Fokmas Minta Pemkab Evaluasi

Sekadau

Editor elgiants Dibaca : 83

Fokmas Minta Pemkab Evaluasi
Wasekum PSDM Forum Komunikasi Mahasiswa Kabupaten Sekadau, Muhammad Fajri
Satu unit ferry KMP Saluang penyeberangan Sungai Asam–Sunyat, Kecamatan Belitang Hilir terbalik, Senin (22/4) malam sekitar pul 19.45 WIB. Ferry KMP Saluang membawa sejumlah muatan berupa kendaraan roda empat termasuk truk. 

Satu orang dilarikan ke rumah sakit dalam peristiwa tersebut, kendati tidak ada korban jiwa namun setidaknya 5 unit truk, 1 unit dum truk, 1 mobil box dan 1 unit mobil innova turut serta terbalik bersama kapal nahas itu.

Lutfi, salah seorang supir truck korban terbaliknya ferry KMP Saluang menuturkan, saat kejadian ferry sempat sudah meninggalkan dermaga Sunyat. Lantaran, kondisi kapal yang tidak stabil nakhoda kapal memutuskan kembali ke dermaga.

“Ini karena tidak seimbang muatannya. Semua delapan kendaraan. Kapal sudah sempat jalan, nakhodanya bilang tidak stabil sebelah kiri dan kembali ke dermaga,” ujarnya.

Tiba di dermaga, posisi kapal semakin miring kebagian kiri hingga akhirnya terbalik. Lutfi mengatakan, saat kejadian dirinya sempat menyelamatkan diri keluar dari ferry dan naik ke dermaga. Lutfi sendiri membawa besi dengan tujuan Pontianak dan muatan yang ia bawa ikut tenggelam.

Peristiwa terbaliknya ferry KMP Saluang menjadi perhatian Muhammad Fajri, Wasekum PSDM Forum Komunikasi Mahasiswa Kabupaten Sekadau ini mengaku prihatin. Ia menyebut peristiwa kecelakaan di penyebrangan Sungai Asam sudah kali kedua terjadi sejak beroperasi Januari 2019.

“Kecelakaan yang terjadi di pelabuhan penyeberangan  feri Sungai Asam, Kecamatan Belitang Hilir, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat terhitung sudah ke dua kali setelah resmi beroperasi Januari 2019,” ujar Fajri Selasa (23/4).

Fajri menilai ada beberapa hal yang janggal dalam proses pengoperasian ferry yang ada di penyebrangan tersebut dan ini dianggap menjadi pemicu terjadi peristiwa terbaliknya KMP Saluang.

“Terdapat beberapa kejanggalan setelah melihat pengoperasian ferry tersebut karena mobil harus masuk dengan cara mundur yang pada umumnya ferry menggunakan dua pintu masuk dan keluar sehingga mempermudah proses bongkar muat kendaraan dan mengurangi resiko kecelakaan,” tuturnya.

Kecelakaan yang terjadi mesti sebut Fajri mesti menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah Kabupaten Sekadau dan Dinas Perhubungan Kabupaten Sekadau atas keamanan atau safety dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

“Standarisasi Keamanan harus menjadi prioritas dalam pengoperasian feri tersebut, kita tidak mengingingkan terjadinya kecelakaan serupa di kemudian hari apa lagi sampai menimbulkan korban jiwa,” katanya. (nak)