Bupati Himbau Antisipati Karhutla

Sekadau

Editor elgiants Dibaca : 164

Bupati Himbau Antisipati  Karhutla
KARHUTLA - Kapolres Sanggau, AKBP Imam Riyadi dan Dandim 1204/Sanggau, Letkol Inf Gede Setiawan saat berupaya memadamkan api di kebun sawit milik PT.SJAL II, Selasa (2/7).
SEKADAU, SP - Pemerintah terus berupaya untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), mengingat dampak yang ditimbulkan akibat karhutla sangat besar. Maka Bupati Sekadau Rupinus, mengatakan beberapa waktu lalu telah diraksanakan rapat koordinasi di tingkat provinsi yang digelar oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)

"Rapat yang diikuti oleh seluruh kepala daerah serta instansi terkait lainnya di Kalbar tersebut membahas tentang antisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Apalagi Kalbar masuk kategori rawan bencana karhutla," ujarnya, Rabu (3/7)

Rupinus mengatakan pemerintah daerah Kabupaten Sekadau membuat SK satgas penanganan bencana dan SK penentuan status darurat bencana. Terlebih diakuinya saat ini akan memasuki musim kemarau.  

"Pada musim tersebut bukan tidak mungkin aktivitas pertanian dan perkebunan akan meningkat. Sehingga pemerintah daerah Kabupaten Sekadau akan membentuk tim bersama dinas terkait serta Forkopimda Kabupaten Sekadau," ungkapnya. 

Ia menegaskan Pemerintah akan terus mengantisipasi agar tidak terjadi karhutla di Kabupaten Sekadau. Nantinya, menurut dia tim akan melakukan rapat untuk mengambil langkah-langkah dalam mengantisipasi terjadinya Karhutla. 

"Selain itu sosialisasi akan terus dilakukan serta tetap memperhatikan kearifan lokal ditengah masyarakat. Langkah tersebut dilakukan seperti tahun-tahun sebelumnya, bahkan langkah tersebut cukup berhasil dalam menekan karhutla khususnya di Kabupaten Sekadau," pungkasnya.

Usman salah seorang petani di Desa Sungai Ringin mengaku cukup kerepotan bila harus melapor saat akan membakar lahan. Namun kata Usman, aturan tersebut haruslah dipatuhi dan diikuti, Ia mengataka, dengan adanya aturan yang dibuat oleh Forkopimda tentunya dibuat untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

"berdasarkan pengalamannya sebagai langkah antisipasi biasanya lahan yang hendak dibakar dibuat pembatas dengan lahan disekitarnya, pembatas tersebut bahkan digali dan jaraknya dengan lahan di dekat nya berkisar 3-7 meter,"ungkapnya. 

Usman mengatakan, langkah tersebut dilakukan agar api tidak merembet ke lahan yang berada disekitarnya, dirinya mengaku,  selama berladang api yang dibakar di lahannya tak pernah merembet ke lahan sekitar.

Sementara itu di Sanggau sekitar 3 hektar kebun sawit milik PT Sumatera Jaya Agro Lestari (PT.SJAL) II di Dusun Remba Kedodok, Desa Subah, Kecamatan Tayan Hilir, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat terbakar pada Minggu (30/6). Hingga saat ini, polisi masih mendalami penyebab kebakaran di lahan gambut kering tersebut.

“(Penyebab) masih kita dalami. Kondisi terakhir api sudah terkendali dan dipastikan padam,” kata Kapolres Sanggau, AKBP Imam Riyadi melalui pesan WhatsApp, Rabu (3/7).

Ia menjelaskan, lahan yang terbakar tersebut adalah area kebun PT.SJAL II dengan usia sawit kurang
lebih 4 tahun atau buah pasir, dengan luas kurang lebih 3 hektar. “Kondisi lahan yang terbakar itu gambut kering mudah terbakar,” terang Imam.

Kapolres membeberkan, awal mula kebakaran diketahui salah seorang karyawan perusahaan tersebut pada Minggu, 30 Juni 2019 sekitar pukul 15.00 Wib. “Awal kebakaran terjadi di area kebun PT. SJAL II blok N 19 di Dusun Remba Kedodok, Desa Subah. Saat itu, pimpinan perusahaan tersebut langsung melakukan upaya pemadaman dengan alat damkar bersama karyawan borongan, staf dan unsur pimpinan PT.SJAL lainnya,” katanya.

Keesokan hari ini, sekitar pukul 04.00, lanjut Imam, diperoleh keterangan dari salah seorang karyawan perusahaan tersebut bahwa kebakaran di Blok N 19 sudah dapat dikendalikan, api padam namun masih terlihat asap. 

“Namun sekitar pukul 10.00 Wib, diketahui dari Tower Pantau Karhutla, api kembali nyala dan meluas sampai ke blok lain. Yaitu blok R 01, blok R 02, dan blok M 13,” ungkapnya.

Melihat kebakaran yang meluas tersebut, menurut Kapolres, pihak perusahaan berupaya memadamkan api menggunakan 10 set mesin 2 PK, 4 unit excavator, dibantu 1 set mesin PK milik Polsek Tayan Hilir, 1 set mesin 2 PK milik Polres Sanggau dan 1 set mesin 2 PK milik Mangala Agni. 

“Kurang lebih 100 karyawan borongan, staf dan unsur pimpinan diploting untuk melakukan upaya pemadaman dan penyekatan atau isolasi,” tutur Imam. 

Untuk memastikan api benar-benar padam, pada Selasa, 2 Juli 2019, Kapolres Sanggau didampingi Kasat Shabara, KBO Reskrim, Kanit 1 Unit Reskrim, Tim Inafis bersama anggota turun ke lokasi. Jajaran Kodim 1204/Sanggau yang dipimpin Dandim 1204/Sanggau, Letkol Inf Gede Setiawan juga ikut turun langsung ke lokasi.

Sementara itu, Divisi Manager PT. SJAL II, Haryono mengaku belum mengetahui penyebab timbulnya titik api di area kebun tersebut. “Kita belum tahu,” jawabnya singkat. (jul/nak)

Masyarakat dan Perusahaan Diminta Waspada

Anggota DPRD Sekadau Subandrio mengatakan, pihaknya mendukung upaya yang dilakukan Pemkab dan Masyarakat dalam upaya antisipasi terhadap karhutla di sekadau. 

"Kita dukung terhadap langkah tersebut, apalagi saat ini jarang terjadi hujan, kemungkinan terjadi karhutla tidak dapat diprediksi, namun demikian harus tetap waspada," katanya. 

Politisi Nadem ini menyampaikan, memang ada beberapa wilayah di Sekadau sering terjadi Karhutla, tetapi mulai dari tingkat perangkat desa, Babinsa, Bhabinkamtibmas, lembaga kemasyarakatan desa dan atau organisasi kepemudaan di desa harus bersinergis peduli terhadap lingkungan. 

"Jadi, semua bergerak dan antisipatif terutama di wilayah sering terjadi karhutla, harus tetap stanby dan bila perlu adanya ronda malam dan sering mengecek ke lapangam untuk memastikan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, "pungkasnya. 

Sementara itu terhadap upaya penyelidikan yang dilakukan pihak Polres Sanggau mendalamai kasus kebakaran di lahan milik PT.SJAL, Wakil Ketua LSM Citra Hanura Kabupaten Sanggau, Abdul Rahim mendukung langkah tersebut.

“Perlu pendalaman dari mana asal usul api yang menyebabkan kebakaran tersebut. Apakah karena kelalaian atau ada indikasi lain, sehingga jelas apa yang menjadi penyebab kebakaran tersebut,” ujarnya, Rabu (3/7).

Rahim mengaku prihatin dengan kejadian tersebut. “Ini merupakan pelajaran bagi perusahaan untuk lebih berhati-hati dalam tata kelola penanganan kebakaran, serta merencanakan strategi dalam pencegahan kebakaran. Apalagi di lahan gambut, harusnya dibuat kanal-kanal peyangga, karena kita tahu gambut mudah terbakar,” tutupnya. (jul/nak)