Senin, 14 Oktober 2019


Perempuan Yang Mengintip Malu-Malu Dari Balik Jendela

Editor:

Indra W

    |     Pembaca: 567
Perempuan Yang Mengintip Malu-Malu Dari Balik Jendela

ilustrasi.

Seluruh penduduk dusun tahu benar kalau Sajidin, pemuda dusun yang tabiatnya bagus itu, telah jatuh hati pada Marianti, putri semata wayang Kyai Kobul, pemilik pesantren yang berdiri megah di sebelah selatan dusun. Di pesantren itu juga Sajidin tiap malam memberi ajar ilmu agama kepada para santri. Sungguhpun Kyai Kobul punya pesantren sendiri, dia masih juga mengirim Marianti belajar ilmu agama ke pulau Jawa. Bukan lantaran tak percaya dengan kemampuan para ustadz di pesantren miliknya, melainkan Kyai Kobul ingin putrinya juga memperoleh pendidikan umum yang lebih layak.

Dua bulan lalu Marianti pulang kampung. Telah diselesaikannya sekolah menengah umum dan, kecakapan ilmu agamanya juga berkembang sejalan dengan kecerdasannya di bangku sekolah.

Kali pertama Sajidin melihat Marianti ketika hendak pamitan pulang ke Kyai Kobul, usai mengajar di suatu malam yang cerah. Banyak betul bintang malam itu. Sajidin tak merasa perihal ganjil apapun sebagaimana biasanya. Itu sebelum matanya tak sengaja menatap sosok jelita yang mengintip malu-malu dari balik jendela. Setelahnya, Sajidin terpana sekejap. Sajidin seakan lupa niat berpamit. Begitu mata mereka bersitatap, Sajidin memberi anggukan hormat. Marianti menutup wajah dengan ujung hijab, mengangguk pula dengan gerak masih malu-malu. Hati Sajidin penuh gemuruh tak wajar.

Sadar akan niat semula, Sajidin menuju ambang pintu rumah utama yang jaraknya tak begitu jauh dari pesantren. Sajidin mengetuk daun pintu tiga kali. Kyai Kobul membukakan pintu sebagaimana biasa. Sajidin mencium punggung tangan Kyai dan pamitan seperti mengulang adegan malam-malam sebelumnya. Sajidin berlalu usai mengucap salam.

Ada rasa penasaran ketika hendak melangkah kaki. Jendela di belakang Sajidin masih menyala lampunya dan belum dirapatkan kain korden. Ingin benar Sajidin menoleh. Namun, ia sungguh malu jika kedapatan mencari harap jikalau Si Jelita masih di sana, mengintip malu-malu dari balik jendela.

Tapi, tak kuasa menolak hasrat, Sajidin membalikkan badan. Dan benar saja. Si Jelita kedapatan berkelebat. Bersembunyi. Menyeret badan dengan cepat ketika Sajidin membalikkan badan dan menatap ke arah jendela. Sajidin tersenyum. Bahagia, juga sedikit malu-malu. Malam itu rasanya indah betul bagi Sajidin.

***

Seakan diberi jalan oleh Tuhan yang Maha Pengasih, usai peristiwa curi-curi pandang di malam itu, Sajidin bertubi-tubi mendapat kemudahan bertemu dengan Marianti. Kali pertama mereka punya kesempatan berbincang adalah ketika berpapasan di pasar pagi. Sajidin seperti biasa, mengunjungi pasar daging sapi yang seluruhnya dipercayakan kepada Sajidin dalam urusan jagal. Selain cakap mengajar ilmu agama, Sajidin juga cakap sebagai tukang jagal. Sudah beberapa tahun seluruh hewan kurban hari raya Iduladha dipercayakan pada Sajidin untuk disembelih. Sajidin mahir betul menjagal. Sampai-sampai ada beberapa warga dusun yang melempar seloroh jika bukan Sajidin yang menjagal sapi, maka tak mau mereka membeli daging sapi yang dijual di pasar pagi.

Adapun Marianti ketika itu juga hendak belanja daging. Maka berjumpalah keduanya dalam suasana serba canggung. Tak paham bagaimana memulai bincang. Marianti menunduk malu-malu. Sedang Sajidin kentara betul salah tingkahnya. Sajidin mengangguk hormat seperti dulu, saat pertama kali mata mereka bersitatap. Marianti membalasnya, juga seperti dulu. Hanya saja kali ini Marianti tak menutup wajah dengan ujung hijab. Semakin terpampanglah kecantikan Marianti di hadapan Sajidin yang entah bagaimana ceritanya tiba-tiba menjadi panas dingin dan kehilangan keterampilan berbincang dengan orang lain.

Ragu-ragu, Sajidin mengulurkan tangan, mengajak Marianti kenalan. Marianti menyambutnya dengan penuh canggung. Sajidin hendak menyebutkan nama namun kalah cepat dengan sorak sorai para penjual daging yang membahana, begitu kedua tangan di hadapan mereka saling jabat. Muka Sajidin merah padam menahan malu. Marianti apalagi. Keduanya sungguh tak mengira bakal seperti ini; berkenalan di pasar dan disoraki. Sungguh suasana yang sama sekali tak ada romantisnya.

“Amboi, Din, manjur betul doa yang kau panjatkan. Patutlah tak kau terima cinta si Azizah yang jungkir balik mengejarmu. Rupanya ini yang kau tunggu. Ustadzah dari pulau Jawa. Pintar ilmu agama, cantik pula. Dan... aduhai... pasti halus betul jemari tangannya,” celetuk salah satu karib Sajidin yang juga salah satu penjual daging di pasar pagi. Tawa meledak dari beberapa penghuni pasar. Mereka bertepuk tangan sekali lagi.

Marianti malu bukan kepalang. Batal niatnya membeli daging. Sajidin bertambah bingung. Sembari berpura marah pada para karib di situ, Sajidin minta dibungkuskan satu kilo daging sapi kelas satu, daging sapi yang seutuh-utuhnya daging, tanpa lemak dan tulang. Karibnya memberikan apa yang diminta dengan suka cita.

Sajidin berinisiatif mengantar daging itu ke rumah Kyai Kobul. Sajidin memberikannya cuma-cuma sekaligus hendak meminta maaf perihal kejadian tak mengenakkan hati Marianti di pasar tadi.

“Maafkanlah kelakuan teman-teman saya di pasar tadi, Dik. Sungguh, mereka itu hanya bersenda belaka. Tak ada maksud apa-apa. Janganlah diambil hati olehmu,” ucap Sajidin perlahan pada Marianti setelah sebelumnya menjelaskan kepada Kyai Kobul dan Nyai  Marsita, ibunda Marianti, perihal apa yang sudah terjadi di pasar tadi.

“Tak mengapa, Ustadz. Tak masuk ke hatiku. Hanya saja, saya malu diperlakukan seperti itu. Tapi ya sudahlah. Ustadz sendiri yang bilang kalau itu hanya senda gurau saja. Tak jadi masalah saat ini.”

Lega hati Sajidin mendengar penuturan Marianti. Sajidin meminta agar jangan sampai Marianti canggung belanja ke pasar lagi. Dikatakan kepada Marianti bahwa Sajidin akan memberi tahu para karibnya agar jangan lagi mengolok-olok Marianti saat belanja nanti. Marianti mengangguk seraya menyungging senyum. Sejuklah hati Sajidin menangkap senyum Si Jelita di depannya itu.

Pertemuan kedua dan seterusnya terjadi di pesantren. Meski terpisah ruangan, Sajidin tahu betul kalau Marianti juga sudah mulai memberi ajar ilmu agama kepada para santri perempuan. Maka kesempatan jumpa tanpa harus curi-curi pandang seperti saat pertama bersitatap dulu terbuka lebar. Usai memberi ajar ilmu agama, Sajidin kerap mengantar Marianti pulang sembari seperti biasa, berpamitan pulang pada Kyai Kobul.

Orang-orang di dusun sudah maklum akan kedekatan mereka. Sungguhpun tak diucapkan langsung, orang-orang di dusun tentu saja mengamini kedekatan ini. Bagaimana tidak? Pemuda dusun yang santun, dalam ilmu agamanya, bersahaja, ketemu jodoh putri seorang kyai pemilik pesantren, putri lulusan sekolah di pulau Jawa, bagus juga ilmu agamanya, santun perangainya, dan cantik jelita parasnya. Tak ada orang dusun yang tidak setuju.

Mendengar desas-desus penerimaan orang-orang di dusunnya, Sajidin sungguh berbesar hati. Dikatakan pada emaknya, sesegera mungkin Sajidin ingin meminang Marianti.

Sajidin sudah mantap dengan keputusannya. Namun, sekali lagi, rencana hanya sebuah rencana. Bagaimanapun manusia mengupayakan, Tuhan juga yang memutuskan. Tersiar kabar bahwa Marianti sudah ‘diminta’ oleh Kyai Jamal, pemilik salah satu pesantren di kota, untuk dinikahkan dengan putranya semata wayang, Ustadz Munawir. Tersiar kabar pula bahwa Kyai Kobul tak punya kuasa menolak pinangan itu. Siapa yang tidak tahu perihal Kyai Jamal? Orang dusun semua paham Kyai Jamal adalah orang yang membantu pembangunan pesantren milik Kyai Kobul. Pesantren Kyai Kobul bisa berdiri megah seperti sekarang ini, semua berkat suntikan dana dari Kyai Jamal. Sajidin dan orang-orang dusun paham akan hal tersebut.

“Sudikah Dik Marianti menikah dengan Ustadz Munawir itu?” tanya Sajidin pada suatu malam seusai memberi ajar ilmu agama sekaligus mengantar Marianti pulang.

Marianti tertunduk. Betapapun dikatakannya tidak, toh pada akhirnya pernikahan itu akan terjadi juga.

“Kalau memang iya, saya tak bisa berkata apa-apa lagi, Dik. Saya jatuh cinta kepada Dik Marianti. Tapi saya juga perlu restu dari Kyai. Kalau toh restu kyai jatuh kepada Ustadz Munawir, baiklah, saya mundur.”

Bukan main remuk hati Marianti demi mendengar penuturan tulus dari pemuda yang sudah mulai dikasihinya ini. Maka teteslah air mata yang sedari tadi ditahan. Marianti terisak. Pecah tangisnya membelah malam yang kelam. Malam yang tanpa bintang. Malam yang menciptakan kesedihan untuk kali pertama sepanjang kebersamaan mereka.

“Saya minta maaf, Ustadz. Saya minta maaf,” ujar Marianti sembari menangis.

***

Pernikahan antara Marianti dan Ustadz Munawir akan diselenggarakan dua hari lagi. Bukan main sibuk keadaan pesantren demi menyiapkan acara besar ini. Berpuluh-puluh juta uang sudah disiapkan oleh Kyai Jamal yang menyetujui permohonan Kyai Kobul agar perayaan pernikahan putra-putri mereka di selenggarakan di dusun saja, tidak di pesantren milik Kyai Jamal.

Sudah berhari-hari pula Sajidin tak tampak beraktivitas di dusun. Dia tak lagi memberi ajar ilmu agama kepada para santri. Tak juga berkunjung ke pasar untuk mengecek ketersediaan daging. Kerjaannya hanya duduk termenung di beranda belakang rumah. Orang-orang sedusun maklum kenapa Sajidin bisa begini. Namun sama halnya dengan Marianti dan Kyai Kobul. Tak ada yang bisa dilakukan oleh mereka selain menunggu datangnya hari penyelenggaraan yang tinggal kedipan mata.

Emak Sajidin juga tak bisa berbuat banyak. Sudah ratusan kali dia menerima ucapan prihatin dari warga dusun, meminta agar disampaikan kepada Sajidin supaya pemuda itu menyabarkan hati dan lain sebagainya. Emak Sajidin cuma bisa mengangguk dan menahan haru. Anak lelakinya sudah jadi lain disebabkan patah hati. Di rumah tak lagi banyak cakapnya. Makan juga tak tentu waktu. Ibadahnya berkurang. Melamunnya yang tambah.

Malam terakhir menjelang ijab qobul. Sajidin gelisah. Besok pagi kekasih hatinya akan dimiliki oleh lelaki lain yang bahkan tak pernah bercakap dengan Marianti. Cinta macam apa ini? Sajidin menggebrak meja. Hilang sudah santunnya yang selama ini terpelihara dengan baik. Kebencian tumbuh seumpama semak belukar yang merajalela menjadi hutan. Akal sehatnya sedikit demi sedikit susut. Sajidin tak bisa menerima peristiwa yang akan terjadi esok hari. Dalam hatinya, ia juga yakin jikalau Marianti juga demikian. Maka tak bisa tidak. Sesuatu harus dia lakukan demi menyelamatkan cinta yang sudah terlanjur diikrarkan.

Sajidin menyelinap keluar rumah. Emosinya memuncak. Tujuannya sudah jelas dan niat sudah bulat. Malam ini atau tidak sama sekali. Marianti harus berhasil dia temui.

***

Malam sudah sangat larut. Sajidin pulang ke rumah. Emaknya membukakan pintu dengan mata terbelalak. Wajah Sajidin yang sayu dan nyata benar kehilangan semangat hidup, kini berdiri di ambang pintu dengan pakaian yang penuh darah. Sebilah golok terselip di pinggangnya. Bau anyir darah kering segera menguar ke seluruh penjuru ruang.

“Dari mana kau, Din? Dan... kenapa bajumu penuh darah?” emak melempar tanya yang tak dijawab oleh Sajidin. Matanya mengikuti tubuh Sajidin yang masuk tanpa mengucap salam sebagaimana biasanya.

“Minggu depan pinangkan Marianti untukku, Mak.”

“Sudah gila, kau? Besok pagi Marianti akan menikah. Dan kau...”

“Mak, pinangkan Marianti untukku. Minggu depan. Aku mohon, Mak. Aku tadi ketemu dengan Marianti. Dia tidak mencintai Munawir. Dia mencintai aku, Mak.” Sajidin memenggal ucapan emak sekenanya.

“Bajumu itu?”

Sajidin memandangi bajunya yang penuh dengan bercak darah, “Aku habis dari rumah jagal, Mak. Sudahlah, Emak jangan banyak tanya lagi. Aku ngantuk. Dan jangan lupa, Mak, pinangkan Marianti untukku. Minggu depan.”

***

Pagi menjelang ijab qobul, pesantren geger lantaran Ustadz Munawir ditemukan oleh salah satu santri yang hendak menimba air, tewas di kolam belakang gedung asrama santri. Kepalanya pecah. Perut terkoyak oleh benda tajam dan segala macam isi perut yang terburai berantakan.

Diberi kabar akan hal tersebut oleh emaknya, Sajidin segera berbenah lantas berlari sesegera mungkin menuju pesantren. Wajahnya masih sayu. Bibirnya pucat seolah menahan kesedihan yang sangat. Warga dusun yang melihat keadaan Sajidin ini segera memberikan sanjung. Betapa tidak. Pemuda yang sudah dilukai hatinya ini masih terlihat santun dan bersedih saat lelaki yang telah ‘merampas’ kekasihnya tewas secara mengenaskan.

Sajidin tak berbuat apa-apa. Dia dan beberapa warga hanya mematung di depan rumah Kyai Kobul. Nun, di depan mata, persis di balik jendela, seorang perempuan jelita mengintip malu-malu. Mencuri tatap. Melempar senyum. Sajidin tahu betul makna senyum Marianti kali ini. Senyum yang penuh rahasia. Begitu keduanya saling bertemu tatap, anggukkan penuh makna segera mereka berikan satu sama lain.

Sajidin kembali terlihat sayu. Kembali turut berduka. Di dalam hatinya punya niat baik; ia akan turut serta memandikan dan mengkafani jenazah Ustadz Munawir. Begitu jenazah dibawa ke kota untuk dimakamkan, Sajidin akan segera pulang. Dia ingat kalau baju dan celananya yang berlumur darah belum dia cuci. Goloknya juga. Orang yang jeli tentu akan bisa membedakan mana bau darah sapi, mana bau darah manusia. Orang yang jeli itu, misalnya; emaknya.

Mempawah, Juni 2018  



Kakanda Redi Menulis cerita pendek, novel. Cerita anak, juga sajak. Bergiat secara aktif di Forum Sastra Kalimantan Barat. Tulisan-tulisannya tersebar di beberapa media lokal, nasional, juga beberapa media online. Bukuterbarunyaadalahbukukumpulanceritapendek yang berjudulTentangSebuahJatuhCintakepadaJatuhCintaItuSendiri (Enggang Media, Juli 2018). Saat ini berdomisili di Kabupaten  Mempawah, Kalimantan Barat.