristiwa malam itu, aku tidak berani memandang Darsi berlama-lama. Meski aku masih berkali-kali meliriknya, tetap saja keberanianku untuk menyapanya tidak muncul. Beberapa hari kemudian, ketika pelajaran matematika, Darsi maju ke depan kelas dan bernyanyi. Ia bernyanyi tentang kesedihan karena ditinggal kekasih. Semua orang, termasuk guru, terkejut bingung, sekaligus terhenyak oleh lagu yang dinyanyikannya.

Yang membuat aku semakin terhenyak adalah tatapannya terus tertuju kepadaku. Sampai akhirnya kami sadar bahwa Darsi sedang kesurupan. Darsi bernyanyi selama sepuluh menit. Ketika ia terjatuh karena kelelahan, kami menggotongnya ke ruang kesehatan. Setelah diusap-usap rambutnya, ia pun sadar. Ia melihat sekeliling, melihat kami. Ia minta diceritakan apa yang terjadi. Salah seorang teman baiknya bercerita. Ia tersipu dan pelan-pelan tangannya menggapai tanganku. Ini membuatku terhenyak, tetapi bahagia. Begitu bahagianya. Aku lalu mengantar ia kembali ke kelas.Esoknya kami menjadi sepasang kekasih. Lewat cerita-cerita orang tua, akhirnya kami ketahui bahwa sosok kesurupan aku dan Darsi memiliki hubungan. Sosok kesurupanku adalah pemuda yang bunuh diri karena patah hati, sedangkan sosok kesurupan Darsi adalah kekasih yang dicintai pemuda itu. Pemuda itu tidak mengetahui bahwa perempuan idamannya, sesungguhnya mencintainya. Ia bahkan mengira sang perempuan lebih memilih lelaki lain karena sang perempuan dikabarkan hendak menikah. Akhirnya pemuda itu bunuh diri dan perempuan itu bersedih hati. Sepanjang malam, perempuan itu hanya bernyanyi pilu. Akibat terlalu dilanda kesedihan, perempuan itu pun turut mati. Maka, aku dan Darsi merasa bertanggung jawab untuk menyatukan mereka, yang tentunya juga keuntungan bagi kami. Beberapa tahun selepas lulus sekolah, kami menikah.

***

Aku bukanlah anak terakhir. Di bawahku ada Ser, si bungsu. Usianya terpaut cukup jauh denganku, tujuh tahun. Saat ia kecil, hari-hariku selalu diisi menggendong dan mengelitik tubuh kecilnya. Gadis kecil itu akan tertawa mengakak, yang lengkingnya memekakkan sekaligus menyenangkan. Ketika ia terserang flu, aku akan berbaring menemaninya sepanjang hari sambil mengelus ubun-ubunnya. Semakin dewasa, hubungan kami ternyata tidak terlalu dekat. Aku terlalu sibuk dengan teman-temanku, pekerjaanku, dan Darsi. Ser pun lebih sibuk dengan urusannya. Apapun yang ia lakukan.Kami, entah karena alasan apa, menjadi jarang bercakap-cakap.

Dari sudut pandangku, ia menjadi gadis yang biasa-biasa saja. Wajahnya,tidak cantik juga tidak buruk. Perangainya, tidak berisik tidak pendiam. Sekolahnya tidak pintar tidak bodoh. Semuanya biasa-biasa saja. Tidak ada yang menarik atau jelek pada dirinya. Sesekali kutanyai kawan-kawan sekelasnya. Jawaban mereka tidak berbeda dari sudut pandangku. Baiklah, selama tidak ada yang aneh, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Di rumah, kami masih makan malam dalam satu meja dan kadang ia mengambilkan air putih untukku. Setahun sebelum aku menikah, Ser menamatkan sekolahnya. Seharusnya saat itu keluarga kami berbahagia karena artinya seluruh keluarga berhasil bersekolah –sebuah hal yang jarang terjadi di kampung kami. Tetapi, yang terjadi justru keluarga kami tertekan.

Ser belum kesurupan, padahal ia sudah melewati masa remaja, masa emas kesurupan. Orangtuaku cemas, takut bila Ser tidak direstui nenek moyang. Ketika kabar ini menyebar ke seluruh kampung, warga kampung turut was-was. Belum pernah terjadi seorang anak yang lahir di kampung sendiri, dari keluarga asli kampung ini, yang tidak kesurupan. Memang pernah ada yang telat kesurupan.

Bang Sulaiman yang tinggal di ujung gang, sampai umur dua puluh tahun, belum kesurupan. Lantas ia dibawa orang tuanya ke kolam desa kami, yang menurut orang tua-orang tua kami, adalah kolam yang dibuat seorang sunan demi menyelamatkan desa dari musim kemarau. Air kolam itu memang tidak pernah kering, tetapi kini agak berbau comberan. Banyak yang membuang sampah dan mencuci baju di bantaran kolam. Meski begitu, kami masih mengandalkannya untuk air minum dan cuci baju jika berminggu-minggu tidak hujan. Setelah bang Sulaiman dibawa ke kolam tersebut dan disuruh duduk bersila selama seminggu –tidak mandi, tidak ganti baju, dan hanya boleh memakan nasi putih dan meminum air dari kolam-, ia pun kesurupan sosok lelaki garang yang dahulunya adalah perampok. Bang Sulaiman kini menjadi polisi.

Ritual semacam itu pun dilakukan untuk Ser. Ia duduk bersila di tepian kolam dan mesti menjalaninya selama seminggu. Hanya diberi makan nasi putih dan minum dari kolam. Tetapi, setelah tiga hari, Ser jatuh sakit. Ia pingsan dengan tubuh membiru. Ritual itu pun gagal. Ser terbaring seminggu di rumah. Orang-orang berbisik bahwa tubuh Ser terlalu lemah untuk dirasuki. Yang lainnya beranggapan bahwa Ser tidak diinginkan para nenek moyang. Beberapa minggu setelah usaha perasukan di kolam, Ser dihadapkan ritual kembali.

Kali ini ia dimandikan kembang tiga belas rupa dan disuruh menginap semalaman di kuburan. Ia juga harus menghafal dan merafal macam-macam mantra saat di kuburan. Ada pondok tua di tengah kuburan. DisanaSer melakukan semua itu. Ia melawan dingin dan gigitan nyamuk seorang diri, sambil mengucap mantra-mantra. Mungkin juga tidak diucapnya. Tidak ada yang tahu sebab tak seorang pun diperbolehkan menemaninya. Pagi harinya ia ditemukan tertidur pulas. Tidak ada apa pun yang terjadi. Bisik-bisik orang-orang semakin keras, menyatakan bahwa Ser tidak diterima oleh nenek moyang. Tapi ayah dan ibu tidak putus asa. Ayahku mengeluarkan banyak tabungannya untuk memanggil kyai yang lebih alim, yang sudah naik haji hingga tiga kali –orang-orang yakin bahwa sosok kesurupan kyai ini adalah keturunan sunan.

Di sebuah malam Jumat berlampu purnama yang sempurna bulat, ia diletakkan di tengah-tengah ramai orang. Kyai itu, yang janggutnya tumbuh hingga dada dan keningnya berwarna hitam, melafalkan berbagai kalimat Arab bercampur bahasa kampung. Bahasa kuno juga dirapalnya. Ubun-ubun Ser digosok-gosok. Jempol kakinya dipencet-pencet. Perutnya ditepuk-tepuk. Pundaknya dipukul-pukul. Berulang kali.Semua usaha yang dilakukan kyai semata-mata agar semua hal yang menghalangi Ser untuk kesurupan terbuang. Tetapi, sejam berlalu, setengah malam berlalu, Ser tetap saja diam. Ia malah menitikkan air mata. Aku tidak tahu apa yang Ser rasa dan apa yang ia tangisi. Yang jelas, Kyai itu akhirnya menggelengkan kepala, mengangguk kepada ayahku, dan menghela nafas panjang sambil mengangkat pundak. Ayah dan ibuku merenung lama, kecewa, lelah, sedih, dan meradang. Orang-orang yang mengerumini Ser tidak lagi berbisik-bisik. Mereka tanpa sungkan meneriakan Ser dengan sebutan aneh-aneh. Iblis. Durhaka. Anak terkutuk. Tidak tahu terima kasih.

Semua ucapan itu, tentu sumpah serapah tanpa dasar yang benar. Aku pun meradang. Namun tidak punya nyali melawan massa. Ayah tiba-tiba membentak-bentak Ser. Ikut-ikutan massa. Ibu sesunggukan. Kemudian, terjadilah sesuatu yang melewati batas imajinasi kami. Banyak versi cerita setelah kejadian ini. Orang-orang tetap menceritakannya, kepada anak mereka, kepada cucu mereka, dan cucu mereka menceritakannya lagi kepada anak-cucu seterusnya.

Setiap orang, memiliki versi sendiri. Setiap versi, memiliki bumbu sendiri. Namun, apapun bumbunya, adonan cerita selalu sama: Ser dirasuki sesuatu yang luar biasa. Rajanya genderuwo. Dewanya dedemit. Raja diraja dari segala raja kampung. Ada yang bilang, tubuh Ser tiba-tiba membesar. Pucuk beringin tertinggi pun tidak tampak, tertutup bayangnya. Cahaya rembulan redup seketika. Dunia dipenuhi oleh sosok Ser seorang. Ada yang bilang, jari jemari Ser mengeluarkan kuku yang sangat panjang, melebihi tinggi badannya sendiri. Dan tajam. Siap menggorok leher siapapun yang tidak lekas lari. Ada yang bilang, Ser terbang. Sayap-sayap keluar dari punggungnya. Tangannya menjadi delapan. Kakinya menjadi enam. Dari langit, ia menyihir semua orang, sehingga tidak ada satu pun yang sadar akan yang terjadi sesungguhnya.

Tapi, izinkan aku mengisahkan dengan versiku.

Aku melihatnya dengan sepasang mata yang bertengger di kepalaku. Mendengar setiap bunyi dengan sepasang telinga yang menempel di kanan-kiri kepalaku. Meski semua orang mengaku seperti pengakuanku, percayalah, bahwa ceritaku ini, tidak ditambahi bumbu apapun. Aku tidak pernah berniat mengkhianati hubungan darah dengan Ser, yang lantas membuat ceritaku mengenyahkan sosok manusia pada dirinya. Ser tidak pernah menjadi sebesar raksasa. Ser tidak pernah mengeluarkan kuku terpanjang di dunia. Ser tidak pernah terbang. Ser hanya berteriak, mengamuk, mengeluarkan kesumat yang menekannya bertubi-tubi.

“Apa salah saya? Kalian pikir aku anjingnya anjing! Benalu? Sampah? Bangkai? Sementara kalian mempercayai segala kekonyolan, aku menolaknya dengan akal dan pikiranku. Dan sekarang kalian tuduh aku terusir, tertolak, terkutuk, sebab menolak kekonyolan mistis kalian? Kalian dibodohi akal pikiran kalian sendiri. Aku, tak kan mau menerima kebodohan kalian yang menyalahi kodratku sebagai manusia!”

Ia kemudian mengambil rotan pemukul kasur, lantas memukul-mukul dirinya sendiri hingga berdarah-darah, ingin menunjukkan bahwa ia manusia. Kegelisahan dan darah adalah bagian dari menjadi manusia. Ia gelisah karena kekonyolan. Ia berdarah karena tubuhnya bukanlah batu bisu. Ser berlari-lari, menyerbu ke kerumunan, hendak memukul siapapun yang mengata-ngatainya. Ia menjadi semacam seorang ibu yang hendak menempeleng anaknya yang terlalu dungu dan bandel. Kerumunan bubar. Mereka lari semerawut, terbirit, menganggap bahwa rotan di tangan Ser adalah pedang bermata dua. Siap menebas kepala walau hanya dengan anginnya.

Esoknya, tanpa berpamit kepada siapapun, Ser meninggalkan rumah menuju pantai. Ia menanti kapal yang berlabuh. Sebuah kapal barang singgah di hari yang sama, seolah sudah memiliki janji temu dengan Ser. Sebelum menaiki kapal, Ser beralih kepadaku yang bersembunyi di semak-semak bagai pengecut perang. Aku membuntutinya sejak dari rumah.

“Keluarlah kak. Kau tidak sedungu mereka,” ujarnya.

Aku keluar dari tempat persembunyian dengan perasaan bersalah. Mengapa harus kuhadapi adikku sendiri dengan cara seperti ini? Saat aku tepat di hadapannya, sekalimat pendek ia ucapkan.

“Semua yang kulakukan semalam, kulakukan dengan sadar. Sadar sepenuhnya sebagai seorang manusia. Aku merasuki diriku sendiri.”

Kalimatnya ini membuatku sadar, bahwa ia bukan lagi Ser kecil yang kuciumi ubun-ubunnya. Juga membuatku sadar, ada rentang jarak antara kami. Ia adalah seorang manusia, sementara aku masih hewan yang hidup sekadar untuk makan, beranak pinak, dan mengamini sistem dungu yang disepakati bersama. Kapal yang ditumpangi Ser mengangkat sauh. Ser mengecup pipiku, lalu pergi bersama kapalnya. Kapal itu berlayar tanpa berbelok ke samudera luas, dan tidak lagi terlihat dari pandanganku setelah menjadi titik samar di perbatasan antara langit dan laut.


Penulis, Abroorza Ahmad Yusra. Seorang penulis, penikmat sastra dan kebudayaan, serta penggiat konservasi lingkungan.