Diare Marak, Pemkab Sekadau Tetapkan Status KLB

Sekadau

Editor Kiwi Dibaca : 870

Diare Marak, Pemkab Sekadau Tetapkan Status KLB
ilustrasi
SEKADAU, SP - Kejadian Luar Biasa (KLB) terhadap kasus diare telah ditetapkan oleh pemerintah Kabupaten Sekadau. Hal itu menyusul maraknya warga yang menderita penyakit tersebut dalam beberapa waktu terakhir. Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Sekadau mencatat hingga saat ini sudah terjadi 282 kasus diare di sejumlah wilayah di Bumi Lawang Kuari.

Kepala Bidang Perencanaan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Sekadau, Anjas Asmara mengatakan, status KLB tersebut ditetapkan menyusul meningkatnya kasus diare. Ia mengatakan, berdasarkan hasil sampel telah diambil oleh tim dari Pontianak beberapa waktu lalu menyatakan bahwa yang diambil dari depot negatif.

Menurut dia kasus diare terbanyak terjadi di tiga kecamatan, yaitu Nanga Taman, Sekadau Hulu dan Sekadau Hilir. “Sampel dari depot-depot air minum itu negatif, dari bak penampungan juga negatif. Kami masih menunggu keluarnya hasil uji laboratorium dari pusat, mudah-mudahan dalam waktu dekat hasilnya keluar,” kata Anjas, Senin (17/7).

Dimungkinkan terjadinya diare tersebut karena virus. Untuk itu, pihaknya tetap mengimbau kepada masyarakat agar selalu menjaga Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta menjaga kebersihan makanan. “Dari 282 kasus tersebut tidak ada korban. Jumlah itu yang dirawat belum lagi yang melakukan rawat jalan,” ucapnya.

“Untuk status KLB diare. Jika jumlahnya terus menurun atau hilang, status KLB tersebut bisa dicabut,” imbuhnya. Anjas mengatakan, pihaknya terus mengawasi dari sisi kesehatan air minum dan depot-depot pengisian air minum di Kabupaten Sekadau. Namun sayangnya banyak depot-depot yang terindikasi belum memiliki izin.

“Kami sudah mengimbau dan mendorong agar membuat izin, skalanya memang rumah tangga. Namun, kami terus melakukan pengawasan,” tegasnya. Sementara itu, Sekretaris Komisi III DPRD Kabupaten Sekadau, Teguh Arif Hardianto mengatakan, Dinas Kesehatan harus bekerja ekstra dan bersinergi dengan instansi lainnya untuk mencegah kasus KLB diare tidak terjadi kembali.

Ia menilai, perlunya memberikan pemahaman kepada masyarakat untuk menjaga kebersihan dan perilaku hidup bersih dan sehat. Misalnya mengubah kebiasaan masyarakat agar tidak lagi membuang sampah, buang air besar di sungai. Mungkin masyarakat dalam membuat jamban atau water closed pribadi dananya terbatas, pemerintah bisa membantu memprogramkan seperti Mandi Cuci Kakus (MCK).

Dengan begitu, pencemaran air sungai bisa terjaga kebersihannya. Untuk mengubah kebiasaaan tentunya memerlukan waktu yang tidak singkat. Namun, pemerintah perlu memberikan pemahaman kepada masyarakat dengan didorong sarana dan prasana pendukung. Politisi Partai Nasdem itu juga meminta agar dinas terkait lebih mengontrol depot-depot pengisian air minum. Maka dinas harus melakukan pembinaan dan proaktif melakukan jemput bola.

“Harus berkesinambungan lakukan pembinaan. Banyak pengusaha baru belajar berusaha, sehingga petugas harus jemput bola jangan sampai bisa memicu penyakit diare,” pintanya. (akh/ang)

Komentar