Pembunuhan di Peniti, Motifnya Sakit Hati

Sekadau

Editor Angga Haksoro Dibaca : 537

Pembunuhan di Peniti, Motifnya Sakit Hati
Sekadau, SP - Tim gabungan Polres Sekadau dan Polda Kalimantan Barat membekuk tersangka  pembunuhan Supinah (48 tahun) warga Dusun Peniti, Desa Peniti, Kecamatan Sekadau Hilir. Tersangka Suheri (26 tahun) ditangkap di  Mandor, Kabupaten Landak, Rabu (3/10) malam.

Suheri adalah tetangga korban di Desa Semanggis Raya, Kecamatan Mukok, Kabupaten Sekadau. Pelaku dan keluarga korban saling kenal.

Kapolres Sekadau, AKBP Anggon Salazar Tarmizi mengatakan tersangka mengakui perbuatannya. Namun untuk memastikan terjadinya tindak kejahatan, polisi akan melakukan gelar perkara.

“Kami tidak mau hanya berdasarkan pengakuan yang bersangkutan. Pasal 184 tidak ada nilainya jika hanya pengakuan yang bersangkutan,” ujar Anggon, Kamis (4/10).

Menurut Anggon, gelar perkara juga dibutuhkan sebagai dasar menerbitkan surat pemberitahuan dimulainya penyidikan (SPDP), dan memeriksa  para saksi. Polisi juga akan mengembalikan kalung milik korban yang diitemukan di tangan tersangka.

“Karena kalungnya itu ditemukan dari terduga pelaku saat diamankan di Mandor oleh tim gabungan Polres Sekadau dan Polda Kalbar,” kata Anggon yang didampingi Kasat Reskrim Polres Sekadau, Iptu M Ginting.

Polisi akan memeriksa sampel rambut diduga milik korban yang ditemukan di gagang cangkul. Polisi juga akan mencocokan contoh darah di baju tersangka dengan darah korban yang menempel di batal di tempat kejadian perkara.

“Kami juga memeriksa saksi diseputar TKP. Yang mana terduga pelaku duduk di warung dan sempat dipanggil (korban). Dalam waktu singkat kami akan melakukan rekonstruksi untuk memperkuat bukti,” ujar Anggon.

Anggon menjelaskan, motif pembunuhan karena emosi sesaat. Tersangka tersinggung dimaki dengan kata-kata kasar.

“Unsur utamanya dendam. Setelah penganiayaan, terduga sempat mengambil barang seperti kalung dan dompet. Sementara kami terapkan Pasal 338, tapi nanti dilihat perkembangan dalam penyidikan.”

Sebelum terjadi pembunuhan, Suheri mengaku akan meminjam uang kepada temannya yang tinggal tak jauh dari SMA 5. Namun, temannya tersebut tidak berada di rumah. Suheri kemudian dipanggil  korban dan sempat mengobrol di ruang tamu sekitar setengah jam.

Tidak hanya disuguhi kopi, korban juga sempat menawarkan makan. Saat berjalan ke dapur korban mengomel. “Saya langsung keluar tanpa pamitan. Dia (korban) sempat manggil dan masih bilang anjing-anjing. Anjing jangan nyasar lagi. Jangan ngembat anaknya orang,” kata Suheri menirukan ucapan korban.