Selasa, 17 September 2019


DBD Renggut Satu Nyawa di Sekadau, RSUD Tangani 42 Pasien

Editor:

kurniawan bernhard

    |     Pembaca: 211
DBD Renggut Satu Nyawa di Sekadau, RSUD Tangani 42 Pasien

FOGGING - Petugas fogging Dinkes Sekadau dan warga Dusun Senuruk, Desa Sungai Ringin saat melakukan fogging untuk mencegah penyerbaran penyakit DBD. (SP/Akhmal)

Kabid Pelayanan dan Penunjang Medik RSUD Sekadau, Slamet
“Pasien yang meninggal dunia pada bulan Juni itu, perempuan berusia 44 tahun dari Tinting Boyok, Kecamatan Sekadau Hulu.”

SEKADAU, SP -  Sejak Juni 2018 hingga saat ini Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sekadau menangani 42 pasien demam berdarah dengue (DBD), satu pasien meninggal dunia.

Kepala Bidang Pelayanan dan Penunjang Medik RSUD Sekadau, Slamet mengungkapkan, sepanjang Juni 2018, pihaknya menangani sebanyak 39 pasien DBD. Dari 39 pasien tersebut, satu diantaranya meninggal dunia. Awal Juli 2018, pihaknya kembali menangani tiga pasien DBD, dua pasien masih dirawat secara intensif.

“Pasien yang meninggal dunia pada Juni itu, perempuan berusia 44 tahun dari Tinting Boyok, Kecamatan Sekadau Hulu,” ujar Slamet di Sekadau, Rabu (4/7).

Slamet memaparkan, 39 pasien DBD pada Juni 2018 lalu, tersebar pada beberapa kecamatan di Sekadau. Diantaranya, dari Kecamatan Sekadau Hilir sebanyak 18 orang, Sekadau Hulu sebanyak 19 orang, dan Nanga Mahap sebanyak dua orang.

"Pada awal Juli ini, satu pasien dari Kecamatan Sekadau Hilir dan dua pasien dari Sekadau Hulu. Sebagian besar pasien DBD adalah anak-anak," papar Slamet.

Ia mengimbau kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Langkah pencegahan DBD yang bisa dilakukan masyarakat, dengan gerakan 3 M Plus. Yakni, menutup dan menguras tempat penampungan air, serta mengubur atau mendaur ulang barang bekas.

“Jadi, intinya masyarakat harus menjaga kebersihan dilingkungan rumah masing-masing,” pesannya.

Selain itu, Slamet juga mengingatkan masyarakat, bila ada anggota keluarganya yang menunjukan gejala demam agar dibawa ke pelayanan kesehatan terdekat. Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan DBD atau bukan. 

“Bisa dibawa ke Pustu, Puskemas atau rumah sakit,” kata dia.
 
Diberitakan sebelumnya, belasan warga Dusun Senuruk, Desa Sungai Ringin, Kecamatan Sekadau terserang demam berdarah dengue (DBD).
 
Kepala Dusun Senuruk, Fincensius Hardi menuturkan, hingga saat ini warga Dusun Senuruk yang terserang DBD mencapai belasan orang. Hal ini pun terjadi secara berturut-turut selama beberapa hari terakhir ini, khususnya menyerang warga RT 016 dan 017.

“Ada 11 orang yang terkena DBD di kampung kami. DBD tidak hanya terkena pada anak-anak, yang  dewasa hingga yang sudah tua juga kena,” ujar Fincensius Hardi.

Seorang  warga Sekadau, Ratna mengatakan, melihat semakin maraknya DBD di Sekadau membuatnya khawatir DBD semakin menyebar. 

"Kalau sudah begini,  saya takut terjadi pada anak-anak kita, jangan sampai itu terjadi. Saya sangat setuju dengan adanya gerakan tidur pakai kelambu," ujar Ratna.

Sebagai orangtua, kata Ratna, ia harus waspada dengan datangnya penyakit DBD, terlebih DBD dapat menyerang siapa saja atau tak mengenal usia. Ia berharap, Pemerintah Daerah Sekadau, khususnya Dinas Kesehatan Sekadau, sigap dan cepat, melakukan penanganan jika terjadi DBD.

"Penyakit ini sangat bahaya, kalau sudah kena akibatnya bisa merenggut nyawa seseorang," pungkasnya. (akh/jek)

Dinkes Bentuk Tim Jumantik 

Sekretaris Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Sekadau, Aloysius Ashari membenarkan adanya pasien DBD yang meninggal dunia. Pihaknya berupaya melakukan berbagai cara, agar kasus DBD di Sekadau bisa diminimalisir. Satu diantaranya dengan membentuk tim juru pemantau jentik (Jumantik).

“DBD ini musiman, kami sudah membentuk tim Jumantik  dan memberikan imbauan kepada masyarakat untuk melakukan 3M Plus,” tuturnya.

Ia menambahkan, untuk fogging merupakan langkah terakhir yang dilakukan. Namun, yang terpenting adanya  kesadaran masyarakat untuk mencegah terjadinya DBD. Upaya yang bisa dilakukan masyarakat, yaitu membuang sampah pada tempatnya dan menjaga kebersihan lingkungan dan abatesasi.

“Kami juga mengimbau masyarakat agar tidur menggunakan kelambu,” pungkasnya. (akh/jek)